SMart City UI: Identifikasi Keterlibatan Perguruan Tinggi Dalam Ekosistem Inovasi Pertanian Jawa Barat

DEPOK – Dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan menjadikan pertanian Indonesia maju dan berkelanjutan, butuh peran dari berbagai pihak, salah satunya adalah perguruan tinggi. Universitas Indonesia (UI) melalui Scientific Modeling, Application, Research, and Training for City-centered Innovation and Technology Universitas Indonesia (SMART CITY UI) bekerja sama dengan University of Notre Dame (UND) Amerika Serikat melaksanakan penelitian berjudul Supporting Holistic and Actionable Research in Education (SHARE) sejak 2022 dengan dukungan pendanaan dari USAID (United States of America International Development).

SHARE memiliki dua prioritas penelitian dalam studi berjudul Higher Education Institutions Generating Holistic and Transformative Solutions (HEIGHTS) tentang ekosistem inovasi dan keberlanjutan keuangan di perguruan tinggi di Indonesia. Melalui studi ekosistem inovasi, SHARE bertujuan untuk memahami dan menganalis keterlibatan Perguruan Tinggi dalam ekosistem inovasi di bidang pertanian di Jawa Barat.

Sebelumnya, tim peneliti SMART CITY mengadakan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) dengan menghadirkan narasumber dari berbagai institusi, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, organisasi nirlaba, dan pihak swasta. Di antaranya adalah Direktorat Pangan dan Pertanian Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Zulfandi; Business Sustainability Manager Sygenta, Mirna Mutiara; Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Sc., Agr.; Guru Besar Universitas Pasundan, Prof. Dr. Ir. Wisnu Cahyadi, M.Si.; Manager of Business Innovation and Incubation, Directorate of Bandung Techno Park, Telkom University, Nungki Selviandro, Ph.D.

BACA JUGA:  Mahasiswa Kesehatan UI, Ajak Lansia binaan Rumah Zakat Tebak kata dan Lagu di Ratu Jaya

Pada sambutan yang disampaikan saat pembukaan FGD, Ketua Tim Peneliti SMART CITY UI, Ahmad Gamal, S.Ars., M.Si., M.U.P., Ph.D., mengatakan, “Pertanian ini hanya sebagai domain, fokus dari diskusi ini adalah melihat bagaimana keterlibatan Perguruan Tinggi dalam ekosistem inovasi, dalam hal ini kami melimitasi dengan Jawa Barat karena banyaknya paper terkait inovasi di wilayah Jawa Barat.”

Kegiatan FGD ini dilakukan sebanyak empat kali, mulai dari 10 hingga 11 Januari 2023 dan dilanjutkan pada 24 sampai 25 Januari 2023 di Swissbell-resort Dago Heritage, Bandung, Jawa Barat. Dalam diskusi tersebut, para peserta menekankan bahwa perguruan tinggi perlu bertindak sebagai perantara atau hub yang menghubungkan setiap stakeholders dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia peneliti pada perguruan tinggi.

BACA JUGA:  “Kontroversi SEMA Nomor 3 Tahun 2023”

Selain itu, perlu adanya peningkatan hubungan atau kerja sama jangka panjang dengan pemerintah lokal sebagai informan, pendorong atau penghubung inovasi dari peneliti non-entitas, seperti masyarakat umum, praktisi, sektor swasta, dan industri atau pelaku pasar sebagai informan dan pembina agar inovasi dapat dikontekstualisasikan sesuai kebutuhan. Sementara itu, peran pemerintah juga perlu ditingkatkan sebagai regulator dan fasilitator. Pemerintah perlu perlu menyusun regulasi dalam menfasilitasi hubungan yang timbal balik, menyatukan para pemangku kepentingan dalam satu aktivitas, dan mengatur agar penghasil dan pengguna dapat berkolaborasi.

BACA JUGA:  Klarifikasi Isu Uang Pangkal, Rektor UGM Dialog dengan Mahasiswa

Lebih lanjut, pemerintah juga diharapkan aktif dalam membuat program yang dapat menambah daya tarik secara ekonomi untuk bidang pertanian dan menarik para pemuda untuk terjun ke dunia pertanian dengan mengembangkan berbagai inovasi. Ditambah, wilayah pertanian di Jawa Barat sudah banyak mengukuhkannya dalam Peraturan Daerah, seperti Lahan Pangan Pertanian Berkelanjutan (LP2B) dan LSD (Lahan Sawah Dilindungi).

Di masa depan, diharapakan perguruan tinggi dapat mengembangkan produk inovasi yang menghasilkan kebermanfaatan dalam masyarakat yang juga selaras dengan permintaan pasar (swasta dan industri). Peran perguruan tinggi bukan saja menghasilkan inovasi tetapi juga bisa memastikan bahwa inovasi tersebut dapat diterima oleh pasar dan diimplementasikan dengan baik di masyarakat, terutama oleh end-user, yaitu petani. “Kami harap akan semakin banyak acara-acara diskusi seperti ini ke depannya, yang tidak hanya berdiskusi tapi juga memberikan solusi dan aksi nyata,” kata Nungki.

Pos terkait