Solusi dalam Mengatasi Risiko Keuangan Keluarga

 

Pada masa teknologi yang semakin maju saat ini tentu dapat memudahkan manusia dalam beinteraksi dan bertransaksi. Bagaimana tidak? dalam bertransaksi saja dapat dilakukan di mana pun jika handphone yang kita gunakan terdapat mobile banking. Namun apa yang terjadi saat ini? Kondisi saat ini di masyarakat dalam pengelolaan keuangan keluarga masih belum baik. Masyarakat jadi begitu sangat konsumtif, oleh karena itu perlu pengelolaan keuangan dengan baik. Kasus perceraian di Indonesia mencapai 516.334 kasus, berdasarkan laporan Statistik Indonesia tahun 2022. Lalu sebesar 22% terjadi karena masalah ekonomi. Menurut situasi masyarakat saat ini dalam pengolaan keluarga belum baik ditandai dengan tidak adanya dana darurat, pinjaman online, persiapan dana pendidikan yang kurang, serta ekonomi juga dapat menjadi faktor dalam perceraian di Indonesia. Dalam pengelolaan keuangan individu memerlukan manajemen yang baik, terlebih jika dalam sebuah keluarga sebagai pengelola keuangan keluarga perlu merencakan dan mengalokasikan dengan baik harta yang ada.

Seorang istri pun dapat bekerja membantu suami dalam ekonomi keluarganya. Namun sebelumnya memang perlu kesepakatan dari kedua belah pihak. Apakah seorang istri tersebut diperbolehkan dalam bekerja? Apakah dalam bekerja nanti seorang istri tersebut tidak mengabaikan tanggungjawabnya sebagai istri? dan lainnya pasti semua itu menjadi catatan seorang istri juga yang ingin membantu perekonomian keluarga tetapi tidak juga melupakan tugas dan kewajibannya.

Menurut terdapat beberapa tipe dalam pengelolaan keuangan keluarga pertama, penghasilan suami yang 100% utuh untuk keluarga, dikelola bersama dengan istri. Kedua, penghasilan suami dan istri yang digabungkan, 100% harta tersebut untuk keluarga. Ketiga, penghasilan suami dengan persentase 50-80% tersebut untuk keluarga, sisanya akan disimpan atau dikelola oleh suami itu sendiri. Keempat, 50% penghasilan suami untuk kebutuhan ABC (misal: belanja bulanan, uang sekolah, tagihan listrik) lalu 50% penghasilan istri untuk kebutuhan DEF (misal: transport, gaji ART, hiburan). Kelima, penghasilan suami 100% yang dikelola suami, seorang istri hanya tahu beres saja.

BACA JUGA:  Dampak Ekspor dan Impor pada Ketahanan Ekonomi Indonesia

Memang dalam pengelolaan keuangan keluarga ini tidak hanya istri tetapi seorang suami pun ikut andil dari sini pun tentunya komunikasi seorang suami dan istri perlu dibangun dengan baik. Islam pun sudah mengatur terkait pengelolaan keuangan keluarga ini agar kita dapat memanfatkan harta dengan baik sebagai bentuk ikhtiar dalam memanajemen risiko yang mungkin akan kita terima karena kesalahan dalam mengelolaan harta. Terdapat ayat dalam Al-Qur’an yang menjadi referensi dalam pengelolaan harta.

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan : 67)

Dari ayat tersebut dapat kita pelajari dalam mengelola harta perlu bersikap wajar, tidaklah berlebihan dan tidak pula pelit dalam menggunakan harta tersebut. Jika dalam Islam seorang istri mempunyai kewajiban dalam menjaga harta suaminya, tak hanya sekedar menjaga tetapi juga mengelolanya. Lalu bagaimana solusi dalam mengelola harta? Menurut pertama, anggaran rumah tangga dibuat. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan adanya sebuah perencanaan. Dalam hal ini membuat perencaan untuk anggaran rumah tangga agar terwujudnya kesimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Dicatat pula sebuah batasan dari pengeluaran tersebut, sehingga tidak melebihi dari sumber pendapatan yang diterima. Kedua, membelajakan sesuai dengan kebutuhan. Memang dalam setiap individu bahkan keluarga memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, tidak dapat disamakan dengan yang lain. Misal: cicilan hutang, belanja harian/bulanan, internet, listrik, biaya sekolah anak, atau transportasi. Seperti yang kita ketahui dalam kebutuhan itu terbagi menjadi tiga: kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Sesuai dengan tingkatannya dalam membelanjakan kebutuhan pun demikian. Mana saja yang termasuk kebutuhan primer tidak bisa disingkirkan dengan kebutuhan lainnya, harus dipenuhi. Lalu kebutuhan sekunder yang jika tidak terpenuhi pula dapat menimbulkan kesulitan, Dan kebutuhan tersier yang tidak harus dipenuhi dari kedua kebutuhan sebelumnya. Ketiga, berupaya menahan diri berbelanja hal yang tidak mendesak. Dalam hal ini jika ada beberapa kebutuhan di rumah yang tidaklah mendesak masih didapatkan dengan cara meminjam, maka pinjamlah terlebih terlebih dahulu. Karena jika kita berbelanja barang tersebut dapat membengkakkan anggaran. Keempat, bijak dalam berbelanja. Berbelanja menjadi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kita, namun kita perlu bijak dalam berbelanja. Tipsnya dengan menuliskan detail barang apa yang akan kita beli, perkirakan pula harga barang tersebut. Selain itu, bawa uang sesuai dengan yang ada di daftar. Jika pun membawa uang lebih tidaklah begitu besar karena jika membawa uang yang lebih besar akan membuat nafsu kita dalam berbelanja meningkat. Dapat juga dalam berbelanja dengan harga grosir yang pastinya akan lebih murah. Kelima, barang yang masih layak dimanfaatkan. Jika masih terdapat barang-barang yang masih layak di rumah sebaiknya dimanfaatkan kembali. Jika pun ada barang yang sekiranya sudah tidak dimanfaatkan oleh anggota keluarga di rumah bisa dijual atau disumbangkan kepada yang membutuhkan. Keenam, makanan dan minuman tidak berlebihan. Mungkin kerapkali kita bertindak berlebihan (mubadzir) dalam makanan dan minuman. Nah, untuk hal ini sebaiknya jika menyiapkan makanan/minuman sesuai dengan porsinya. Jika pun sangat berlebih dapat menyedekahkan makanan tersebut kepada orang lain.

BACA JUGA:  Manajemen Risiko Stadion menurut Law of The Game FIFA

Selanjutnya kita dapat titik beratkan lagi pada perencanaan keuangan keluarga. Dalam sebuah perencanaan pasti fokusnya ke jangka pendek ataupun panjang. Jika berpendapat dalam perencanaan keuangan keluarga ini membangun rumah finansial. Seperti kita ketahui bahwa sebuah rumah ada atap, pilar dan pondasi. Pada bagian atap: perencanaan dana pensiun dan waris. Bagian pilar: manajemen risiko (asuransi kesehatan) dan investasi. Bagian utama pondasi: surplus biaya hidup, ziswaf (zakat, infak, sadaqah dan wakaf), dan dana darurat. Begitulah dalam perencaan keuangan keluarga agar kita dapat meminimalasir risiko keuangan yang akan terjadi.

BACA JUGA:  Membentuk Keluarga Sakinah dalam Pernikahan Dini

Aulia Humairoh (Mahasiswa STEI SEBI)

Pos terkait