STID M. Natsir Luluskan 129 Guru Ngaji Terbaik, Siap Berdakwah ke 3T

DEPOKPOS – Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir menggelar Sidang Terbuka Senat Akademik Wisuda Strata 1 Angkatan XIII pada Sabtu (22/7). Bertempat Auditorium Serbaguna Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Dewan Da’wah, Tambun, Bekasi, Provinsi Jawa Barat, 129 guru ngaji terbaik diwisuda dan telah purna melaksanakan tugas sebagai mahasiswa.

Acara tersebut turut dihadiri oleh pengurus Dewan Dakwah Pusat, keluarga Bapak M. Natsir Allahuyarham yang diwakili oleh anaknya, Bapak Fauzi Natsir, Wakil Koordinator Akademik Kopertais Wilayah Dua Jawa Barat, Prof. Dr. Mukhtar Solihin, M.Ag., Wakil Ketua MUI Pusat, Dr. H. Anwar Abbas, M.M., M.Ag., sebagai tamu undangan, para alumni juga orang tua wali wisudawan wisudawati.

Sidang Terbuka Senat Akademik STID Mohammad Natsir tersebut dibuka dengan pembacaan Kalam Ilahi dan sambutan oleh Rektor STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I “STID Mohammad Natsir bukanlah semata-mata pendidikan tinggi, tetapi lebih dari itu, STID Mohammad Natsir adalah kampus kaderisasi yang memang didirikan untuk mencetak kader-kader dai Ilallah,” kata Dwi Budiman dalam sambutannya.

BACA JUGA:  Pojok Statistik Universitas Brawijaya Terbaik Pertama Nasional

Dwi Budiman juga menjelaskan bahwa para wisudawan dan wisudawati ini telah dididik dalam tiga tahapan, (1) tahap pengkaderan berbasis asrama (hafalan Al-Qur’an dan hadits, ilmu dasar Islam, karakter dai) selama dua tahun, (2) tahap pengkaderan berbasis masjid (magang di masjid, penguatan ilmu prodi, kafilah dakwah) selama dua tahun, dan (3) tahap pengkaderan berbasis masyarakat (penugasan dakwah ke daerah pedalaman, perbatasan, dan kawasan tertinggal) selama dua tahun.

Para wisudawan dan wisudawati tersebut telah menjalani pengkaderan dua tahap pertama, sehingga mereka tinggal melewati tahap terakhir, yakni tugas besar berupa pengabdian dakwah ke seluruh penjuru negeri di Indonesia untuk membina umat.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) Wisudawan-wisudawati dan ikrar wisuda. Setelahnya, orasi ilmiyah disampaikan oleh Wakil Ketua MUI Pusat yang juga merupakan Dewan Pembina Dewan Dakwah, Dr. H. Anwar Abbas, M.M., M.Ag. Ia memulai orasi ilmiyahnya dengan pemaparan titik lemah umat Islam saat ini, yakni ekonomi dan politik yang sangat berpengaruh terhadap peradaban Islam dewasa ini.

BACA JUGA:  Doktor FIA-UI Ulik Persoalan Fragmentasi dalam Proses Pemerintahan Indonesia

“Memperbaiki kelemahan itu kuncinya persatuan umat, yaitu dengan menjalin silaturahmi. Oleh karena itu sering-seringlah bersilaturahmi,” papar Anwar Abbas dalam orasinya. Anwar Abbas juga berpesan pada 129 wisudawan/wisudawati yang akan terjun ke Daerah 3T (tertinggal, terbelakang, dan termiskin), agar semangat dalam berda’wah, tetaplah di jalan da’wah, dan jaga keikhlasan.

Acara berlanjut dengan pemanggilan para wisudawan/wisudawati yang berprestasi baik secara akademis juga dalam program tahfidz. Setelah penyerahan piagam untuk para wisudawan dan wisudawati yang berprestasi, acara berlanjut dengan sambutan oleh Wakil Koordinator Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Kopertais Wilayah Dua Jawa Barat, Prof. Dr. Mukhtar Solihin, M.Ag. Ia berpesan untuk para wisudawan dan wisudawati untuk memanfaatkan kemajuan teknologi pada dewasa ini dan harus terus meningkatkan soft skill yang akan membawa kita pada kesuksesan juga agar tidak digeser oleh kemampuan teknologi.

BACA JUGA:  UI Siapkan Tempat Ujian UTBK-SNBT 2023 untuk 53.293 Peserta

Sambutan lainnya dilanjutkan oleh Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Dr. H. Adian Husaini, M.Si. yang mengatakan bahwa saat ini banyak lembaga pendidikan Islam maupun umum menjadi layaknya lembaga pendidikan industrial. Para lulusannya hanya dilihat jika kesuksesannya adalah perihal keduniaan. “Setelah lulus mau jadi apa? Kalau jawabnya jadi mujahid, urusan jadi panjang,” jelas Adian.

“STID Mohammad Natsir adalah kampus yang melahirkan singa-singa yang melindungi umat, di tunggu dan dicari keberadaannya. Alumni STID M. Natsir bukan orang biasa dan lurus dijalan da’wah, mereka dikirim ke pelosok-pelosok namun mereka kuat dan tidak kelaparan,” ujar Adian.

Bukan sekedar seremonial belaka, sebab wisuda ini masih awal dari perjalanan dakwah mereka, sebagai bekal untuk melanjutkan estafet amanah berikutnya dari para donatur LAZNAS Dewan Dakwah yaitu berdakwah di tengah masyarakat pelosok negeri.

Pos terkait