Striker Arema: Delapan Orang Tewas di Depan Kami

Striker Arema: Delapan Orang Tewas di Depan Kami

DEPOK POS – Striker Arema FC, Abel Camara menceritakan kondisi saat ratusan suporter tim Singo Edan meninggal Tragedi Kanjuruhan pada Sabtu (1/10/2022) malam.

Abel menceritakan suasana di Stadion Kanjuruhan setelah pertandingan usai. Para suporter Aremania mulai memasuki lapangan dan membuat kekacauan.

Bacaan Lainnya

Sang penyerang juga menjelaskan sejumlah suporter tewas di ruang ganti, disaksikan oleh dirinya dan rekan-rekan pemain.

Diketahui, laga pekan ke-11 Liga 1 2022/2023 salah satu momen paling pilu untuk sepak bola Indonesia karena terjadinya Tragedi Kanjuruhan.

Setelah pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya, Sabtu (1/10/2022) sempat terjadi insiden yang merenggut banyak nyawa. Dilaporkan hingga kini sudah ratusan nyawa melayang dalam Tragedi Kanjuruhan tersebut.

BACA JUGA:  Tragedi Kanjuruhan, Ini Alasan Kepolisian Gunakan Gas Air Mata

Salah satu yang menjadi saksi saat pertandingan adalah striker Arema FC Abel Camara. Camara menceritakan jika sebelum pertandingan suasana di kota Malang cukup panas.

Suporter tim Singo Edan memiliki harapan besar agar mereka bisa meraih kemenangan saat melawan tim rival yakni Persebaya Surabaya.

“Ini adalah derbi yang sangat lama dan selama seminggu sudah terasa di seluruh kota bahwa itu adalah pertandingan dengan lebih dari tiga poin. Mereka bilang ini adalah permainan hidup dan mati. Bahwa kita bisa kalah di setiap pertandingan kecuali yang ini,” kata Abel Camara dilansir dari laman Maistfutebol.

Pemain asal Portugal ini menceritakan saat peluit akhir dibunyikan oleh wasit Agus Fauzan.

BACA JUGA:  Menkominfo Imbau Platform Digital Aktif Tekan Sebaran Konten Negatif Pemilu

Saat itu, pemain yang berada di lapangan memberikan gestur minta maaf kepada suporter setelah tim Singo Edan harus harus kalah dengan skor 3-2.

Beberapa suporter mulai turun ke lapangan dan pemain diarahkan masuk ke ruang ganti.

Pihak kemanan mengambil langkah dengan mulai menembakkan gas air mata untuk membubarkan masa.

Suporter yang berhamburan sempat di bawa ke ruang ganti pemain demi mendapatkan udara karena kondisi lapangan sudah penuh dengan gas air mata.

“Ada ketegangan di udara. Setelah kami kalah, kami pergi untuk meminta maaf kepada para penggemar.

“Sejak saat itu kami mulai mendengar tembakan, mendorong. Kami memiliki orang-orang di dalam ruang ganti yang terkena gas air mata dan meninggal tepat di depan kami.”

BACA JUGA:  Imbas Tragedi Kanjuruhan, Laga Klasik Persib Vs Persija Ditunda

“Kami memiliki sekitar tujuh atau delapan orang tewas di ruang ganti”, urainya.

Abel Camara menambahkan jika pemain dan staff Arema FC sempat tertahan beberapa jam di Stadion Kanjuruhan.

Setelah berhasil keluar stadion terlihat beberapa kendaraan yang terbakar.

Namun, perjalanan mereka cukup baik saat meninggalkan lokasi pertandingan.

“Kami harus tinggal di sana selama empat jam sebelum mereka berhasil mendorong semua orang menjauh.”

“Ketika kami pergi, ketika semuanya lebih tenang, ada darah, sepatu kets, pakaian di seluruh aula stadion.

“Ketika kami meninggalkan stadion dengan bus, ada mobil sipil dan yang terbakar,

tetapi kami memiliki perjalanan yang mulus ke pusat pelatihan kami, kami mengambil mobil dan pulang.”

“Sekarang kami berada di rumah, menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi,” pungkasnya.

Pos terkait