Tabarru pada Asuransi Syariah

Terkait akad pada asuransi syariah, salah satu perbedaan utama antara asuransi syariah dan konvesional terletak pada akad yang diperjanjikan. Sebagai usaha saling tolong-menolong di antara sejumlah pihak yang bergabung di dalamnya, asuransi syariah menggunakan akad tabarru’ yang menjadi unsur melekat dalam seluruh kegiatannya, beserta akad lain yang sesuai syariah selama tidak mengandung gharar, maisir, riba, aniaya (zhulm), suap (risywah), serta hal lain yang terlarang dan bersifat maksiat.

Tabarru’ secara bahasa berarti bersedekah, dalam arti yang lebih luas yaitu melakukan kebaikan tanpa syarat. Adapun secara istilah, tabarru’ diartikan mengerahkan segala upaya untuk memberikan harta atau manfaat kepada orang lain, baik secara langsung maupun nanti di masa yang akan datang tanpa adanya kompensasi dengan tujuan kebaikan dan perbuatan ihsan (Fiqih al-Muamalah, Al-Shakhr).

BACA JUGA:  Keuntungan Menggunakan Bank Syari’ah

Tujuan tolong-menolong dalam akad tabarru’ ini sangat dianjurkan dalam syariat Islam sebagaimana firman Allah SWT. yang artinya “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang – orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebulir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatkan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah maha Luas (karunia – Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Baqaah ayat 261).

BACA JUGA:  Cara Menghilangkan Bibir Hitam Secara Alami

Ketinggian martabat orang yang membantu saudara – saudaranya digambarkan dalam hadist Rasulullah SAW. yang artinya “Barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya, Allah akan memenuhi hajatnya.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud). Dalam akad tabarru’ yang merupakan akad hibah berlaku ketentuan sebagai berikut.

Akad tabarru’ tidak menysaratkan adanya “kepastian” dalam waktu pembayaran, jumlah pembayaran, dan objek yang ditransaksikan.

Akad tabarru’ tidak mensyaratkan kepastian mendapatkan manfaat, ketidakpastian tentang terjadi atau tidak terjadinya musibah yang menjadi resiko peserta asuransi, tidak menjadikan akad tabarru’ mengandung gharar, sebagaimana jika terjadi di akad tabaduli.

Dengan akad tabarru’ maka kondisi ketidakpastian yang sifatnya melekat dalam asuransi tidak dibenturkan dengan syarat–syarat dari akadnya yang menyebabkan rusak atau batalnya akad itu sendiri secara hukum. Oleh karena tabarru’ menjadi alternatif dari gharar maka fatwa DSN MUI No. 53/MUI/III/2006 tentang tabarru’ telah mengatur hal tersebut sedemikian rupa, sehingga akad tabarru’ merupakan akad yang harus melekat pada semua produk asuransi, yaitu asuransi jiwa, asuransi kerugian, dan reasuransi. Akad tabarru’ pada asuransi adalah semua bentuk akad yang dilakukan antarpeserta atau pemegang polis dan dilakukan dalam bentuk hibah dengan tujuan kebajikan dan tolong–menolong antarpeserta, bukan untuk tujuan komersial.

BACA JUGA:  Dampak Gadget bagi Anak Usia Dini

Sarah Asya
STEI SEBI

Pos terkait