<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Universitas Pertamina &#8211; MAJALAH JAKARTA</title>
	<atom:link href="https://majalahjakarta.id/tag/universitas-pertamina/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahjakarta.id</link>
	<description>Portal Berita Jakarta dan Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 Aug 2025 06:44:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://majalahjakarta.id/go/wp-content/uploads/2025/08/MJ-100x100.jpg</url>
	<title>Universitas Pertamina &#8211; MAJALAH JAKARTA</title>
	<link>https://majalahjakarta.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sulap Lumpur Lapindo Jadi Air Bersih, Mahasiswa Universitas Pertamina Hadirkan “Lambo Jernih” Ramah Lingkungan</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/sulap-lumpur-lapindo-jadi-air-bersih-mahasiswa-universitas-pertamina-hadirkan-lambo-jernih-ramah-lingkungan/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/sulap-lumpur-lapindo-jadi-air-bersih-mahasiswa-universitas-pertamina-hadirkan-lambo-jernih-ramah-lingkungan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2025 06:44:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Pertamina]]></category>
		<category><![CDATA[Uper]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=88185</guid>

					<description><![CDATA[MAJALAH JAKARTA — Semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo, pada 2006—yang dikenal sebagai Lumpur Lapindo—meninggalkan dampak berkepanjangan: permukiman dan infrastruktur...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://majalahjakarta.id/"><strong>MAJALAH JAKARTA </strong></a>— Semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo, pada 2006—yang dikenal sebagai Lumpur Lapindo—meninggalkan dampak berkepanjangan: permukiman dan infrastruktur terendam, lahan produktif hilang, hingga relokasi ribuan warga. Hingga kini, jutaan meter kubik material lumpur masih menumpuk dan menjadi tantangan pengelolaan pascabencana. Selain kerugian sosial-ekonomi, residu lumpur dan perubahan kualitas lingkungan turut menimbulkan kekhawatiran terhadap mutu air dan tanah di kawasan terdampak.</p>
<p>Riset BPS (2024) dan Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur mencatat sebagian besar air tanah di Sidoarjo mengandung besi (Fe) dan mangan (Mn) melebihi baku mutu, yang berisiko pada kesehatan kulit, organ vital, dan perkembangan kognitif. Sementara itu, WRI (2023) memproyeksikan Indonesia akan menghadapi kelangkaan air bersih pada 2050 dengan status medium water stress, diperparah oleh pertumbuhan penduduk, alih fungsi lahan, kemarau, dan pencemaran. Kondisi ini menuntut hadirnya teknologi penyaring air yang efektif sekaligus mampu memanfaatkan limbah pascabencana seperti Lumpur Lapindo.</p>
<p>Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER) mengembangkan Lambo Jernih, purwarupa filter air berbahan dasar Lumpur Lapindo yang mampu menyisihkan logam berat dari air. Inovasi ini digagas oleh M. Afrizal Ichwanul Ulum, M. Adli Danica, M. Karunia Vivaldi, dan Achmad Fauzi.</p>
<p>Lumpur Lapindo terlebih dahulu diolah agar efektif menyaring logam berat melalui aktivasi kimia menggunakan larutan NaOH untuk membuka pori-pori material dan aktivasi fisik melalui kalsinasi atau pemanasan suhu tinggi untuk membersihkan zat pengotor. Hasil uji laboratorium menunjukkan media ini mampu mengurangi kandungan besi (Fe) dan mangan (Mn) dalam air. Lambo Jernih tersusun dari lapisan karbon aktif, serbuk keramik, lumpur teraktivasi, dan kerikil, dirancang tanpa listrik, tanpa bahan kimia tambahan, serta mudah dirawat.</p>
<p>“Sejak bencana Lumpur Lapindo, jutaan meter kubik material tersisa tanpa pemanfaatan optimal dan menjadi pencemar lingkungan. Riset kami menemukan bahwa lumpur ini berpotensi sebagai media penyaring air dan logam berat. Dengan harga sekitar Rp687.500 per unit dan biaya perawatan hanya Rp1 juta untuk 5–10 tahun, teknologi ini menjadi solusi ramah lingkungan sekaligus terjangkau bagi masyarakat,” ujar Afrizal.</p>
<p>Saat ini, purwarupa Lambo Jernih telah dikembangkan dan akan segera diuji coba pada masyarakat di wilayah Sidoarjo, baik untuk penggunaan rumah tangga maupun komunal. Dengan target awal 250 pengguna aktif, Afrizal berharap teknologi ini dapat menjadi solusi atas kekhawatiran masyarakat terhadap penggunaan air rumah tangga yang tercemar.</p>
<p>Sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 6: Air Bersih dan Sanitasi, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU, menyampaikan apresiasi atas karya mahasiswa ini.</p>
<p>“Pembelajaran di UPER dirancang dengan fokus pada pembangunan berkelanjutan. UPER juga berhasil meraih peringkat ke-25 nasional dalam THE Impact Rankings, pemeringkatan perguruan tinggi yang menilai komitmen pada pendidikan berkelanjutan. Lambo Jernih menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam menjawab tantangan global air bersih, sekaligus memperkuat capaian tertinggi UPER di SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi,” tutur Prof. Wawan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/sulap-lumpur-lapindo-jadi-air-bersih-mahasiswa-universitas-pertamina-hadirkan-lambo-jernih-ramah-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/kejarnews.com/wp-content/uploads/2025/08/IMG_20250819_120612.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Debut di THE Impact Rankings, Komitmen UPER Pada Pembangunan Berkelanjutan</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/debut-di-the-impact-rankings-komitmen-uper-pada-pembangunan-berkelanjutan/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/debut-di-the-impact-rankings-komitmen-uper-pada-pembangunan-berkelanjutan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2025 09:10:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Pertamina]]></category>
		<category><![CDATA[Uper]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=88089</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA &#8211; Gempa bumi berkekuatan 8,8 magnitudo yang mengguncang Semenanjung Kamchatka, Rusia, pada 30 Juli 2025, memicu serangkaian bencana susulan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://majalahjakarta.id/"><strong>JAKARTA</strong> </a>&#8211; Gempa bumi berkekuatan 8,8 magnitudo yang mengguncang Semenanjung Kamchatka, Rusia, pada 30 Juli 2025, memicu serangkaian bencana susulan berupa tsunami yang melanda wilayah pesisir Jepang, Hawaii, dan Indonesia. Selain merusak infrastruktur, jaringan telekomunikasi, dan fasilitas kesehatan, gempa juga berdampak besar pada manusia dan lingkungan. Peristiwa ini kembali menegaska pentingnya mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khusus dalam pengelolaan sumber daya alam, penguatan layanan dasar, dan ketahanan terhadap krisis multidimensi.</p>
<p>Menghadapi risiko bencana memerlukan lebih dari sekadar respons darurat. Ketangguhan masyarakat<br />
harus dibangun melalui upaya berkelanjutan yang mencakup perlindungan lingkungan, akses terhadap air bersih, dan transisi menuju energi bersih. Menurut UNDRR (2023), investasi pada tiga sektor ini dapat menurunkan kerugian akibat bencana hingga 40 persen. Ketiganya tidak hanya menjadi fondasi adaptasi terhadap krisis, tetapi juga menopang kualitas hidup, mengurangi ketimpangan akses sumber daya, dan mendorong kemandirian energi di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin kompleks.</p>
<p>Dalam membangun ketangguhan tersebut, pendidikan tinggi memainkan peran strategis sebagai penggerak inovasi, pengetahuan, dan keterlibatan masyarakat. Di bawah ekosistem Pertamina, Universitas Pertamina (UPER) turut berkontribusi memperkuat tiga kapasitas utama: perlindungan lingkungan, pengelolaan air bersih, dan pengembangan energi bersih.</p>
<p>“Dalam rangka mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi berlandaskan pembangunan berkelanjutan, mahasiswa UPER aktif terlibat dalam berbagai kegiatan. Terbaru, UPER mengadakan pengabdian masyarakat di Cisolok untuk pemetaan potensi bencana, serta menjalankan program konservasi seperti penanaman mangrove dan edukasi limbah bersama Pertamina Foundation. Kami juga mengembangkan sistem IPAL domestik dengan Daiko Axis, melakukan kampanye hemat air, dan riset kualitas air sungai. Di sektor energi, UPER berkolaborasi dengan Pertamina Group dalam riset energi bersih, termasuk potensi hidrogen geologis dan pengembangan bahan bakar rendah karbon,” ujar Prof. Dr. Ir.Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., Rektor Universitas Pertamina.</p>
<p>Penanaman mangrove, misalnya, dilakukan di kawasan pesisir Jakarta dan Subang sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap restorasi ekosistem dan mitigasi risiko banjir rob. Edukasi pengolahan limbah pesisir telah melibatkan pelatihan bagi masyarakat pesisir dalam mengelola limbah rumah tangga menjadi bahan berguna.</p>
<p>Upaya tersebut turut melibatkan mahasiswa sebagai agen perubahan. Melalui keterlibatan dalam riset aplikatif, proyek pengabdian masyarakat, serta mata kuliah berbasis proyek, mahasiswa didorong untuk mengembangkan solusi nyata yang menjawab persoalan lingkungan dan sosial di sekitarnya. Pendekatan ini tidak hanya membekali mereka dengan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan kepemimpinan dan kesadaran kolektif akan pentingnya keberlanjutan.</p>
<p>Capaian ini mendapat pengakuan global melalui Times Higher Education (THE) Impact Rankings 2025, di mana UPER meraih skor tertinggi pada SDG 14 (Life Below Water), SDG 6 (Clean Water and Sanitation), dan SDG 7 (Affordable and Clean Energy).</p>
<p>THE Impact Rankings sendiri merupakan pemeringkatan global yang menilai kontribusi universitas terhadap pencapaian SDGs melalui berbagai inovasi dan pengembangan berbasis keberlanjutan.Pengakuan ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh, responsif terhadap risiko bencana, dan berorientasi pada pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.</p>
<p>Capaian Universitas Pertamina dalam mendukung keberlanjutan turut diperkuat oleh keberadaan<br />
Sustainability Center sebagai payung inisiatif pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat, serta kolaborasi dengan Pertamina Foundation melalui program Desa Energi Berdikari, seperti pengelolaan limbah tahu menjadi biofuel.</p>
<p>“Kami percaya bahwa keberlanjutan bukan sekadar prinsip, tetapi harus dihidupkan melalui aksi nyata yang melibatkan semua pihak—akademisi, industri, dan komunitas. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci dalam membangun sistem yang tangguh dan adaptif terhadap krisis, agar tujuan pembangunan berkelanjutan benar-benar berdampak bagi masyarakat saat ini dan generasi mendatang,” ujar Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/debut-di-the-impact-rankings-komitmen-uper-pada-pembangunan-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/www.transnews.co.id/wp-content/uploads/2025/08/IMG-20250807-WA0010-e1754552908266.jpg?v=1754552869&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kolaborasi Global di RESILIENCE 2025: Alam Jadi Kunci Ketahanan Iklim</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/kolaborasi-global-di-resilience-2025-alam-jadi-kunci-ketahanan-iklim/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/kolaborasi-global-di-resilience-2025-alam-jadi-kunci-ketahanan-iklim/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2025 10:29:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[RESILIENCE 2025]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Pertamina]]></category>
		<category><![CDATA[Uper]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=87328</guid>

					<description><![CDATA[Nature-based solutions (NbS) atau solusi berbasis alam menjadi tema utama dalam konferensi RESILIENCE 2025]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Nature-based solutions (NbS) atau solusi berbasis alam menjadi tema utama dalam konferensi RESILIENCE 2025</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://majalahjakarta.id/"><b>MAJALAH JAKARTA </b></a>&#8211; Krisis iklim tak lagi sebatas ancaman masa depan. Suhu global telah melampaui ambang 1,5°C, dan Indonesia termasuk negara yang paling terdampak: mulai dari banjir, kebakaran hutan, kekeringan, hingga kerugian ekonomi akibat penurunan produktivitas kerja yang ditaksir mencapai Rp286 triliun pada 2021 (WMO, 2022). Dalam situasi ini, solusi tak bisa lagi bersifat sektoral. Dibutuhkan pendekatan terpadu yang menjadikan alam sebagai bagian dari jawaban.</p>
<p>Nature-based solutions (NbS) atau solusi berbasis alam menjadi tema utama dalam konferensi Resilience 2025: The 3rd International Conference on Nature-based Solutions in Climate Change, yang digelar Universitas Pertamina bekerja sama dengan Pertamina Foundation di Jakarta, Selasa (3/6/2025). Konferensi ini diikuti lebih dari 180 peneliti, akademisi, dan praktisi dari berbagai negara, seperti Indonesia, Taiwan, India, Vietnam, Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada.</p>
<p>NbS merupakan pendekatan yang menggunakan ekosistem dan proses alamiah—seperti restorasi hutan, konservasi mangrove, hingga pertanian berkelanjutan—untuk menanggulangi perubahan iklim, melindungi keanekaragaman hayati, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Laporan IUCN menyebut bahwa NbS dapat berkontribusi hingga 37 persen dari target penurunan emisi global pada 2030.</p>
<p>Dalam sesi panel, isu ketahanan masyarakat atau adaptive capacity menjadi sorotan utama. Prof. Chun-Hung Lee (National Dong Hwa University, Taiwan) menjelaskan pentingnya penguatan sistem sosial berbasis komunitas dalam menghadapi bencana dan perubahan iklim. Pendekatan Community-Based Disaster Management yang ia terapkan di Taiwan mendorong partisipasi aktif warga dalam simulasi evakuasi, pengelolaan shelter, dan pendidikan kebencanaan.</p>
<p>Pemikiran ini dilengkapi oleh Prof. Yuri Mansury (Illinois Institute of Technology, AS) yang mengingatkan bahwa adaptasi tidak bisa hanya dibebankan pada infrastruktur. Ia menekankan bahwa kerugian akibat panas ekstrem bukan hanya soal suhu, melainkan menyangkut ketimpangan sosial. “Adaptive capacity berarti memperkuat akses ke pendidikan, pekerjaan layak, dan layanan publik—terutama bagi kelompok paling rentan,” ujarnya.</p>
<p>Prof. Jatna Supriatna (Universitas Indonesia) membahas keterkaitan erat antara perubahan iklim dan biodiversitas, khususnya di Indonesia yang menyimpan lebih dari 10 persen keanekaragaman hayati dunia. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan tekanan terhadap ekosistem pesisir telah memperburuk dampak iklim dan memperbesar potensi penyakit zoonotik. Materi ini melengkapi diskusi dari Prof. Agni Klintuni Boedhihartono dan Prof. Jeff Sayer dari University of British Columbia, Kanada, yang menyoroti pentingnya pendekatan berbasis lanskap dan kearifan lokal dalam menjaga keberlanjutan sosial dan ekologis.</p>
<p>Konferensi ini juga menjadi ajang bagi Universitas Pertamina untuk menampilkan kontribusi akademiknya dalam bidang keberlanjutan. Melalui Sustainability Center dan 12 Centers of Excellence, UPER aktif dalam riset energi terbarukan, konservasi ekosistem, dan pengembangan desa berkelanjutan. Program magister keberlanjutan yang dijalankan bersama Yale University, ITB, dan NDHU Taiwan juga diperkenalkan sebagai bagian dari kolaborasi global.</p>
<p>Dalam sambutannya, Presiden Direktur Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, menyampaikan bahwa tantangan iklim yang dihadapi dunia saat ini memerlukan solusi yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga membumi dan memberdayakan. “Solusi berbasis alam bukan hanya konsep, tetapi realitas yang telah kami terapkan di lapangan. Dari penanaman mangrove, konservasi paus hiu di Teluk Cenderawasih, hingga program energi bersih desa, kami percaya bahwa keberlanjutan tidak bisa dilepaskan dari kekuatan komunitas. Melalui PFsains, kami mendorong lebih banyak inovasi hijau dari desa untuk dunia,” tegasnya.</p>
<p>PFsains merupakan kompetisi inovasi yang mendukung ide-ide berbasis NbS dari masyarakat akar rumput, dengan pendanaan hingga Rp2,5 miliar. Program ini melengkapi inisiatif Hutan Lestari dan Desa Energi Berdikari Sobat Bumi yang telah berhasil menanam lebih dari 4 juta pohon dan menjangkau 42 desa dengan akses energi terbarukan.</p>
<p>Rektor Universitas Pertamina, Prof. Wawan Gunawan, menutup konferensi dengan menegaskan bahwa krisis iklim hanya bisa diatasi melalui kolaborasi lintas sektor dan pendekatan berbasis nilai. “Solusi iklim tidak bisa semata teknokratis. Ia harus berakar pada keadilan, pengetahuan lokal, dan keberpihakan pada generasi mendatang,” ujarnya.</p>
<p>Ingin menjadi bagian dari perubahan iklim yang nyata? Universitas Pertamina membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam riset, inovasi, dan aksi keberlanjutan. Kunjungi www.universitaspertamina.ac.id dan temukan program studi yang siap membekali Anda menjadi pelopor solusi hijau untuk masa depan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/kolaborasi-global-di-resilience-2025-alam-jadi-kunci-ketahanan-iklim/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.transnews.co.id/wp-content/uploads/2025/06/IMG-20250613-WA0013-1536x869.jpg?v=1749786127&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Naik Kelas! Sambel Pecel My Fin Milik Mahasiswa UPER Siap Tembus Pasar Global</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/naik-kelas-sambel-pecel-my-fin-milik-mahasiswa-uper-siap-tembus-pasar-global/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/naik-kelas-sambel-pecel-my-fin-milik-mahasiswa-uper-siap-tembus-pasar-global/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2025 04:18:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa UPER]]></category>
		<category><![CDATA[Sambel Pecel My Fin]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Pertamina]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=84701</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA &#8211; Sambel pecel khas Blitar dikenal sebagai bumbu legendaris dalam kuliner Nusantara, dengan cita rasa autentik dari perpaduan kacang,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Sambel pecel khas Blitar dikenal sebagai bumbu legendaris dalam kuliner Nusantara, dengan cita rasa autentik dari perpaduan kacang, cabai, dan rempah pilihan. Blitar, Jawa Timur, tak hanya menjadikan sambel pecel sebagai identitas kuliner lokal, tapi juga sebagai komoditas unggulan. Menurut Dinas Perdagangan dan Perindustrian Blitar (2022), produk ini termasuk dalam lima besar pangan lokal terlaris, membuktikan bahwa sambel pecel Blitar punya nilai ekonomi tinggi dan potensi besar di pasar UMKM.</p>
<p>Sayangnya, popularitas sambel pecel sebagai hidangan khas Nusantara masih menghadapi berbagai tantangan dalam produksinya, seperti fluktuasi harga bahan baku yang memengaruhi daya jual serta praktik pencampuran dengan ubi yang berisiko mengurangi cita rasa autentiknya. Selain itu, kualitas pengemasan produk sambel pecel yang masih kurang menarik dan rentan terkontaminasi bakteri turut menjadi perhatian. Berdasarkan laporan Foresight Indonesia (2022), sebanyak 40% konsumen kini lebih memilih bumbu dengan kemasan praktis, mudah dibawa, dan memiliki daya tahan lebih lama, menandakan perlunya inovasi dalam produksi dan distribusi sambel pecel agar tetap kompetitif di pasar.</p>
<p>Menyadari hal tersebut, mahasiswa dan alumni Universitas Pertamina menghadirkan inovasi bisnis melalui “Sambel Pecel My Fin”. Qori’atul Septiavani (alumni) bersama Millenia Shinta Anggraeni, Iklimah Nur Rachmah, dan Nur Arifka W. (mahasiswa Program Studi Ekonomi) membangun bisnis ini dengan tujuan melestarikan sambel pecel khas Blitar dalam kemasan yang lebih modern, higienis, dan sesuai kebutuhan pasar.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-post-84701 wp-image-84873" src="https://res.cloudinary.com/dpqg36bu1/images/v1743048936/sambel-pecel-my-fin-2-FILEminimizer/sambel-pecel-my-fin-2-FILEminimizer.jpg?_i=AA" alt="" width="1024" height="800" /></p>
<p>Menurut Qori, salah satu pendiri, Sambel Pecel My Fin telah dirintis sejak tahun 2017 dengan mengusung nilai “Citra Rasa Warisan Nusantara” yang kental akan sentuhan budaya Jawa. Produk ini diproduksi secara autentik untuk dipasarkan di Kota Malang dengan kapasitas produksi mencapai 115 kg atau sekitar 350 kemasan per bulan.</p>
<p>Tergabung dalam tim Sambel Pecel My Fin, Qori bersama rekan-rekannya menghadirkan inovasi pada desain dan kemasan produk guna meningkatkan nilai jual. Awalnya, sambel pecel dikemas dalam plastik ukuran 500 gram hingga 1 kg. Kini, produk dikemas lebih praktis dan menarik dalam jar kaca, yang mudah dibawa dan lebih higienis. Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, My Fin juga menghadirkan empat varian bumbu siap saji: Sambel Pecel, Bumbu Gado-gado, Bumbu Tahu Telur, dan Bumbu Sate—masing-masing dengan daya tahan produk yang lebih lama dan cocok untuk gaya hidup praktis.</p>
<p>“Kami memproduksi sambel pecel tersebut murni dari bahan-bahan alami tanpa pengawet. Namun dengan pengemasan yang lebih rapi dan higienis, produk kami mampu bertahan hingga tiga bulan dari yang sebelumnya hanya satu bulan sejak dibukanya kemasan. Menariknya untuk meningkatkan ketertarikan konsumen kami mendesain produknya dengan mengangkat kebudayaan Jawa sesuai dengan tempat diproduksinya. Misalkan dari desain visual kemasan, nama produk yang mengambil tokoh wayang hingga pemasarannya yang khas masyarakat Jawa,” pungkas Qori</p>
<p>Dengan harga Rp23.500 per kemasan 300 gram, Sambel Pecel My Fin berhasil membangun jaringan pemasaran melalui 90 reseller, partisipasi dalam bazar UMKM, serta promosi aktif di media sosial dan e-commerce. Strategi ini mendorong pertumbuhan omzet yang kini mencapai Rp7,3 juta per bulan. Untuk memperluas jangkauan pasar, tim My Fin tengah mengembangkan skema penjualan menuju pasar internasional melalui platform marketplace global.</p>
<p>Qori menyampaikan bahwa Sambel Pecel My Fin kini tengah mempersiapkan penjualan lintas negara melalui pelatihan dari Inkubasi Bisnis Lanjutan Universitas Pertamina. Program ini membantu meningkatkan kualitas produk, strategi penjualan, dan ketahanan bisnis. “Harapan kami, sambel pecel ini bisa dinikmati oleh banyak orang di berbagai penjuru dunia,” tutupnya.</p>
<p>Sebagai kampus yang bercita-cita menjadi kampus kelas dunia berbasis inovasi dan kewirausahaan khususnya di bidang teknologi dan energi, bisnis Sambel Pecel My Fin menjadi cerminan hasil buah pikiran dan inovasi mahasiswa serta alumni UPER dalam memanfaatkan teknologi dengan baik sebagai upaya mengembangkan penjualan produk kuliner yang lebih luas.</p>
<p>“Melalui tim MyFin, mahasiswa Universitas Pertamina membuktikan bahwa kewirausahaan bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga kontribusi nyata bagi perekonomian lokal dan nasional. Dengan dukungan inkubasi bisnis, mereka mampu menciptakan inovasi yang memperkuat ekosistem UKM dan membuka peluang pasar yang lebih luas” jelas Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir M.S., IPU., Rektor Universitas Pertamina.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/naik-kelas-sambel-pecel-my-fin-milik-mahasiswa-uper-siap-tembus-pasar-global/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/res.cloudinary.com/dpqg36bu1/images/v1743048818/sambel-pecel-my-fin-FILEminimizer/sambel-pecel-my-fin-FILEminimizer.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Masihkah Teknik Perminyakan Menjanjikan? Ini Prospek Karier dan Gajinya!</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/masihkah-teknik-perminyakan-menjanjikan-ini-prospek-karier-dan-gajinya/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/masihkah-teknik-perminyakan-menjanjikan-ini-prospek-karier-dan-gajinya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2025 04:24:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Teknik Perminyakan]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Pertamina]]></category>
		<category><![CDATA[Uper]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=84620</guid>

					<description><![CDATA[MAJALAH JAKARTA &#8211; Meskipun transisi ke energi bersih terus didorong, tantangan investasi dan biaya produksi membuat realisasi EBT hingga akhir...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://majalahjakarta.id/"><strong>MAJALAH JAKARTA</strong></a> &#8211; Meskipun transisi ke energi bersih terus didorong, tantangan investasi dan biaya produksi membuat realisasi EBT hingga akhir 2024 baru mencapai 14,68%, jauh dari target 23% pada 2025. Akibatnya, energi fosil diperkirakan tetap dominan hingga 2050, dengan konsumsi migas Indonesia mencapai 8,69 juta BOEPD.</p>
<p>Pada tahun 2024, 67% konsumsi gas bumi digunakan untuk kebutuhan domestik, menunjukkan bahwa mayoritas produksi gas masih digunakan untuk mendukung berbagai sektor industri dalam negeri. Hal ini membuktikan bahwa industri migas tetap menjadi tulang punggung ekonomi, sehingga lulusan Teknik Perminyakan memiliki prospek kerja yang stabil dan menjanjikan.</p>
<p><strong>1. Sektor Hulu (Eksplorasi &amp; Produksi Migas)</strong><br />
Peluang besar untuk bekerja di perusahaan nasional seperti Pertamina, serta perusahaan multinasional seperti Chevron, ExxonMobil, dan Total Energies. Profesi di sektor ini meliputi Drilling Engineer (Insinyur Pengeboran), Reservoir Engineer (Insinyur Reservoir), Production Engineer (Insinyur Produksi).<br />
Gaji awal: Rp10 – 20 juta/bulan, tergantung pengalaman dan perusahaan.</p>
<p><strong>2. Sektor Hilir (Pengolahan &amp; Distribusi)</strong><br />
Bekerja di kilang minyak, pemrosesan gas bumi, dan distribusi energi, termasuk di perusahaan seperti Pertamina, Chandra Asri, dan PGN. Posisi yang tersedia meliputi Process Engineer (Insinyur Proses), Pipeline Engineer (Insinyur Pipa).<br />
Gaji awal: Rp8 – 18 juta/bulan, dengan kenaikan signifikan berdasarkan pengalaman.</p>
<p><strong>3. Jasa Migas &amp; Teknologi Energi</strong><br />
Bekerja di perusahaan jasa migas seperti Schlumberger, Halliburton, dan Baker Hughes, yang menyediakan teknologi pengeboran, logging, dan pemeliharaan sumur minyak. Profesi yang tersedia antara lain Field Engineer (Insinyur Lapangan), Petroleum Data Analyst (Analis Data Migas).<br />
Gaji awal: Rp12 – 25 juta/bulan, terutama bagi yang bekerja di perusahaan multinasional.</p>
<p><strong>4. Energi Panas Bumi &amp; Transisi Energi</strong><br />
Keahlian Teknik Perminyakan juga dibutuhkan dalam industri panas bumi (geotermal) dan proyek Carbon Capture &amp; Storage (CCS) untuk mendukung energi bersih. Perusahaan seperti Star Energy dan Supreme Energy membuka peluang di bidang Geothermal Engineer (Insinyur Panas Bumi) dan Energy Transition Specialist (Spesialis Transisi Energi).<br />
Gaji awal: Rp10 – 22 juta/bulan.</p>
<p><strong>5. Akademisi &amp; Riset Energi</strong><br />
Lulusan yang tertarik dalam penelitian dan pengembangan energi dapat bekerja di institusi akademik, pusat riset energi, atau lembaga pemerintahan. Posisi ini meliputi Dosen Teknik Perminyakan dan Peneliti di Lembaga Energi.<br />
Gaji awal: Rp6 – 15 juta/bulan, tergantung institusi dan jenjang pendidikan.</p>
<h3>Kompetensi Penting di Industri Migas</h3>
<p>Untuk sukses di industri migas, lulusan Teknik Perminyakan perlu menguasai keterampilan berikut:</p>
<p><strong>Teknologi Eksplorasi &amp; Produksi</strong><br />
Pemahaman mendalam tentang pengeboran, perawatan sumur, dan optimasi produksi.</p>
<p><strong>Analisis Data &amp; Pemecahan Masalah</strong><br />
Menganalisis reservoir, meningkatkan efisiensi ekstraksi, dan mengatasi tantangan operasional.</p>
<p><strong>Adaptasi terhadap Teknologi Baru</strong><br />
Menguasai inovasi seperti digitalisasi migas, AI, dan big data untuk efisiensi industri energi.</p>
<h3>Mengenal Teknik Perminyakan di Universitas Pertamina</h3>
<p>Bagi kamu yang ingin berkarir di industri energi, Universitas Pertamina (UPER) menawarkan Program Studi Teknik Perminyakan yang dirancang sesuai kebutuhan industri migas saat ini dan masa depan.</p>
<ul>
<li>Peminatan Utama Teknik Perminyakan UPER</li>
<li>Teknik Pengeboran – Desain sumur, operasi pengeboran, dan teknik kerja ulang sumur.</li>
<li>Produksi &amp; Manajemen Migas – Optimasi produksi dan pengelolaan fasilitas energi.</li>
<li>Teknik Reservoir – Evaluasi formasi, karakterisasi reservoir, dan simulasi perolehan migas.</li>
<li>Minyak Digital &amp; Big Data – Pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi produksi energi.</li>
</ul>
<p>Sebagai kampus yang didirikan oleh PT Pertamina (Persero), UPER membekali mahasiswa dengan pemahaman eksplorasi dan produksi migas serta wawasan keberlanjutan, energi bersih, dan inovasi industri. Dengan jaringan industri yang luas dan kurikulum berbasis teknologi, UPER menjadi pilihan tepat bagi calon profesional energi masa depan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/masihkah-teknik-perminyakan-menjanjikan-ini-prospek-karier-dan-gajinya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/cdn.prod.website-files.com/6215eff0aa650a4cc128fae3/626d2e3591068516662037f0_pekerjaan-jurusan-teknik-perminyakan.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
