TASAWUF KEBANGSAAN PILPRES 2024, H minus 51 Hari Dari Pencoblosan

MJ, Jakarta – Tasawuf adalah ilmu kesucian jiwa di dalam Islam, yang dalam terminologi bapak moyangnya ilmu Tasawuf, Imam Al Ghazali, dalam kitabnya Al Ihya Ulumudin, terdiri dari 4 (empat) tahap Syare’at, Tarekat, Hakekat dan Ma’rifat. Imam Ghazali sebagai hujatul Islam dalam mengimbangi Filsafat barat, telah mampu menafsirkan Islam dengan sangat luar biasa terang benderang, di tengah lautan pemahaman yang sempit, kering kerontang ala Khawarij, yang sangat mudah mengkafirkan orang yang bukan termasuk golongannya.

Dalam mengelaborasi Syare’at, Tarekat, Hakekat, dan Ma’rifat, secara brilian Imam Ghazali bisa menerjemahkan semua aliran Tasawuf yang dijalani para Sufi, yang pada intinya berhubungan dengan batin, jiwa dan hati setiap muslim bahkan manusia, di dalam perjalanan spiritual sesuai Al Qur’anul Karim, yang terdiri dari tiga tahap keyakinan; ilmu Yakin, Haqul Yakin, hingga Ainul Yakin.

Dalam nilai-nilai kesucian inilah kita coba merenungi hakikat dari Pilpres 2024, untuk mencari hikmah-hikmah di dalam perjalanan spiritual kebangsaan Indonesia. Negara Muslim terbesar di dunia, yang In Syaa Allah akan di pilih menjadi pemimpin dunia Islam di akhirul zaman, estafet dari kekuasaan Islam terakhir imperium Khilafah Turki Utsamani, setelah sebelumnya berestafet dari awal kekuasaan Khulafaur Rasyidin, Khilafah bani Umayah, Khilafah bani Abasyiah dan terakhir Khilafah Turki Utsmani.

Tentu saja wujudnya tidak leter lekh khilafah, tapi bisa berubah bentuk dengan sistem-sistem kepemimpinan kekinian yang moderat, atau bahasa Al Qur’annya dengan pemahaman Umatan Wasaton. Meminjam istilah Kiayi Ma’ruf Amin, Khilafah itu bukan di tolak oleh Umat Islam, tapi secara alamiah tertolak karena sudah tidak sesuai zaman, dan berubah bentuk dengan sistem kerjasama modern multilateral dari setiap negara bangsa kaum muslimin. Dan tidak bisa dipungkiri di akhirul zaman ini Indonesia semakin menunjukkan kebesaran dan kekuatannya sebagai pemimpin dunia Islam.

BACA JUGA:  Real Count Sementara KPU Dapil Neraka DKI: HNW & Grace Natalie Unggul

Bagi para penganut Tasawuf, Indonesia, dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945, diyakini adalah negara Islam. Karena naskah Pancasila lengkap, yang lahir 18 Agustus 1945, berawal dari “Piagam Jakarta 22 Juni 1945”.

Pancasila dijadikan dasar negara diprakarsai dan dirumuskan oleh para pemimpin muslim yang tergabung di dalam BPUPKI (delapan orang muslim, dan seorang nasrani), dan secara moderat sistem ideologi kerjasama ini, sudah terjadi sejak zaman Rasullullah Muhammad saw., dengan perjanjian Hudaibiyah, dan piagam Madinah nya.

Terminologi Pancasila sama persis dengan naskah suci tersebut, dimana Umat Islam bersepakat dengan non muslim dalam menjalankan satu negara dan pemerintahan, yang tentunya mempunyai ruh Islam, dengan sinar yang terang benderang dari Al Qur’anul Karim.

Dari sejak berdirinya Indonesia, dari waktu ke waktu, infra struktur politik Indonesia, terus berkembang hingga sudah melalui tinta emas bertugasnya tujuh presiden. Dan tentu saja tidak akan pernah ada presiden-presiden tersebut, tanpa adanya mandat dari yang berdaulat bernama *Rakyat* Indonesia. Sesuai Pasal 1 ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi ; kedaulatan negara ada di tangan Rakyat. Jadi presiden itu adalah petugas Rakyat, bukan petugas partai.

Karena partai hakikatnya hanyalah kelengkapan infrastruktur bagi Rakyat agar bisa mengorganisir diri, dalam mewujudkan kedaulatannya.

Hinggar bingar copras capres di dalam menghadapi pilpres 2024, bangsa dan Rakyat Indonesia, sebagai yang berdaulat, tentu saja hakikatnya tidak boleh terombang ambing, dan harus tetap kokoh menjadi Rakyat Sejati. Karena di dalam perhelatan politik, tentu saja dukung mendukung adalah satu hal yang lumrah, bersama partai-partai pendukung, timses hingga para relawan.

Namun sejatinya di dalam tasawuf kebangsaan, tetap harus dipisah yang mana, merupakan Rakyat sejati ? agar tidak bias dengan kelompok-kelompok kepentingan yang tentunya bisa mengambil manfa’at pragmatisme politiknya, baik pada pelaksanaan pemilu, ataupun pasca pemilu.

BACA JUGA:  Budiman (Ucok) menghadiri acara reses wakil Ketua DPRD Kabupaten Langkat Donny Setha

Rakyat sejati hakikatnya adalah yang punya kekuatan pengatur Wahyu Cakra Ningrat, apalagi kalau bukan prinsip rahasia di dalam memilih. Kerahasiaan inilah tanda sebagai kedaulatan Rakyat sejati. Mereka tidak diketahui memilih siapa ? karena siapapun memilih capresnya, tidak diketahui dengan kerahasiaannya tersebut.

Oleh karena itu, siapapun pemenang dan terpilih menjadi presiden dan wapres, hakikatnya adalah petugas dari Rakyat sejati. Setiap warga negara yang memposisikan sebagai Rakyat sejati, tentu saja akan kokoh kuat memegang kerahasiaannya, dan tidak akan pernah goyah untuk tetap menjaga kerahasiaannya tersebut.

Sementara yang sekarang ikut ribut di dalam dukung mendukung, padahal tentu saja tidak masuk dalam kelompok-kelompok kepentingan semisal partai, timses dan relawan. Mereka sebetulnya orang-orang yang terpancing masuk ke dalam perangkap kelompok-kelompok kepentingan tersebut. Kelompok orang-orang terpancing dan terjerumus ini, sudah barangtentu derajatnya menjadi kelas paling rendah.

Karena mereka tidak mendapatkan apapun sebagaimana halnya kelompok-kelompok kepentingan yang berkehendak mendapatkan kepercayaan Rakyat. Bagaimana tidak menjadi kelas paling rendah ? karena mereka melepaskan haknya sebagai Rakyat sejati, yang memiliki azas dan senjata *kerahasiaan* sebagai kelas tertinggi, yang berdaulat atas negara, yang bernama *RAKYAT INDONESIA*

Di sinilah pentingnya Tasawuf kebangsaan, agar dipahami, oleh seluruh Rakyat Indonesia, di dalam menghadapi setiap perhelatan pemilu lima tahunan, dan tentunya copras capres. Posisi sebagai apapun kita ? tentu saja mesti introspeksi, karena setiap diri manusia adalah insan politik, siapa mendapat apa ? bersyukurlah anda jika menjadi Rakyat Sejati, dan tidak terjerumus menjadi kaum odong-odong, kasta paling rendah di dalam setiap pemilu.

BACA JUGA:  Cak Imin Terpuruk di TPS Kediamannya: Prabowo - Gibran Unggul Telak

Mereka cuma mendapat ributnya, tapi sama sekali tidak mendapatkan apapun. Kelompok-kelompok kepentingan tentu saja senang mendapatkan banyak jongos-jongosnya, tanpa harus bayar apapun.

Itulah prinsip utama Tasawuf Kebangsaan yang mesti dipahami oleh kita semua bangsa Indonesia. Masih banyak yang belum memahami, betapa mulianya berposisi sebagai Rakyat Sejati.

Kemudian yang harus dipahami hikmah, dan nilai Tasawuf kebangsaan lainnya yang sangat penting adalah kepentingan di atas kepentingan yang bernama PERSATUAN INDONESIA.

Bangsa Indonesia, sudah melalui fase terakhir pemilu 2014 dan 2019. Hikmah apa yang bisa di ambil dari fase terjadinya kaum odong-odong, yang bernama cebong dan kampret ini ? tentu saja polarisasi dengan penyakit akut kebencian covid pangkat tujuh ini, sudah harus mendapatkan faksin cinta dan kasih sayang di antara sesama anak bangsa, sehingga tidak terjerumus lagi ke dalam kasta terendah tersebut.

Mudah-mudahan semua kelompok kepentingan menyadari akan kepentingan di atas kepentingan untuk Persatuan Indonesia, bagaimana polanya ? tentu saja semua kelompok kepentingan, harus siap menang dan siap kalah. Yang menang tidak jumawa dan bisa menghibur yang kalah, dan yang kalah pun secara ksatria mengakui dan mendukung yang menang. Hal mulia inipun sudah dicontohkan oleh yang berseteru di tahun 2014 dan 2019, antara Jokowi dan Prabowo. Jokowi merangkul Prabowo demi Persatuan Indonesia, dan Prabowo pun menerima dengan baik itikad mulia tersebut.

Inilah preseden yang sangat baik bagi bangsa Indonesia, dan dapat dilakukan kembali di pilpres 2024. Setelah pilpres sebaiknya bersatu kembali untuk menjadi satu kekuatan utuh yang namanya INDONESIA, untuk menghadapi tantangan global yang tidak ringan, dan menggapai Indonesia Emas yang dicita-citakan.

Pos terkait