Teknik Lobbying Pada Pasar Tradisional

 

Pada masa pandemi kemarin, Pemerintah mengeluarkan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat darurat yang mengakibatkan teknik lobbying di dalam pasar tradisional cukup terganggu. Sehingga banyak masyarakat yang beralih ke belanja secara digital.

Dampak yang timbul dari peristiwa itu adalah kehilangan kebiasaan “menawar” yang mengakibatkan pelanggan cenderung “malas”. Apalagi di era yang ingin semua serba cepat ini sangat mendorong kebiasaan menawar yang cenderung membutuhkan waktu lama ini hilang dengan cepat. Komunikasi “pasar” yang hilang menjadi gaya berbelanja online sehingga sedikit demi sedikit melunturkan karakter masyarakat. Masyarakat cenderung instan dan sulit berdialog soal tawar menawar. Kemudian bagaimana cara menumbuhkan kembali teknik lobbying di era new normal dengan strategi yang tepat?

Lobbying

Maschab (1997), “menekankan bahwa lobbying adalah segala bentuk upaya yang dilakukan oleh satu pihak untuk menarik pihak lain atau mendapatkan dukungan”. Dari perspektif komunikasi, kegiatan lobbying termasuk dalam kategori komunikasi antar pribadi yang didefinisikan sebagai pertukaran pendapat, pandangan, gagasan antara dua orang. Biasanya dalam bentuk tatap muka langsung sehingga memungkinkan setiap peserta menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik verbal maupun non verbal.

BACA JUGA:  Yang Tersisa dari Pasar Ikan Tradisional Luar Batang

Lobbying berbeda dengan negosiasi. Lobbying bersifat tidak formal atau tidak resmi dan dapat dilakukan diluar forum. Sedangkan negosiasi bersifat resmi dan melibatkan pihak lawan dalam menentukan waktu dan proses negosiasi. Baik lobbying dan negosiasi dapat melibatkan pihak ketiga sebagai perantara atau pihak yang membantu. Biasanya lobbying dilakukan pada perusahaan-perusahaan besar dan masih terdengar asing pada pasar tradisional. Di zaman yang sudah berkembang pesat, para pedagang di pasar tradisional harus bisa mengikuti tren yang ada.

Sukses Dalam Lobbying

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa terlepas dari berkomunikasi dengan orang lain, khususnya ketika berada di pasar tradisional yaitu komunikasi antara penjual dengan pembeli. Tanpa disadari kita telah melakukan lobbying yaitu proses tawar menawar yang terjadi antara penjual dan pembeli. Proses tawar menawar ini melatih diri kita untuk memperkirakan harga, teknik lobbying, hingga memahami karakter penjual dalam melayani pelanggannya. Teknik lobbying yang dilakukan dengan menggunakan dialog antara penjual dan pembeli didapatkan dari proses komunikasi. Namun terkadang ada situasi yang memunculkan perbedaan pendapat atau kondisi yang dapat menghambat kegiatan jual beli seperti perbedaan pendapat mengenai harga barang. Untuk keluar dari situasi tersebut, maka kemampuan Lobbying dapat diandalkan agar menemukan jalan tengah yang terbaik.

BACA JUGA:  Perbedaan Wakaf dan Sedekah

Untuk mencapai kesepakatan bersama, dibutuhkan strategi yang tepat agar lobbying dapat dilakukan dengan baik. Salah satu strategi lobbying yang tepat yaitu memahami masalah secara detail atau komprehensif, selain itu kita juga harus menyiapkan materi lobbying dengan baik dan materi penawaran alternatif, dengan begitu lobbying dapat terlaksana dengan baik dan mendapatkan kesepakatan bersama. Tetapi dari hasil kesepakatan bersama tersebut bukan berarti masing-masing pihak mendapatkan hasil yang sama rata. Beragam faktor dalam hubungan kedua belah pihak begitu dinamis dimana masing-masing pihak perlu lebih jeli melihat posisi mereka sebenarnya dalam lobbying.

Ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki seseorang supaya dapat melakukan lobbying dengan sukses, yaitu :

BACA JUGA:  Berani Mengambil Tindakan: Kunci Sukses untuk Mencapai Mimpi dan Tujuan

Kemampuan komunikasi (humor, pakaian, bahasa tubuh, gaya). Terdengar sepele namun poin-poin tersebut cukup penting dalam melakukan lobbying. Berada di pasar tradisional bukan berarti kita tidak perlu memikirkan penampilan. Penampilan yang profesional dan menarik bisa memberikan respon yang positif dari rekan kerja, klien atau konsumen. Dengan penampilan yang rapih dan menarik dapat meningkatkan rasa percaya diri sehingga inner beauty yang kita miliki akan terpancar dan secara tidak langsung akan membuat klien kita terpengaruh dengan lobbying kita.

Kemampuan mendengar. Kemampuan mendengar juga sangat diperlukan seseorang dalam melakukan lobbying. Setiap melakukan lobbying, kita akan mendengar pendapat/ide dari klien kita. Jika kita tidak mendengar pendapat klien dengan baik, maka kita tidak akan bisa memenuhi apa yang diinginkan oleh klien kita dan bisa terjadi salah paham sehingga tidak akan menemukan keputusan terbaik.

Putri Rahmawati, Novita Putri Anggira, Rury Azalia Audianti, Salma Chairunnisa, dan Nurfadilla Febriana.
Universitas Pamulang.

Pos terkait