Teknologi AI Menguntungkan Masyarakat?

Oleh: Jasmine Fahira Adelia Fasha, Freelancer

Belakangan ini, dunia memang sedang digemborkan dengan perkembangan teknologi baru yang cukup mengagetkan, yaitu Artificial Intelligence atau biasa disebut AI. AI menjadi perbincangan yang cukup banyak menyita perhatian masyarakat karena kehebatannya yang dinilai menguntungkan bagi masyarakat.

Salah satunya adalah ChatGPT yang hingga kini masih digunakan oleh masyarakat. ChatGPT sendiri bisa membantu masyarakat dari setiap kalangan, karena ChatGPT menghimpun seluruh data sehingga data yang diberikan oleh ChatGPT dapat membantu masyarakat dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

Misalnya ketika ChatGPT diminta untuk menjadi manager dari sebuah perusahaan, maka ChatGPT akan langsung membantu dan memberikan informasi sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Maka tidak heran jika ChatGPT dinilai dapat mengganti beberapa pekerjaan atau cukup mengandalkan satu sumber daya manusia saja karena adanya fasilitas AI yang dapat menunjang beberapa pekerjaan manusia.

BACA JUGA:  KESADARAN BERSAMA, SUFISTIK PERSATUAN INDONESIA

Namun apakah keberadaan AI lantas betul-betul dapat menggantikan peran manusia? Apakah AI juga betul menguntungkan masyarakat atau justru menguntungkan kaum kapitalis? Ternyata, keberadaan AI tidak selamanya bisa memberikan maslahat kepada masyarakat jika tidak digunakan dengan bijak oleh penggunanya. Sudah semakin banyak kasus kejahatan yang disebabkan oleh AI.

Dengan mudahnya data masuk sehingga mudahnya pula data digunakan dan disebar untuk kejahatan. Maka ini tentu bahaya jika didiamkan terus menerus tanpa adanya penanggulangan. Bahkan, beberapa tokoh teknologi juga menyampaikan bahayanya ChatGPT bagi masyarakat.

Seperti Elon Musk, ELon Musk dan sejumlah peneliti lain menandatangani surat terbuka perihal AI. Mereka meminta laboratorium AI menghentikan pengembangan sistem teknologi dengan skala besar. Dilansir dari CNBC Indonesia yang dikutip dari The Verge, “Kami menyerukan kepada semua laboratorium AI untuk segera menghentikan pelatihan sistem AI yang lebih kuat dari GPT-4 setidaknya selama 6 bulan,” ujar Elon.

BACA JUGA:  Sifilis Meningkat, Bukti Rusaknya Generasi

Selain adanya potensi bahaya pada AI, tidak bisa kita pungkiri bahwa kapitalis memang membuat AI dikhususkan untuk kepentingan ekonomi pribadi bukan kemaslahatan umat. Ini juga dipertegas oleh Hinton seorang Bapak AI dan mantan pegawai Google. Dilansir dari CNBC Indonesia, menurut Hinton, raksasa teknologi ingin bergegas menghadirkan inovasi baru karena ingin mendominasi dan mendapatkan keuntungan yang besar.

Bagaimana pola pikir serta tujuan kemaslahatan kapitalis dalam menciptakan suatu teknologi ini jelas berbeda dengan Islam. Islam menghadirkan teknologi berdasarkan motivasi yang berlandaskan akidah Islam bukan prinsip kapitalistik. Begitupun juga dengan pemanfaatan dan pengembangan teknologi dikendalikan dan dibatasi oleh aturan Allah SWT, maka erat kaitannya dengan hukum syara.

BACA JUGA:  Antara Calo & Calon Berkualitas!

Tidak seperti kapitalis yang hanya berlandaskan keuntungan pribadi yang sebenarnya tidak memberikan kemaslahatan sesungguhnya kepada umat. Maka dalam Islam, jika ada pengembangan teknologi yang menyalahkan aturan Islam akan diberikan sanksi yang tentu akan membuat orang tersebut jera.

Maka kita bisa simpulkan, menggunakan teknologi boleh-boleh saja karena teknologi termasuk madaniyah yang diperbolehkan dalam Islam. Namun perlu kita ingat, segala apa pun yang dibuat untuk kepentingan pribadi sejatinya tidak akan selalu sempurna dalam memberikan kemaslahatan bagi umat. Sehingga kita perlu menggunakannya dengan bijak dan tetap kembalikan kepada landasan berpikir Islam serta syariat Islam. []

Pos terkait