Tradisi Betawi Jelang Ramadhan yang Masih Dilakukan

DEPOKPOS – Masyarakat Betawi dikenal sebagai masyarakat yang memegang teguh keyakinannya. Masyarakat Betawi telah menjadikan Islam sebagai bagian dari nilai-nilai yang tersiratkan dalam melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari (tradisi).

Masyarakat Betawi punya sejumlah tradisi yang hingga saat ini masih dilakukan menjelang bulan puasa atau bulan Ramadhan .

Bacaan Lainnya

Apa sajakah tradisi Betawi jelang bulan puasa?

Tradisi Nyorog

Nyorog yaitu berbagi bingkisan makanan atau masakan ke sanak saudara dan keluarga yang tinggalnya berjauhan.

Sesuai dengan tradisi, masakan biasanya dibawa dengan rantang atau sejenisnya, karena itu pula mengapa banyak yang menyebut tradisi ini dengan tradisi rantangan.

BACA JUGA:  Sahibul Hikayat: Tradisi Betawi yang Nyaris Tak Terdengar

Hampers makanan tersebut rata-rata diisi dengan sayur gabus pucung, ikan bandeng, dan semur daging kerbau, serta ketupat.

Sementara untuk jajanan, biasanya diisi dengan uli dan tape ketan hitam serta kerupuk kembang ros.

Biasanya, Nyorog ini dilakukan oleh anggota keluarga yang lebih muda kepada yang lebih tua atau pasangan yang baru menikah.

Bukan hanya makanan matang saja yang dibawa, kalau mereka punya rezeki lebih seperti gula, kopi, susu, dan beras pasti akan mereka bawa.

Tradisi Nyekar

Masyarakat Betawi umumnya menjelang datangnya bulan Ramadhan mengadakan tradisi, yaitu mengunjungi makam kerabat mereka yang telah meninggal.

BACA JUGA:  Sambut Ramadhan 2023, Film "Buya Hamka" Rilis Bulan Depan

Mereka berziarah kubur, mendo’akan kerabat atau orang yang mereka cintai agar diampuni segala dosa-dosanya.

Tak hanya jelang bulan puasa, masyarat Betawi juga biasa melakukan nyekar jelang hari raya Idul Fitri.

Tradisi Nisfu Sya’ban

Tradisi Nisfu Sya’ban ini dilakukan pada pertengahan bulan Sya’ban.

Masyarakat Betawi pada sore hari menjelang Maghrib, beramai-ramai mendatangi Musholla, masjid atau rumah pengajian, untuk melakukan tradisi Nisfu Sya’ban (Nisfu-an).

Mereka berkumpul untuk tahlilan dan membaca surat Yaasin berulang-ulang dengan tujuan agar mendapat berkah dan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa.

Biasanya mereka juga menaruh botol-botol air minum saat pengajian, air itu jadi air berkah.

BACA JUGA:  Ngored: Tradisi bersih dan Ziarah Kubur di Betawi

Mandi Merang

Mandi Merang saat ini sudah mulai jarang dilakukan. Jelang bulan puasa, masyarakat Betawi tempo dulu di sekitar kali Ciliwung berkumpul untuk mandi bareng yang disebut mandi merang.

Tentu saja mereka tidak mandi telanjang. Para ibu-ibu memakai kain. Acara siraman itu dengan menggunakan merang, yakni batang padi yang dibakar.

Merang itu direndam kemudian dioleskan ke seluruh tubuh, mulai dari rambut sampai mata kaki.

Siraman dengan air merang bukan hanya dimaksudkan untuk membersihkan badan, tetapi lebih kepada simbol akan pentingnya membersihkan hati. []

Pos terkait