Tren “Friends With Benefit” Bisa Bikin Ketularan HIV?

Tren “Friends With Benefit” Bisa Bikin Ketularan HIV?

Tahukah kamu, kalau Jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia mengalami peningkatan? Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya 427.201 Orang Dalam HIV/AIDS ODHA di Indonesia. Kasus HIV/AIDS di Indonesia kebanyakan berasal dari Jawa Tengah, Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Utara.

Di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, laporan terbaru pada tahun 2021 memaparkan adanya 414 mahasiswa yang terkonfirmasi positif HIV/AIDS. Disinyalir, kultur FWB (Friends With Benefit) yang digandrungi masyarakat muda menjadi salah satu faktor kontribusinya. Dari sebuah penelitian terhadap lebih dari 200 orang mahasiswa di Kota Bandung, 274 orang di kota Bandung terkonfirmasi pernah menjalin hubungan FWB tersebut semasa hidupnya.

FWB? Istilah Apaan Lagi Tuh?

Belakangan ini, topik FWB sedang ramai dibicarakan oleh masyarakat. Sebagai topik yang sensitif, banyak opini yang dilontarkan terkait FWB ini. Meskipun menjadi buah bibir, masih banyak orang-orang yang bingung dan tidak tahu-menahu terkait FWB ini.

Singkatnya, FWB atau friends with benefits atau dalam bahasa Indonesia berarti teman yang menguntungkan adalah hubungan yang mencampurkan aspek persahabatan dengan hubungan fisik yang intim. Untuk memahaminya lebih lanjut, kita perlu mengetahui karakteristik dari FWB itu sendiri, meliputi: 1) hubungan seksual yang intim; 2) ada hubungan persahabatan di antara kedua pihak; dan 3) keduanya berkomitmen untuk tidak melibatkan hati dan menimbulkan rasa suka satu sama lain.

Meskipun demikian, kerap kali orang-orang tidak mempertahankan hubungan persahabatannya ketika FWB dimulai. Maka dari itu, definisi FWB baru bermunculan dan salah satunya adalah hubungan yang melibatkan dua orang yang keduanya dimulai dari pertemanan dan kemudian mulai terlibat dalam hubungan seksual yang intim dalam jangka waktu tertentu dan hubungan tersebut berlangsung tanpa adanya perasaan romantis/cinta.

BACA JUGA:  Dampak Perceraian Terhadap Psikologi Anak

Pada dekade lalu, FWB mungkin lebih akrab dikenal dengan TTM atau Teman Tapi Mesra. TTM merupakan istilah untuk pertemanan yang melibatkan perasaan sayang. Adapun perbedaan konsep TTM dengan FWB adalah TTM tidak mengenal hubungan seksual. Sementara itu, istilah yang kerap kali tertukar dengan FWB adalah ONS atau one night stand. One night stand sendiri ialah sebutan untuk hubungan antara dua orang atau lebih yang melakukan hubungan seksual, tetapi tidak diawali atau melibatkan pertemanan.

Emang Ada yang Mau FWB?

Ada, dong! Bahkan, data menyebutkan setidaknya 50–60% remaja di dunia, khususnya negara-negara Barat, telah terlibat dalam hubungan FWB setidaknya sekali dalam hidupnya. Memang, hubungan FWB ini lebih banyak diadopsi oleh kalangan remaja. Sayangnya di Indonesia, data terkait FWB sulit ditemukan mengingat negara ini menganut norma ketimuran sehingga hubungan FWB kerap tidak pernah secara gamblang diperbincangkan. Namun, telah ada beberapa penelitian yang dilakukan terkait dengan FWB itu sendiri. Penelitian yang dilakukan tahun 2020 menggunakan jumlah sampel sebesar 304 orang. Sementara itu, penelitian yang pernah dilakukan pada tahun yang sama menggunakan jumlah sampel sebesar 178 orang. Meskipun angka tersebut relatif kecil dengan jumlah remaja di Indonesia, hal tersebut membuktikan bahwa kultur FWB ini telah ada di Indonesia, namun statusnya masih tersembunyi.

Belum lagi adanya keberadaan online dating apps atau aplikasi kencan yang membantu memudahkan orang-orang terlibat dalam hubungan FWB ini. Hal tersebut dikarenakan aplikasi kencan mempertemukan orang-orang dengan keinginan yang sama tanpa proses yang panjang; hanya tinggal swipe right (usap ke kanan) dan hubungan FWB dapat terbentuk secara instan. Sebuah studi mengungkapkan bahwa ⅓ pengguna aplikasi kencan terlibat dalam hubungan FWB karena aplikasi tersebut.

BACA JUGA:  Maraknya Kasus Pelecehan Seksual

Penjalin FWB berisiko mengidap HIV/AIDS?

Tentu! aktivitas seksual pra nikah biasanya dilakukan oleh kalangan muda dengan berlandaskan komitmen dalam hubungan romantis. Namun dalam perkembangannya, muncul istilah Friends with benefit atau FWB yang diartikan sebagai hubungan seksual dengan teman tanpa adanya ikatan emosional. Aktivitas seksual yang awalnya sangat lekat dengan keterlibatan perasaan dan komitmen berubah menjadi aktivitas pemenuhan kebutuhan biologis saja.

Maraknya FWB di kalangan muda sangat erat risikonya dengan HIV/AIDS serta Penyakit Menular Seksual lainnya. Menurut Ronald Jonathan, seorang dokter peduli HIV/AIDS, sering kali partner FWB tidak mengetahui status HIV pasangannya dan melakukan hubungan seks tanpa menggunakan pengaman. Dilansir dari laman BBC, Selasa (27/08), seorang pemuda asal Bandung yang merupakan salah satu penjalin FWB, menyatakan bahwa saat berhubungan dengan partner FWB yang lebih tua, ia tidak berani untuk consent atau speak up untuk menggunakan alat kontrasepsi. Apapun yang dilakukan pasangannya, ia akan menerima tanpa perlawanan. Dapat disimpulkan bahwa FWB ini merupakan hubungan seksual tanpa komitmen yang berbahaya karena kedua belah pihak tidak mengetahui dengan siapa saja dan dengan berapa banyak orang partner FWB-nya pernah berhubungan intim. Dalam hal ini, relasi kuasa menjadi salah satu faktor pendorong dilakukannya perilaku seks berisiko.

BACA JUGA:  Minimnya Peran Orang Tua Terhadap Anak Dalam Dunia Pendidikan

Dari tadi ngomongin HIV terus, sebenarnya HIV itu apa sih?

Human Immunodeficiency Virus atau yang biasa disingkat HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, infeksi yang terjadi menyebabkan ketahanan tubuh penderita menjadi menurun sehingga akan lebih mudah terjangkit suatu penyakit. Apabila HIV tidak diobati maka dapat menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (acquired immunodeficiency syndrome). Adapun gejala yang umumnya dialami pada penderita HIV diantaranya adalah demam, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, meriang, ruam, sakit tenggorokan, sariawan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan kerap kali berkeringat di malam hari. Salah satu metode penularan HIV/AIDS, yaitu melalui seks yang tidak aman dengan orang penderita HIV/AIDS, Apabila seseorang berhubungan seksual dengan penderita HIV/AIDS tanpa menggunakan alat pelindung maka partner hubungan seksnya dapat tertular penyakit HIV/AIDS.

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah maraknya FWB guna menekan angka HIV/AIDS dan PMS di Indonesia?

Pencegahan agar tidak terjerumus dalam hubungan Friends With Benefit ini adalah dengan memiliki pendirian yang kuat. Memiliki pendirian yang kuat dapat mencegah diri sendiri dari terbawa arus pergaulan yang semakin bebas. Selain itu, menggunakan sosial media dengan bijak merupakan salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mencegah FWB. Penggunaan sosial media dan online dating apps dewasa ini mempermudah seseorang untuk menemukan partner FWBnya. Maka dari itu, bijaklah dalam bersosial media ya, teman-teman!

Informasi Penulis:
Abellia Auriel Ashilah, Fadhaa Aditya Kautsar Murti, Nindia Ayu Santoso.

Pos terkait