Tumbuhnya Sel Kanker Akibat Konsumsi Ikan

DEPOK POS – Perbincangan mengenai pencemaran plastik di lingkungan perairan telah menjadi atensi di mata dunia saat ini sebab dampaknya yang merugikan ekosistem perairan laut dan pantai. Terlebih lagi dengan terurainya sampah plastik menjadi partikel plastik berukuran mikrometer (mikroplastik) dan nanometer (nano plastik), memungkinkan partikel yang halus masuk ke rantai makanan dan berujung pada manusia sebagai top predator dalam rantai makanan. Telah banyak penelitian dari beragam negara yang menyatakan keberadaan zat ini pada beragam hasil laut (seafood) komersial. Fenomena pencemaran mikroplastik pada hasil laut meningkatkan kesadaran akan ancaman kontaminan ini pada ketahanan dan keamanan pangan.

Polusi plastik di lingkungan saat ini telah menjadi permasalahan yang serius. Plastik meskipun bersifat persisten, seiring dengan waktu dapat terdegradasi menjadi partikel yang lebih kecil. Sampah plastik banyak ditemukan mengapung di laut, dapat terdegradasi oleh sinar 3 ultraviolet, panas, mikroba, dan abrasi fisik menjadi serpihan plastik (Singh & Sharma, 2008).

Mikroplastik adalah potongan plastik yang berukuran sangat kecil, karena ukuran tersebut mikroplastik sangat mudah untuk masuk ke dalam tubuh hewan dan kemudian zat tersebut dapat masuk kedalam tubuh manusia lewat ikan-ikan yang dikonsumsi dan meracuni tubuh manusia. Mikroplastik yang berada pada ikan yang dikonsumsi jika dalam paparan tersebut kandungan mikroplastiknya tinggi maka akan menyebabkan berbagai penyakit diantaranya meningkatnya pertumbuhan sel kanker pada tubuh, memicu adanya reaksi alergi, gangguan hormon, serta gangguan metabolisme tubuh.

BACA JUGA:  Hepatitis B dapat Menular dari Ibu ke Anak? Yuk, Kenali Pencegahannya

Menurut (Agustina, 2014) plastik sebagai material polimer atau bahan pengemas yang dapat dicetak menjadi bentuk yang diinginkan dan mengeras setelah didinginkan. Polimer adalah molekul yang besar yang telah mengambil peran yang penting dalam teknologi karena mudah dibentuk dari satu bentuk ke bentuk lain dan mempunyai sifat, struktur yang rumit.

Plastik terbentuk dari bahan polimer yang dibentuk dari suhu dan tekanan tertentu. Plastik secara umum terbagi menjadi 3 yaitu termoplastik, elastomer, dan termoset. Termoplastik dapat melunak saat dipanaskan dan dapat mengeras saat didinginkan. Termoset memiliki sifat tidak dapat melunak setelah dibentuk. Elastomer adalah polimer yang bersifat elastis dan dapat kembali ke bentuk semula setelah ditarik.

Mikroplastik pertama kali ditemukan pada tahun 1970 (Carpenter et al., 1972 dalam Dehaut et al., 2016). Mikroplastik menurut Lusher dan peter (2017) merupakan unsur plastik dengan ukuran kecil yang kurang dari 5 mm. Mikroplastik sering dijumpai di lingkungan baik pada udara, air, dan tanah. Mikroplastik dapat digolongkan dari segi bentuk, warna dan ukuran. Ukuran menjadi salah satu faktor penting yang memiliki jangkauan efek tertentu saat terkena makhluk hidup. Luas permukaan yang besar berbanding jumlah rasio volume partikel kecil membuat zat mikroplastik memiliki potensi melepas bahan kimia dengan cepat.

BACA JUGA:  Emotional Eating: Pengaruh Stres terhadap Perilaku Makan Mahasiswa

Semua jenis sampah plastik merupakan jenis sampah yang sangat sulit diurai oleh bakteri pengurai yang ada di lingkungan, hal inilah yang menyebabkan sampah jenis ini akan habis dan terurai dalam waktu 50 sampai dengan 200 tahun.

Saat mikroplastik berada di perairan maka akan mengapung didalam air bergantung pada densitas polimernya. Polimer yang memiliki kepadatan lebih dari air laut seperti PVC akan mengalami pengendapan sedangkan pada densitas polimer yang rendah seperti PE dan PP akan mengapung. Saat berada di perairan mikroplastik mengalami Biofouling, tekolonisasi dengan organisme sehingga zat tersebut tenggelam. Zat pada mikroplastik juga dapat terfragmentasi, terdegradasi, dan melepaskan bahan perekat sehingga partikel tersebut mengalami perubahan densitasnya sehingga dapat terdistribusi dengan muda di permukaan maupun dasar perairan.

Zat Mikroplastik bersifat karsinogenik artinya zat tersebut dapat menghasilkan sel kanker di dalam tubuh dengan mengubah zat asam deoksiribonukleat dalam jaringan sel tubuh. Zat mikroplastik yang terkandung di dalam ikan dan dikonsumsi zat tersebut masuk kedalam tubuh manusia dan dapat meningkatkan kadar PSA yaitu protein yang dihasilkan oleh prostat dan menurunkan kadar hormon testosteron yang ada di dalam tubuh. Hal tersebut memicu pertumbuhan sel kanker dalam tubuh seperti kanker usus besar, kanker ginjal, kanker hati, dan kanker pada organ vital lainnya.

BACA JUGA:  Benarkah Kaum Rebahan Berisiko Terkena Diabetes dan Penyakit Jantung?

Mikroplastik adalah salah satu zat yang berbahaya, partikel-partikel kecil tersebut jika terkandung pada makanan yang akan dikonsumsi setiap hari dalam paparan yang sangat tinggi akan berdampak buruk pada kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem. Mikroplastik sangatlah berbahaya, hal ini karena paparan zat mikroplastik yang terkandung dalam makanan sangat mudah untuk masuk kedalam tubuh manusia dan dapat memicu pertumbuhan kanker pada organ organ vital yang sulit untuk disembuhkan. maka dari itu diperlukan adanya kesadaran dan kerja sama masyarakat agar mengetahui bahaya nya zat mikroplastik dengan memahami dan meminimalkan penggunaan barang berbahan plastik yang dapat digantikan dengan wadah daur ulang agar mengurangi jumlah limbah plastik yang dikeluarkan, lalu perlu adanya regulasi yang jelas untuk mengatur limbah mikroplastik.tersebut.

Oleh: Ryan Warjito dan Syafa Aqshel Riandi
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Pos terkait