Vaksinasi HPV pada Siswi Sekolah Dasar, Haruskah?

Vaksinasi HPV pada Siswi Sekolah Dasar, Haruskah?

MAJALAH JAKARTA – Pada April 2022, Kementerian Kesehatan mengumumkan bahwa vaksin Human Papillomavirus atau HPV menjadi salah satu dari tiga jenis imunisasi yang akan ditambahkan dalam rangkaian imunisasi lanjutan anak sekolah dasar pada program tahunan Bulan Imunisasi Nasional.

Rencananya, pelaksanaan imunisasi ini sudah selesai dilakukan di seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota pada tahun 2023 mendatang. Program ini menjadi salah satu upaya pencegahan kanker serviks yang telah menjadi kanker dengan urutan keempat sebagai penyebab kematian pada wanita di seluruh dunia pada tahun 2020. Di Indonesia, kanker serviks menjadi kanker kedua terbanyak yang diderita oleh masyarakat, yakni sejumlah 9.2% pada tahun yang sama.

Sebagian masyarakat mendukung kebijakan tersebut dengan alasan dapat mengurangi angka kematian wanita di Indonesia yang merupakan penyebab kematian tertinggi nomor 2 perempuan di Indonesia. Upaya pencegahan dengan vaksin HPV dianggap lebih tepat dan efektif dibandingkan dengan pap smear sebagai pencegahan sekunder, terlebih lagi jika dilakukan pada usia dini.

Beberapa masyarakat juga setuju dengan pendapat bahwa vaksin lebih efektif dan ekonomis dibandingkan dengan terapi pengobatan kanker serviks. Diantara banyaknya masyarakat yang setuju, tidak sedikit pula yang tidak setuju terhadap program vaksinasi HPV ini.

Keraguan Masyarakat

Masyarakat yang menolak program ini berpendapat bahwa dengan adanya program ini akan menghilangkan rasa takut tertular kanker serviks sehingga semakin mendorong anak-anak maupun remaja untuk melakukan seks berisiko atau hubungan seksual di luar pernikahan. Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNAIR, Dr. dr. Brahmana Askandar, SpOG(K), menyatakan bahwa pemberian vaksin HPV tidak menjamin seseorang akan terhindari 100% dari kanker serviks.

BACA JUGA:  Klorinasi pada Air dapat Mencegah Diare, Mengapa?

Vaksin HPV berfungsi sebagai penurunan risiko secara signifikan sehingga seks berisiko tetap harus dihindari. Penelitian yang dilakukan Brouwer, dkk tahun 2019 di Amerika Serikat menyatakan bahwa setelah melakukan kontrol usia, ras, jenis kelamin, dan penggunaan narkoba, status vaksinasi tidak terkait secara signifikan dengan peningkatan atau penurunan kemungkinan aktivitas seksual. Selain itu, studi yang dilakukan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health juga menyatakan hal yang sama.

Selain itu, seperti yang beredar di media sosial ramai membicarakan vaksin HPV dapat menyebabkan menopause dini. Namun, hal tersebut dibantah oleh Kementerian Kesehatan dengan menjelaskan bahwa hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan kejadian menopause dini dengan penggunaan vaksin HPV. (tambahin data2 yg menunjukkan tdk ada hubungan dgn menopause)

Masyarakat juga meragukan program vaksinasi HPV karena adanya anggapan bahwa program ini hanya dimanfaatkan untuk meraup keuntungan saja. Vaksinasi HPV seperti Gardasil dan Gardasil9 memang merupakan produk dari perusahaan, yaitu Merck Sharp & Dohme Corp.

Sama seperti industri lainnya, industri farmasi tentu menghasilkan uang dari produksi dan penjualan produknya, seperti vaksin. Akan tetapi, perusahaan ini sendiri juga memiliki visi untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan manusia melalui pengobatan dan pencegahan penyakit, tidak hanya semata-mata mencari keuntungan saja. Perusahaan ini pun terus melakukan penelitian yang inovatif terhadap terapi biologis, obat-obatan inovatif, dan produk kesehatan lainnya.

Maka dari itu, keuntungan yang didapat tentu akan dimanfaatkan lagi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat dunia. Di samping itu, vaksin sendiri bukanlah produk paling profitable secara finansial di sektor farmasi. Meskipun demikian, vaksin dapat memberikan keuntungan dalam jangka panjang. Menurut para menteri kesehatan di Uni Eropa, vaksinasi merupakan cara paling efektif dan ekonomis untuk mencegah penyakit menular.

BACA JUGA:  Mentimun untuk Penderita Hipertensi, Apa Saja Manfaatnya?

Penolakan dari Orang Tua

Program vaksinasi HPV yang diwajibkan bagi anak SD juga mendapat penolakan dari orang tua. Para orang tua merasa bahwa wanita yang menderita kanker serviks merupakan wanita yang sudah aktif dalam berhubungan seksual sehingga tidak ada alasan anak usia dini harus mendapat vaksin karena hanya akan membahayakan. Namun, hal tersebut kuranglah tepat.

Pemberian vaksin justru memiliki manfaat paling besar ketika seseorang belum terinfeksi HPV sehingga harus ditujukan kepada anak-anak sebelum mereka menjadi aktif secara seksual. Menurut penelitian di Inggris, terbukti bahwa pemberian vaksin lebih awal dapat meningkatkan penurunan risiko terkena kanker serviks.

Studi tersebut mendapatkan remaja perempuan yang divaksin pada usia 12-13 tahun memiliki penurunan risiko sebesar 87%, remaja yang divaksin pada usia 14-16 tahun memiliki penurunan risiko sebesar 62%, dan remaja yang divaksin pada usia 16-18 tahun risiko kanker serviks menurun hanya 34%.

Selain itu, program vaksinasi HPV kepada siswa kelas 5–6 sekolah dasar (SD) nyatanya sudah diuji coba sejak 6 tahun yang lalu. Pada tahun 2016, DKI Jakarta menjadi kota pertama program ini dilangsungkan.

Kemudian, daerah lainnya, seperti Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Manado, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali menyusul pada tahun 2017–2022. Di tahun 2023, provinsi lainnya akan dilakukan pengenalan terhadap program ini secara nasional.

BACA JUGA:  Dampak Narkoba pada Psikologi dan Kesehatan

Daerah-daerah yang telah terlebih dahulu melakukan program ini memiliki penyerapan vaksin yang cukup baik, contohnya DKI Jakarta yang telah mencapai angka 94,55% serta Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Kuloprogo 99,8% dan Kabupaten Gunung Kidul 99,7%, pada tahun 2018.

Angka penyerapan yang baik di beberapa daerah ini menjadi awal yang baik untuk implementasi vaksinasi HPV pada anak usia sekolah dasar di Indonesia pada tahun-tahun yang akan datang. Pemerintah dapat menginformasikan data ini sebagai bukti kepada masyarakat bahwa vaksinasi HPV dapat diterima di daerah-daerah lain dan tidak menimbulkan dampak-dampak yang dikhawatirkan.

Vaksinasi HPV Untuk Generasi Sehat

Program vaksinasi HPV tentu memiliki tujuan yang baik. Vaksin yang digunakan dapat membantu kita untuk terlindungi dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh HPV, termasuk yang mematikan seperti kanker. Pemberian vaksin HPV kepada anak pun sebenarnya telah direkomendasikan oleh lembaga kesehatan yang terpercaya, seperti WHO dan CDC.

Maka dari itu, pemerintah perlu melakukan sosialisasi vaksinasi HPV dengan harapan nantinya masyarakat khususnya orang tua dapat lebih paham dan mengerti akan pentingnya vaksinasi HPV saat usia dini serta ikut mensosialisasikan kepada masyarakat lainnya. Selain itu, sekolah juga dapat ikut bekerja sama membantu dalam upaya peningkatan pengetahuan vaksinasi HPV dan kesediaan vaksinasi HPV. Sekolah juga dapat meningkatkan program promosi kesehatan tentang pentingnya vaksinasi HPV pada siswi yang bekerja sama dengan instansi kesehatan.

Farah Ainun Nabilah, Jihan Paramita, Rowena Sofia Zepanya

Pos terkait