Yang Tersisa dari Pasar Ikan Tradisional Luar Batang

DEPOKPOS – Di sebuah dermaga yang jauh dari kesan menawan. Bangunan di pasar ikan tradisional Luar Batang tak sekukuh yang terlihat oleh pandangan mata. Perahu-perahu kecil bersandar tanpa tuan dekat tanggul di kawasan Luar Batang berdiri saling berhadapan, meski sebagian atapnya roboh.

Ketika menginjakkan kaki di pasar ikan Luar Batang akan tercium bau yang tak sedap, sampah-sampah plastik mengambang, oli dan lumut menyatu di tiang dermaga, memberi kesan paling kumuh di lubuk pertemuan. Garis polisi kuning membatasi area bangunan. Nasib bangunan itu tak se-tragis bangunan lain di sekitarnya. Alat berat meraung-raung demi merobohkan kios tua di pasar ikan itu.

BACA JUGA:  Perbedaan Produksi Konvensional dan Syariah

Dahulu, lokasi pasar ikan Luar Batang berada di atas laut dan merupakan pasar ikan tradisional tertua di Jakarta. Di sebelah utara ujung dermaga di tempat pelelangan ikan orang-orang ramai saling bersahutan, laki-laki dan perempuan menghitung harga jual pasaran hasil laut yang tertangkap.

Pagi terus merambat pelan menuju terang, mereka yang tengah tertidur perlahan bangun membuka mata. Saat itu, sebelum memasuki kawasan pasar, seluruh kapal harus melewati pos pemeriksaan untuk diperiksa secara ketat. Di pasar ikan ini tak hanya menjual ikan, tetapi peralatan nelayan serta peralatan musik tradisional khas Betawi.

Kala itu, masyarakat sekitar harus menerima fakta bahwa di tahun 2016, tempat mereka mencari nafkah terpaksa harus rata dengan tanah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggusur pasar yang telah berdiri sejak tahun 1897 itu. Petak kios yang tampak kurus hanya terlihat di tiap tiang dan atap genting yang disangga kayu. Semuanya roboh seiring berjalannya waktu.

BACA JUGA:  Kasus KDRT Terjadi karena Perempuan Lemah?

Namun, apalah daya. Pasar ikan tradisional Luar Batang sudah rata dengan tanah. Para pedagang mengambil kayu-kayu yang masih bisa dimanfaatkan. Sebagian warga bertahan di lokasi untuk sementara. Mereka menggunakan atap genting bangunan tempat pelelangan ikan atau gedung Pasar Hexagon sebagai tempat berteduh.

Sebagian dari mereka memilih untuk tinggal di atas perahu. Kehidupan warga pasar ikan Luar Batang bertahan di tanah gusuran. Meski sekitar 300 KK telah direlokasi ke rusun yang dibangun Pemprov DKI, sebagian warga pasar ikan Luar Batang memilih tetap bertahan di tanah kelahiran mereka. Puing-puing dan bangunan semi permanen kini menghiasi kampung tua tersebut.

BACA JUGA:  Manfaat bagi Anak yang Memainkan Lato-lato

Kini, pasar yang dulunya dikenal dengan nama Vischmarkt dipetersisa hanyalah cerita. Pasar ikan tradisional itu dipindahkan ke sebuah dermaga hingga sekarang ini. Namun, pasar ini tak lagi menjual ikan sepenuhnya. Titik-titik di kawasan itu hanya dipadati oleh bangunan warung kelontong.

Nadhifa Fitrina
Mahasiswa Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta

Pos terkait