Komunikasi, Konflik, Motivasi dan Pengambilan Keputusan dalam Proses Kepemimpinan

Komunikasi, Konflik, Motivasi dan Pengambilan Keputusan dalam Proses Kepemimpinan

DEPOK POS – Kepemimpinan/Pemimpin adalah individu yang memimpin, dan kepemimpinan merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan ialah kemampuan untuk mempengaruhi manusia dalam melakukan dan tidak melakukan sesuatu. Para ahli memberikan definisi kepemimpinan, antara lain:

a. Miftah Thoha menyatakan “kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku manusia, baik perseorangan maupun kelompok.”

b.Hadari melihat kepemimpinan dari dua konteks yaitu “struktural dan nonstruktural. Dalam konteks struktural kepemimpinan diartikan sebagai proses pemberian motivasi agar orang-orang yang dipimpin melakukan kegiatan dan pekerjaan sesuai dengan program yang telah ditetapkan. Adapun dalam konteks nonstruktural kepemimpinan dapat diartikan sebgai proses mempengaruhi pikiran, perasaan, tingkah laku, dan mengerahkan semua fasilitas untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama”.

c. Tanembaum dan Massarik menjelaskan “kepemimpinan adalah suatu proses atau fungsi sebagai suatu peran yang memerintah”.

Jadi Kepemimpinan sangat bergantung pada organisasi maupun gaya kepemimpinan. Pemimpin bisa efektif dan tidak efektif dalam situasi tertentu. Untuk meningkatkan efektivitas organisasi, dibutuhkan kemauan untuk belajar bagaimana melatih pemimpin secara efektif, namun juga menciptakan lingkungan organisasi yang pemimpinnya mampu melaksanakan tugasnya sebaik mungking.

Komunikasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam menjalankan proses administrasi dan interaksi antar elemen pada suatu organisasi atau lembaga,baik internal maupun eksternal. Tanpa adanya jalinan komunikasi  yang  baik dan benar  besar kemungkinan semua proses di dalam organisasi/lembaga  tersebut  tidak akan dapat berjalan dengan maksimal dan sesuai  dengan yang  telah direncanakan. Kemampuan komunikasi yang baik akan sangat membantu semua proses yang  ada dalam  suatu  organisasi/lembaga.

Ahli komunikasi mengatakan bahwa “communication is the process of sending and reciving symbols with attach meaning”. Artinya bahwa komunikasi sebagian kegiatan penyampaian informasi dan pengertian dengan menggunakan tanda-tanda yang sama.  Communication is the evoking of a shered or common meaning in another person. (Nelson & Quick,  2006 : 250). Komunikasi adalah untuk membangkitkan pengertian bersama kepada orang lain. Bermkomunikasi merupakan suatu kebutuhan hidup manusia. Dengan berkomunikasi manusia akan dapat  berhubungan  antara satu dengan yang lain, sehingga kehidupan manusia akan bermakna. Disisi lain ada sejumlah kebutuhan dalam diri manusia itu hanya dapat dipenuhi melalau komunikasi dengan sesama. Makin banyak manusia itu melakukan aktivitas komunikasi antara satu dengan yang lainnya, akan semakin banyak informasi yang didapatnya dan semakin besar peluang keberhasilan seseorang itu dalam kehidupannya.

Agar dapat menjalankan kepemimpinannya, seoorang pimpinan setidaknya harus memiliki kompetensi dasar, yakni  1)  mengdiagnosis, 2) mengadaptasi, dan 3) mengkomunikasikan.  Kemampuan diagnosis merupakan kemampuan kognitif  yang dapat memahami situasi saat sekarang dan apa yang diharapkan pada masa yang akan datang.  Kompetensi mengadaptasi adalah kemampuan seseorang menyesuaikan prilakunya dengan lingkungannya. Sedangkan kompetensi mengkomunikasikan terkait dengan kemampuan seseorang dalam menyampaikan pesan-pesannya agar dapat dipahami orang lain dengan baik dan jelas.

Konflik adalah suatu organisasi atau hubungan antara kelompok merupakan suatu yang tidak dapat dihindarkan. Bahwa konflik tidak selalu merugikan kadangkadang dalam batas-batas tertentu justru sangat bermanfaat bagi penciptaan perilaku yang efektif dalam organisasi. Konflik adalah benturan dari bermacammacam paham, perselisihan, kurang mufakat, pergesekan, bahkan perkelahian, perlawanan dengan senjata perang. Konflik menurut Adam Ibrahim Indrawijaya adalah bentuk pertikaian yang terjadi dalam organisasi baik antara seseorang dengan orang yang lain, antara seseorang dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan organisasi atau mungkin pula antara perseorangan dengan organisasi secara menyeluruh.

BACA JUGA:  Komunikasi Non Verbal Terhadap Kepuasan Pelanggan

Berstein, (1965), konflik merupakan suatu pertentangan atau perbedaan yang tidak dapat dicegah, konflik ini mempunyai potensi yang memberikan pengaruh positif dan negatif dalam interaksi manusia. Pimpinan dalam konsep manajemen konflik memiliki pengaruh besar dalam mempengaruhi timbulnya konflik atau bahkan lebih jauh menyelesaikan konflik. Karena itu ada hubungan kuat dari seorang pempinan dalam usaha mempengaruhi menyelesaikan konflik. Yaitu membawa konflik dari negatif ke arah positif. Namun jika konsep pimpinan itu adalah salah maka bisa menimbulkan dampak sebaliknya Oleh karena itu seorang pimpinan harus paham bagaimana mengelolah konflik, yaitu mengubah konflik menjadi motivasi yang mampu mempengaruhi peningkatan produktivitas perusahaan.

Sebab-Sebab Timbulnya Konflik :

Perbedaan persepsi
Ketidakharmonisan pemikiran
Egoisme
Persaingan

Pada umumnya pimpinan lebih suka menghindari konflik karena pemimpin adalah penyembuh luka daripada menjadi stimulator konflik. Seperti dijelaskan di atas, tidak semua konflik merugikan, justru kalau dapat dikelola dengan baik maka suasana baru akan muncul di lingkungan organisasi tersebut, gairah kerja akan muncul kembali pasca konflik. Organisasi tanpa konflik akan terasa hambar, tidak ada dinamika. Berkaitan dengan hal tersebut, ada bebarapa cara untuk merangsang timbulnya konflik antara lain:

(a) komunikasi diputuskan/dikacaukan;
(b) mengacau struktur organisasi;
(c) menempatkan orang-orang yang mayoritas ringan dan punya banyak masalah untuk menjadi tenaga pimpinan.

Motivasi adalah perpaduan antara keinginan dan energi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses kepemimpinan, motivasi merupakan sesuatu yang esensial dalam kepemimpinan, karena memimpin adalah memotivasi. Seorang pemimpin harus bekerja bersama-sama dengan orang lain atau bawahannya, untuk itu diperlukan kemampuan memberikan motivasi kepada bawahan.

Kepemimpinan mempunyai kaitan yang erat dengan motivasi, sebab keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat bergantung kepada kewibawaan, dan juga pemimpin itu di dalam menciptakan motivasi di dalam diri setiap orang bawahan maupun atasan pemimpin itu sendiri. Orang dapat termotivasi karena kepercayaan, nilai, minat, rasa takut, dan sebagainya. Diantaranya adalah faktor internal seperti kebutuhan, minat, dan kepercayaan. Faktor lainnya adalah faktor eksternal, misalnya bahaya, lingkungan, atau tekanan dari orang yang dikasihi.

Kepemimpinan mempunyai kaitan yang erat dengan motivasi, sebab keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat bergantung kepada kewibawaan, dan juga pemimpin itu di dalam menciptakan motivasi di dalam diri setiap orang bawahan maupun atasan pemimpin itu sendiri. Seorang pemimpin memotivasi pengikut melalui gaya kepemimpinan tertentu yang akan menghasilkan pencapaian tujuan kelompok dan tujuan individu. Pengikut yang termotivasi akan berusaha mencapai tujuan secara sukarela dan selanjutnya menghasilkan kepuasan. Motivasi timbul karena adanya kebutuhan yang ingin dipenuhi. Kebutuhan ini menimbulkan keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhinya. Di sisni kebutuhan dapat dilihat sebagai kekurangan (defisiensi) yang dialami individu pada waktu tertentu. Kekurangan tersebut dapat bersifat fisik (misalnya : kebutuhan akan makanan), psikologis (misalnya : kebutuhan untuk beraktualisasi diri), atau sosiologis (misalnya : kebutuhan untuk interaksi sosial).

BACA JUGA:  Ekonomi Syariah: Prinsip dan Implementasinya

Motivasi  menunjuk pada kekuatan baik internal maupun eksternal terhadap seseorang yang mampu membangkitkan antusiasme dan ketekunan untuk melakukan suatu tindakan tertentu.  Dengan demikian motivasi kerja seorang karyawan dipastikan akan mempengaruhi produktivitas yang hendak dicapai oleh perusahaan. Ini berarti juga bahwa menjadi bagian dari pekerjaan seorang pemimpin untuk mendorong dan menyalurkan motivasi pengikutnya terhadap pencapaian visi dan sasaran organisasi.

Berbagi studi tentang motivasi membantu para pemimpin memahami apa yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan, apa yang mempengaruhi pilihan tindakannya, dan mengapa mereka bertahan dalam tindakan itu dari waktu ke waktu. Artinya, dengan memahami motivasi seseorang akan mudah untuk memahami mengapa dia berperilaku atau bertindak sesuatu, dan bahkan berperilaku tertentu dalam jangka waktu tertentu, serta cerminan dari apa yang menjadi mimpi dalam hidupnya. Dari berbagai referensi/literature, dari sisi model atau kerangkanya teori motivasi, dapat dipahami bahwa ada tiga elemen dasar sebuah motivasi, yaitu, ada kebutuhan (needs) yang mendorong munculnya perilaku (behavior), dan mengharapkan ganjaran (reaward).

Motivasi menurut Kenneth Gangel, dalam bukunya “Competent to Lead”, menunjukkan bahwa orang tidak termotivasi untuk bekerja lebih baik, karena dia mendapat gaji yang lebih tinggi atau tunjangan yang lebih banyak. Motivasi adalah suatu fenomena psikologis, sehingga kita perlu mengetahui pendapat dari para psikolog. Mungo Miller, pimpinan Affiliated Psychological Services, mencetuskan enam prinsip umum motivasi sebagaimana di bawah ini:

  • Motivasi adalah proses psikologis, atau lebih tepatnya proses emosional, bukan logis.
  • Motivasi pada dasarnya adalah proses yang tidak kita sadari. Tindakan yang kita atau orang lain lakukan mungkin saja tampak tidak logis, namun bagi orang yang melakukannya, tindakannya tampak wajar dan masuk akal.
  • Motivasi bersifat individual. Tingkah laku seseorang bersumber dari dirinya sendiri.
  • Motivasi tiap orang berbeda, begitu juga setiap individu bervariasi dari waktu ke waktu.
  • Motivasi adalah proses sosial. Tak dapat diingkari, bahwa terpenuhi atau tidaknya kebutuhan kita tergantung dari orang lain.
  • Dalam tindakan sehari-hari, kita dipandu oleh kebiasaan yang bersumber dari motivasional di masa lalu.

Pengambilan keputusan adalah proses menyeleksi sejumlah alternatif pengambilan keputusan penting bagi manajer administrator karena proses ini berperan aktif dalam memotivasi kepemimpinan, komunikasi, koordinasi, dan perubahan organisasi. Weyne dan Miskel (2014:490) menjelaskan “pengambilan keputusan merupakan tanggung jawab semua penyelenggara sekolah, namun sebelum keputusan diubah menjadi tindakan, maka keputusan tersebut tidak lebih baik dari iktikad baik”. Selain itu, Usman, (2013:440) berpendapat “pemutusan merupakan syarat mutlak bagi administrasi pendidikan karena sekolah, seperti halnya semua organisasi formal, pada dasarnya berupa pengambilan keputusan”. dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses penyelesaian persoalan melalui penetapan pilihan dari beberapa alternatif untuk menentukan sebuah tindakan dalam mencapai tujuan yang disepakati.

Proses Pengambilan Keputusan diartikan sebagai tahapan yang dilakukan oleh pembuat keputusan dalam memilih alternatif yang disediakan. Langkah sistematis yang perlu dilakukan dalam mengambil keputusan yaitu: 1. Pengambilan keputusan : Proses penyelesaian masalah yang menghalangi pencapaian tujuan. Agar masalah dapat dipecahkan, terlebih dahulu harus dikenali apa masalahnya. 2. Mencari alternatif pemecahan : Setelah masalah dikenali, selanjutnya mencari alternatif yang mungkin dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dalam mencari alternatif hendaknya tidak memikirkan masalah eisiensi dan efektivitas. Yang terpenting adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya alternatif, dan setelah alternatif terkumpul, barulah disusun berurutan dari yang paling diinginkan sampai yang tidak diinginkan. 3. Memilih alternatif: Setelah alternatif tersusun, selanjutnya dilakukan pilihan alternatif yang dapat memecahkan masalah dengan cara yang paling efektif dan eisien. Sebelum menjatuhkan pilihan pada sebuah alternatif, ajukan pertanyaan untuk tiap-tiap alternatif. 4. Pelaksanaan alternatif : Setelah alternatif terpilih, tibalah saatnya untuk melaksanakan alternatif tersebut dalam bentuk tindakan yang pelaksanaannya harus berdasarkan rencana, agar tujuan memecahkan masalah dapat tercapai. 5. Evaluasi : Setelah alternatif dilaksanakan, proses pengambilan keputusan belumlah selesai. Pelaksanaan alternatif harus terus diobservasi, apakah hal ini berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Bila langkah-langkah pelaksanaan telah dilakukan dengan benar tetapi hasil yang dicapai tidak maksimal, sudah waktunya untuk mempertimbangkan kembali pemilihan alternatif lainnya. Tidak maksimalnya hasil yang dicapai mungkin terjadi karena pengaruh negatif potensial benar-benar terjadi, atau mungkin pengaruh negatif yang tadinya tidak diperkirakan.

BACA JUGA:  Keunikan Air dalam Sudut Pandang Fisika

Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Usman, Husaini (2013 : 312) “kemajuan suatu organisasi dipengaruhi oleh cara pemimpin dalam mengambil keputusan”. Telah dilakukan beberapa penelitian yang searah dengan pendapat Usman (2013) tersebut. Penelitian tersebut menghasilkan temuan yaitu “suatu sistem pengambilan keputusan dapat membantu proses pemilihan berdasarkan kriteria-kriteria yang ditentukan sehingga bisa dilakukan proses perhitungan yang lebih efektif dan efesien”. 1) Terdapat pengaruh positif dan signiikan pada kecerdasan emosi yang dimiliki dan direalisasikan kepala sekolah terhadap implementasi peran kepemimpinan; 2) Pengambilan keputusan memiliki pengaruh yang positif dan signiikan terhadap implementasi peran kepemimpinan.

Pengambilan keputusan sangat esensial dalam menghasilkan keputusan yang baik yang dilakukan dengan langkah-langkah sistematis antara lain menentukan dasar pemikiran, pengidentiikasian alternatif-alternatif, alternatifalternatif dilihat dari sudut tujuan yang mau dicapai dan pemilihan suatu alternatif, yaitu suatu pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan mereleksikan proses melalui cara untuk menyelesaikan suatu masalah.

Adapun tujuan artikel ini yaitu untuk mengetahui peran kepemimpinan dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan yang ada dalam sebuah organisasi/ kepemimpinan dengan proses kepemimpinan.

Kepemimpinan/Pemimpin adalah individu yang memimpin, dan kepemimpinan merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan ialah kemampuan untuk mempengaruhi manusia dalam melakukan dan tidak melakukan sesuatu. Kepemimpinan sangat bergantung pada organisasi maupun gaya kepemimpinan”. Pemimpin bisa efektif dan tidak efektif dalam situasi tertentu. Untuk meningkatkan efektivitas organisasi, dibutuhkan kemauan untuk belajar bagaimana melatih pemimpin secara efektif, namun juga menciptakan lingkungan organisasi yang pemimpinnya mampu melaksanakan tugasnya sebaik mungking.

Pemimpin adalah seseorang yang melaksanakan beberapa hal yang benar.. Kepemimpinan seseorang dalam sebuah organisasi sangat besar perannya dalam setiap pengambilan keputusan, sehingga membuat keputusan dan mengambil tanggung jawab terhadap hasilnya adalah salah satu tugas pemimpin. Kepemipinan dalam Pengambilan keputusan sangat esensial dalam menghasilkan keputusan yang baik yang dilakukan dengan langkah-langkah sistematis antara lain menentukan dasar pemikiran, pengidentiikasian alternatif-alternatif, alternatif-alternatif dilihat dari sudut tujuan yang mau dicapai dan pemilihan suatu alternatif, yaitu suatu pengambilan keputusan. Jadi pemimpin memimiliki proses dalam bermimpin guna menyelesaikan suatu masalah seperti yang sudah dijelaskan diatas.

Firda Febriyanti
Mahasiswi Administrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Pos terkait