<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Santri Arsip - MAJALAH JAKARTA</title>
	<atom:link href="https://majalahjakarta.id/tag/santri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahjakarta.id/tag/santri/</link>
	<description>Portal Berita Jakarta dan Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 16 Nov 2025 11:29:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.3</generator>

<image>
	<url>https://majalahjakarta.id/go/wp-content/uploads/2025/08/MJ-100x100.jpg</url>
	<title>Santri Arsip - MAJALAH JAKARTA</title>
	<link>https://majalahjakarta.id/tag/santri/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Santri Nurul Ikhsan Bersama Warga Jagapura Wetan Wujudkan Aksi Peduli Lingkungan</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/santri-nurul-ikhsan-bersama-warga-jagapura-wetan-wujudkan-aksi-peduli-lingkungan/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/santri-nurul-ikhsan-bersama-warga-jagapura-wetan-wujudkan-aksi-peduli-lingkungan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2025 11:29:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=88882</guid>

					<description><![CDATA[<p>CIREBON — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Ahad (16/11/2025), santri Yayasan Generasi Al-Qur’an Nurul Ikhsan di Desa Jagapura Wetan,...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/santri-nurul-ikhsan-bersama-warga-jagapura-wetan-wujudkan-aksi-peduli-lingkungan/">Santri Nurul Ikhsan Bersama Warga Jagapura Wetan Wujudkan Aksi Peduli Lingkungan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CIREBON</strong> — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Ahad (16/11/2025), santri Yayasan Generasi Al-Qur’an Nurul Ikhsan di Desa Jagapura Wetan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengikuti program Edu Environment atau edukasi lingkungan. Kegiatan ini bertujuan membentuk santri sebagai garda terdepan dalam menjaga lingkungan serta menjadi pionir penanaman pohon buah dan tanaman hias.</p>
<p>Melalui halaqah berkelompok, para santri melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan Masjid Nurul Ikhsan dan area belajar mengaji. Aksi Santri Peduli Lingkungan tersebut dipandang sebagai wujud keimanan. “Menjaga kebersihan adalah bagian dari ajaran Rasulullah SAW. Kami ingin santri memahami bahwa merawat alam juga termasuk ibadah,” ujar Ketua Pelaksana, Ustadzah Fatikhatul Jannah, S.Ag., Hafidzah.</p>
<p>Kegiatan ini tidak hanya diikuti santri, tetapi juga melibatkan pengasuh, pengurus yayasan, orang tua atau wali santri, aparatur Desa Jagapura Wetan, para imam masjid, jamaah Masjid Nurul Ikhsan, serta tokoh masyarakat. Mereka mendukung penuh kegiatan yang dinilai berdampak pada kebiasaan hidup bersih dan sehat di lingkungan desa.</p>
<p>Dalam sesi edukasi lapangan, para santri diajarkan teknik dasar menanam dan merawat tanaman serta pentingnya tidak merusak pepohonan. Santri juga dibimbing untuk menghemat penggunaan air, bijak menggunakan listrik, serta tidak memubazirkan makanan. “Kami ingin membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab lingkungan sejak usia dini,” tambah Ustadzah Fatikhatul Jannah.</p>
<p>Pada aksi penghijauan, sebagian pot tanaman dibuat dari botol bekas air mineral Leminerale yang didaur ulang menjadi media tanam. Langkah ini ditujukan untuk menumbuhkan budaya reuse dan recycle, sekaligus mengurangi penggunaan plastik.</p>
<p>Pembina Yayasan Generasi Al-Qur’an Nurul Ikhsan, Dr. KH. Ikhsan Abdullah, SH., MH., yang juga Wakil Sekjen MUI dan Katib Syuriyah PBNU, mengapresiasi keterlibatan seluruh unsur dalam kegiatan tersebut. “Santri harus hadir sebagai teladan dalam menjaga lingkungan. Inisiatif kecil seperti menanam, merawat, dan tidak membuang sampah sembarangan adalah bagian dari akhlak yang harus dijaga,” ujarnya.</p>
<p>Ikhsan menegaskan bahwa upaya menjaga kelestarian lingkungan harus dimulai dari pendidikan. “Ketika santri dibiasakan peduli sejak dini, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang mampu mengajak masyarakat untuk bersama-sama merawat bumi,” kata Ikhsan.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/santri-nurul-ikhsan-bersama-warga-jagapura-wetan-wujudkan-aksi-peduli-lingkungan/">Santri Nurul Ikhsan Bersama Warga Jagapura Wetan Wujudkan Aksi Peduli Lingkungan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/santri-nurul-ikhsan-bersama-warga-jagapura-wetan-wujudkan-aksi-peduli-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/res.cloudinary.com/dfrmdtanm/images/c_scale,w_448,h_252,dpr_2/f_auto,q_auto/v1763292485/20251116050228_normal/20251116050228_normal.jpg?_i=AA&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Mereka Bangga Jadi Santri</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/mereka-bangga-jadi-santri/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/mereka-bangga-jadi-santri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2025 13:04:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=87919</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Kalimat saya bangga jadi Santri meluncur ke luar dari mulut salah seorang santriwati pondok pesantren peradaban...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/mereka-bangga-jadi-santri/">Mereka Bangga Jadi Santri</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></p>
<p>Kalimat saya bangga jadi Santri meluncur ke luar dari mulut salah seorang santriwati pondok pesantren peradaban Uswatun Hasanah, lembaga pendidikan Islam di bawah pimpinan intelektual progresif, Dr. Fuad Jabali,MA, di Cicalengka, daerah perbatasan Bandung Selatan &#8211; Garut.</p>
<p>Ia, sebut saja namanya Halimah Sa’diyah. Ia sangat luar biasa saat sambutan dan membacakan puisi tentang pesantren. Halimah Sa’diyah bukan berasal dari keluarga berada. Ia berasal dari keluarga miskin dan dhu’afa. Ia datang ke pondok pesantren Uswatun Hasanah di antar orang tuanya yang papa dan dha’if.</p>
<p>Sama seperti anak-anak santri lainnya. Mereka datang tidak membawa apa-apa untuk menjadi santri. Hanya bawa diri dan cita-cita yang disimpan dalam angannya. Mereka orang miskin dari keluarga buruh tani. Mereka ingin menjadi orang sukses, seperi KH. Fuad Jabali, MA. Tokoh pesantren yang jadi idola mereka.</p>
<p>Di daerah tempat kelahiran itulah pondok pesantren Uswatun Hasanah berada. Pesantren yang semuanya gratis. Dalam sambutannya, pimpinan pondok pesantren ini menyampaikan bahwa dahulu lembaga ini memiliki segalanya, semua fasilitas ada, mulai dari fasilitas pendidikan, olah raga, peralatan musik dan lain sebagainya.</p>
<p>Kondisi ini terjadi ketika pondok pesantren Uswatuh Hasan dipimpin oleh pendirinya, Dr.H. ILI SASMITAATMAJA. Beliau adalah seorang pengusaha dan kontraktor besar yang sudah memiliki hubungan dengan para pengusaha Jerman.</p>
<p>Waktu itu, ia juga memiliki hubungan erat dengan presiden Sukarno, dan Mohammad Nasir, sehingga Sukarno dan Mohammad Nasir berkeingin menjadikan pesantren ini menjadi salah satu pusat peradan Islam di Jawa Barat. Karenanya, nomenklatur ini tetap dipertahankan hingga kini, Pesantren Peradaban.</p>
<h3>Pondok Pesantren Uswatun Hadsanah: Mulai bertfansformasi</h3>
<p>Di pondok ini, yang awalnya dikenal sebagai pondok modern (khalaf), dan bermazhab salah satu ORMAS Islam, Persis, bahasa, Arab dan Inggris menjadi sangat penting. Mereka berkomunikasi dengan menggunakan dia bahasa tersebut.</p>
<p>Karenanya, saat kami disambut oleh para santri, mereka yang masih berusia belasan tahun, paling tua berusia 15 tahun, usia pelajar SMP (belum ada SMA), sudah sangat fasih berbahasa asing. Padahal, mereka secara khusus tidak tidak fokus pada pada bahasa, tapi selalu dipraktikkan dalam berkomunikasi dehati-hari.</p>
<p>Tetapi, setelah sekian lama lembaga pendidikan sempat terhenti karena banyak hal, salah satunya kurang donasi setelah pendiri dan pimpinannya wafat, semua kegiatan tersendat bahkan nyaris terhenti, karena ketiadaan dana dan tidak ada dana untuk membayar para asatidz.</p>
<p>Terlebih, memang, sejak awal para santri di sini tidak dipungut biaya apapun untuk proses pembelajaran. Melihat kenyataan ini, akhirnya, mantan santri senior yang sudah dianggap berhasil, dan sudah melanglang buana menjadi seorang intelektual, Dr.H. Fuad Jabali,MA, terpanggil nuraninya untuk mengelola pondok pesantren ini, tanpa dibayar.</p>
<p>Bahkan dia sendiri berusaha mencari donatur untuk membantu pembiayaan pengembangan pesantren ini. Sejak saat itulah, pondok pesantren ini yang dahulunya tidak akomodatif terhadap _*Turats _*, mulai mengakomodasi segala hal berkaitan dengan warisan tradisi.</p>
<p>Kajian kitan Turats, seperti kitab-kitab kuning mulai dikaji. Untuk itu, KH. Dr. Fuad Jabali,MA, mengajak para asatidz alumni pondok pesantren tradisional untuk membantunya mengajar di Pesantren Uswatun Hasanah.</p>
<p>Dan mulailah pesantren ini bertranformasi dari pondok pesantren yang tidak mengakomodasi tradisi pesantren (Turats), mulai mempraktikkan tradisi tersebut di lembaga pendidikan Islam ini. Ia mempunyai cita-cita besar untuk mengembalikan pondok pesantren ini kembali menjadi pusat peradaban Islam, tidak hanya untuk Jawa Barat, juga untuk Indonesia, bahkan Dunia. Kita berdo’a dan membatu semampu kita untuk mewujudkan cita-cuta mulia KH.Dr.Fuad Jabali,MA. InsyaAllah.(odie).</p>
<p>Pondok pesantren yang ada di Indonesia, merupakan ibarat Kawah Candra Dimuka, tempat meniti dan menimba ilmu pengetahuan, agama dan umum. Dari tahun ke tahun, jumlah lembaga pendidikan ini kian bertambah, baik pesantren tradisional (Salafiyah), maupun pesantren modern (khalafiyah). Bahkan yang dahulunya hanya berfokus Tafaqquh fi al-Dien’ mengkaji kitab klasik, yang dikenal sebagai *Kitab Kuning, kini tidak hanya kajian *kitab al-Turats</p>
<p>Murodi al-Batawi<br />
Pamulang,21 Juli 2025.</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/mereka-bangga-jadi-santri/">Mereka Bangga Jadi Santri</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/mereka-bangga-jadi-santri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/res.cloudinary.com/dmshe0vyl/images/v1753102897/Gambar-WhatsApp-2025-07-21-pukul-09.38.47_947550d0-FILEminimizer/Gambar-WhatsApp-2025-07-21-pukul-09.38.47_947550d0-FILEminimizer.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Santri dan Soempah Pemoeda</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/santri-dan-soempah-pemoeda/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/santri-dan-soempah-pemoeda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Oct 2024 01:58:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=77453</guid>

					<description><![CDATA[<p>MJ. Tangerang &#8211; Dalam tradisi Pesantren, ada adagium berbunyi أنتم شبان اليم رجال الغد, “Kalian Pemuda, akan menjadi pemimpin di...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/santri-dan-soempah-pemoeda/">Santri dan Soempah Pemoeda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MJ. Tangerang</strong> &#8211; Dalam tradisi Pesantren, ada adagium berbunyi أنتم شبان اليم رجال الغد, “Kalian Pemuda, akan menjadi pemimpin di masa datang. Adagium ini merupakan bagian dari Mahfudzat, sebuah kitab berisi ungkapan, pepatah atau kalimat baik yang menjadi bahan pelajaran yang mesti dihafal di luar kepala. Hampir sebagian besar para santri dan penghuni pondok pesantren sudah mengetahui kalimat itu semua, bahkan sudah menghafal dan mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang.</p>
<p>Karena unumnya para santri adalah pemuda yang berusia antara 13-18 tahun, maka mereka juga berhak mengetahui peran yang mereka mainkan dalam sejarah bangsa ini, yang sudah berusia 96 tahun. Hampir satu abad peristiwa bersejarah yang dilakukan oleh generasi muda pada 1928, sebuah peristiwa yang mampu mengumpulkan dan menyatukan visi misi kaum muda untuk menuju kemerdekaan Negara Indonesia.</p>
<p>Para pemuda melakukan perkumpulan para pemuda yang datang dari seluruh daerah Indonesia. Mereka mengadakan rapat yang dimulai pada 27-28 Oktober 1928. Mereka menamakan diri dan disematkan asal daerah masing-masing. Ada Jong Java, Jong Islmitent Bond, Perkumpulan Kaum Muda Betawi, Sekar Torkoen Pasundan, Jong Batak, Jong Celebes, dan lain-lain. Semua berkumpul di Jakarta dan mengadakan rapat kaum muda membicarakan langkah-langkah strategis untuk mempercepat gerakan kemerdekaan negara Indonesia.</p>
<p>Setelah mendengar hasil rapat, maka Kaoem Moeda Indonesia pada 28 Oktober 1928, mereka membacakan hasil keputusan yang sudah dirumuskan.</p>
<p>Untuk itu, mereka sepakat menjadikannya sebagai tonggak bagi perjuangan untuk memerdekakan Negara Indonesia.</p>
<h3>Santri dan Sumpah Pemuda</h3>
<p>Lalu pertanyaan yang mesti dimajukan dalam konteks ini adalah di mana peran kaum sarungan saat rapat dan pembacaan teks Soempah Pemoeda pada 1928 itu…?</p>
<p>Dari hasil penelusuran, belum ditemukan tokoh berasal dari pesantren yang terlibat langsung dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Kemungkinan, secara tidak langsung ada yang hadir dalam Kongres Pemuda tersebut perwakilan dari kaum pelajar, meski tidak ikut dalam prosesi dan pembacaan teks Sumpah Pemuda pada 1928.</p>
<p>Setelah mereka menyepakati hasil Kongres tersebut, mereka sepakat untuk terus berjuang menggerakkan para pemuda dan masyarakat, termasuk para santri bersatu untuk memerdekakan negara Indonesia yang sangat mereka ciintai.</p>
<p>Hal ini terbukti, para Kyai dan ulama dari seluruh Indonesia sepakat mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia. Hal ini terbukti, KH, Hasyim Asyari, mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad yang mampu menggerakkan para ulama dan santri untuk berjuang dan mempertahankan Negara Republik Indonesia dari penjajahan kembali yang ingin dilakukan Belanda dengan mendompleng serdadu KNIL dan tentara Inggris.</p>
<p>Resolusi Jihad boleh dibilang sebagai puncak dari perjuangan umat Islam dan bangsa Indonedia pada umumnya dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesita dsri penjajahan kembali.</p>
<p>Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Santri yang juga kaum muda, telah memainkan peran yang sangat penting dalam pergerakan dan perjuangan kemerdekaan dan mempertahankannya dari kesewenangan bangsa lain yang ingin menjajah bangsa Indonesia yang sudah dimerdekakan oleh para pejuang muslim dari para penjajah Belanda, Jepang dan Inggris.</p>
<p>Wallau ‘Alam bi sl-Shawab.<br />
Pamulang,28 Oktober 2024</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/santri-dan-soempah-pemoeda/">Santri dan Soempah Pemoeda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/santri-dan-soempah-pemoeda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://majalahjakarta.id/go/wp-content/uploads/2024/10/Screenshot_20241028-201000_copy_606x374.jpg" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
