Upaya Mengajarkan Sikap No Bully pada Anak Usia Dini

 

Penting halnya untuk kita sebagai orang tua untuk memfasilitasi setiap aspek-aspek perkembangan mereka mulai dari didik mengembangkan potensi baik psikis maupun fisik yang meliputi nilai-nilai moral dan agama, sosial, emosional, kognitif, fisik/motoric.

Semua aspek yang disebutkan membutuhkan pengembangan dan penerapan sehingga menjadikan siswa/murid mempunyai kemampuan dalam tiap tiap aspek tersebut. Salah satunya yang perlu ditingkatkan pada Anak Usia Dini yaitu aspek perkembangan Sosial-emosional dan kemandirian dan aspek perkembangan Bahasa, kenapa? Karna didalam Usia Dini anak masih belum bisa mengendalikan emosinya dengan baik maka dari itu perkembangan Sosial-emosional dan kemandirian bertujuan untuk memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi atau kesadaran diri, menetapkan dan mencapai tujuan positif dalam pengelolaan diri, merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain dari kesadaran sosial. Dalam perkembangan ini tentu saja banyak terdapat dari dalam diri anak termasuk perubahan sosial emosional yang didasarkan pada perilaku anak.

Perkembangan Sosial Emosional anak usia dini sangat dipengaruhi oleh faktor perlakuan lingkungannya. Dan dalam hal ini Selain perlakuan yang baik , terdapat pula perlakuan buruk yang berupa tindak kekerasan seperti perilaku bullying. Perilaku bullying adalah perilaku yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan tujuan ingin menyakiti orang lain.

Dalam perkembangan Sosial Emosional anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari kondisi kesehatannya, kurangnya kemampuan anak dalam menyesuaikan diri dan emosi atau yang biasa disebut temperamen yang berlebihan. Selain itu, perkembangan sosial emosional anak juga dapat terpengeruh dari lingkungannya. Dan lingkungan yang dapat membentuk perkembangan anak tentu saja mempunyai pengaruh positif dan ada juga pengaruh negatif diantaranya perilaku bullying.

Dalam kasus bullying mempunyai banyak macamnya mulai dari bullying fisik dan psikis. Hal ini dapat menyebabkan dampak negative dalam perkembangan sosial emosional pada anak. Perilaku bullying dalam konteks fisik adalah yang menunjukkan seseorang melakukan kekerasan secara fisik terhadap korban, misal mendorong korban sampai terjatuh, menjambak rambut/kerudung korban dengan sengaja. Dan perilaku bullying dalam konteks psikis adalah perilaku seseorang yang lebih mengarah kepada mengejek, mengolok-olok dan sejenisnya, meskipun kelihatannya sederhana tetapi perlakuan ini dapat menimbulkan gangguan pada sosial emosional bagi korban.

BACA JUGA:  Implementasi Kafalah dalam Kehidupan Sehari Hari

Makna bullying yang disampaikan oleh Badan UNICEF yaitu, Bullying adalah pola perilaku, bukan insiden yang terjadi sekali-kali. Anak-anak yang melakukan bullying biasanya berasal dari status sosial atau posisi kekuasaan yang lebih tinggi, seperti anak-anak yang lebih besar, lebih kuat, atau dianggap populer sehingga dapat menyalahgunakan posisinya.

Dalam peristiwa bullying ini umumnya terjadi pada anak-anak. Kenapa anak-anak? Karena Anak-anak yang paling rentan menghadapi risiko lebih tinggi untuk di-bully seringkali adalah anak-anak yang berasal dari masyarakat yang terpinggirkan, anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah, anak-anak dengan penampilan atau ukuran tubuh yang berbeda, anak-anak penyandang disabilitas, atau anak-anak migran dan pengungsi.

Hal yang dapat memperkuat bullying terjadi pada anak usia dini adalah perkembangan sosial emosional anak yang ditandai dengan munculnya perilaku anak yang kurang baik di sekolah maupun di rumah. Kasus ini juga bisa terlihat dari anak yang kurang beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Dengan ini dapat dikatakan bahwa anak usia dini merupakan bagian dari masyarakat yang rentang terhadap perilaku kekerasan. Pada anak usia dini, perilaku bullying lebih sering seperti mengejek, suka memukul, suka berkata kasar, merusak mainan teman dan sebagainya. Dalam kasus ini, ini menjadi suatu hal yang penting karena anak belum memperoleh pendekatan yang tepat sehingga muncul resiko akan menunjukkan perilaku bullying terhadap teman atau lingkungannya

Bullying dapat memiliki efek berbahaya dan jangka panjang pada anak-anak. Selain efek fisik dari intimidasi, anak-anak dapat mengalami masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, yang dapat menyebabkan penyalahgunaan zat dan prestasi yang buruk di sekolah. Tidak seperti intimidasi pribadi, cyberbullying dapat terjadi di mana saja, kapan saja. Ini dapat menyebabkan kerusakan besar karena dapat dengan cepat menjangkau audiens yang besar dan meninggalkan jejak online yang bertahan lama untuk semua orang yang terlibat.

BACA JUGA:  Mengisi Akhir Pekan dengan Belajar Membatik

Dalam hal ini, tindakan bullying pada AUD maupun pada remaja tidak pernah ada yang membenarkan hal tersebut. Selain karna hal tersebut membuat anak merasa tidak nyaman, tindakan bullying juga dapat berdampak serius terhadap psikologis anak. Sebagai upaya pecegahan terhadap perilaku bullying pada anak usia dini, maka orang tua dapat melakukan hal-hal berikut ini;

Membangun karakter anak, karna anak yang mendapatkan tindakan bullying ini biasanya cenderung pemalu. Maka dari itu, para orang tua harus mengajari cara bersosialisasi kepada anak agar mereka dapat bergaul dan beradaptasi dengan baik di lingkungan yang baru. Untuk memulai hal ini, Anda dapat mengajak anak untuk berjalan-jalan di sekitar kompleks agar ia dapat bertemu teman sebayanya dan menjalin hubungan pertemanan dengan baik.

Ajari anak untuk terbuka, biasanya korban bullying ini cenderung tidak berani mengatakan bahwasannya ia mendapatkan tindakan tersebut. Mereka biasanya cenderung untuk memendamnya sendiri hingga beresiko mengalami depresi. Maka dari itu, Sebagai orang tua, tentu saja kita tidak menginginkan anak kita mengalami dampak yang lebih buruk akibat perilaku bullying. Oleh sebabb itu, sangat penting untuk mengajarkan sikap terbuka pada anak sejak dini. Tekankan padanya bahwa sikap terbuka akan membuat anak mendapatkan dukungan secara penuh dari orang tua dan guru, sehingga anak tidak perlu khawatir dengan dampak bullying yang terjadi.

Menjalin persahabatan, tak jarang tindakan bullying ini biasanya karna perilaku bullying pada anak usia dini dapat terjadi karena mereka kurang memahami cara beteman atau menjalin hubungan pertemanan yang lebih intens. Dalam hal ini, para orang tua bisa mengajarkan kepada anak mengenai strategi dalam bersosialisasi dan menjalin persahabatan dengan anak sebayanya.

Ajarkan anak caranya untuk menjaga dirinya, kita perlu memastikan pada anak mengenai caranya menjaga diri sendiri. agar anak dapat menjaga dirinya sendiri terutama ketika bergaul dengan teman-temannya. Di samping itu, kita juga harus memastikan bahwa anak sudah bisa menjaga makanan sehatnya, tidur dengan durasi yang cukup, dan menjaga kesehatannya ketika kita tidak menemani.

BACA JUGA:  Tentang QRIS dan Penggunaannya

Bantu anak untuk membangun rasa percaya diri, Dorong anak Anda untuk mengikuti kelas atau bergabung dengan kegiatan yang ia sukai di lingkungan Anda atau di sekolahnya. Ini juga akan membantu membangun kepercayaan diri serta menambah teman dengan minat yang sama.

Selain kita yang memberikan pengajaran pada anak tentang cara pencegahan anak terhindar dari tindakan bullying. Kita juga harus memberikan pengajaran pada anak kita agar ia tidak menjadi pelaku bullying tersebut. Dengan cara sebagai berikut :

Komunikasikan, Setelah Anda memahami mengapa anak Anda berperilaku, Anda akan tahu bagaimana membantu mereka. Apakah mereka merasa tidak aman di sekolah? Apakah mereka bertengkar dengan teman atau kerabat? Jika mereka kesulitan menjelaskan perilakunya, Anda mungkin ingin menemui konselor, pekerja sosial, atau profesional kesehatan mental yang terlatih untuk bekerja dengan anak-anak.

Menyelesaikan masalah secara baik-baik, Minta anak Anda untuk menjelaskan skenario yang membuat mereka frustrasi, dan tawarkan cara-cara bereaksi yang konstruktif. Gunakan latihan ini untuk bertukar pikiran tentang kemungkinan skenario di masa depan dengan merespon secara baik. Dorong anak Anda untuk “menempatkan diri pada posisi orang lain” dengan membayangkan pengalaman orang yang di-bully.

Kita perlu berkaca pada diri kita sendiri, biasanya anak-anak yang melakukan bullying bisa jadi karna ia sering kali meniru apa yang ia lihat di rumahnya. Apakah mereka terpapar perilaku berbahaya secara fisik atau emosional dari Anda atau pengasuh lain? Lihatlah pada diri sendiri sebagai orang tua dan pikirkan dengan jujur ​​tentang bagaimana Anda memperlakukan anak Anda.

Berikan konsekuensi dan peluang untuk menebus kesalahan, Jika Anda mengetahui bahwa anak Anda diintimidasi, penting untuk memastikan konsekuensi yang sesuai dan tanpa kekerasan. Misalnya, Anda bisa membatasi aktivitas mereka, terutama aktivitas yang mendorong bullying (berkumpul bersama anggota geng, bermain game di media sosial atau online). Dorong anak Anda untuk meminta maaf kepada teman-temannya dan temukan cara untuk membuat mereka lebih positif di masa depan.

Tsuraya Khalillah

Pos terkait