Diserang Berita Miring, CV. Jaya Anugerah Duga Ada Sabotase dan Sentimen Pribadi Imbas Gagalnya Program Hanpang

Diserang Berita Miring, CV. Jaya Anugerah Duga Ada Sabotase dan Sentimen Pribadi Imbas Gagalnya Program Hanpang

Keterangan Foto: Mandor 1 CV. Jaya Anugerah, Ebit Siagian, saat diwawancarai wartawan di lokasi perkebunan terkait tudingan yang dialamatkan kepada perusahaan. Di sisi lain, tampak lokasi bekas pemasangan plank dari pihak Kehutanan yang kini hilang.

MJ. Simalungun – CV. Jaya Anugerah, perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan sawit di Nagori Bosar Nauli, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, tengah menjadi sorotan usai diberitakan secara negatif oleh sejumlah media online dalam beberapa bulan terakhir. Namun, pihak perusahaan menilai pemberitaan tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan dan diduga bermuatan sentimen pribadi serta upaya sabotase yang merugikan nama baik perusahaan.

Mandor 1 Perkebunan CV. Jaya Anugerah, Ebit Siagian, saat ditemui di lokasi pada Rabu (09/04/2025) menyatakan bahwa pihaknya merasa dirugikan secara moril maupun materil akibat pemberitaan sepihak tersebut. Ia menilai, berita yang beredar terkesan tidak berimbang, tidak berdasarkan data akurat, serta melanggar kode etik jurnalistik karena tidak melibatkan konfirmasi dari perusahaan.

“Hubungan kami dengan masyarakat sempat terganggu karena pemberitaan miring ini. Padahal sebelumnya hubungan kami sangat baik. Perusahaan juga sering terlibat dalam kegiatan sosial, memperbaiki jalan atas permintaan warga, bahkan berinisiatif sendiri melakukan pembangunan,” ujar Ebit.

Terdapat dua poin utama dalam pemberitaan yang dinilai sangat merugikan perusahaan:

Pertama, CV. Jaya Anugerah dituduh mencabut papan peringatan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Sumatera Utara di kawasan hutan produksi terbatas. Menanggapi hal itu, Ebit menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak benar dan merupakan bentuk sabotase.

“Kami tidak pernah mencabut papan tersebut. Jika terbukti kami melanggar, kami siap menerima sanksi sesuai ketentuan. Namun yang terjadi justru pihak tak bertanggung jawab mencabut lalu memberitakan seolah-olah kami yang melakukannya,” tegasnya.

Kedua, perusahaan disebut menguasai ratusan hektar kawasan hutan secara ilegal. Menurut Ebit, lahan yang dikelola CV. Jaya Anugerah hanya seluas 27 hektar dan telah memiliki Surat Keterangan Tanah (SKT) yang sah dari Pemerintah Nagori. Lahan tersebut diperoleh secara sah melalui proses jual beli sejak tahun 2006 dan terakhir dibeli oleh CV. Jaya Anugerah pada 2021.

“Kami tidak mengelola ratusan hektar kawasan hutan seperti yang diberitakan. Lahan yang kami kelola sudah melalui proses legalitas sejak lama dan kami sedang mengurus izin lanjutan sesuai ketentuan kehutanan,” jelasnya.

Terkait dengan pernyataan Pangulu Nagori Bosar Nauli, Heppi Natalia Sidauruk, yang menyebut CV. Jaya Anugerah melanggar aturan kehutanan, Ebit menduga pernyataan tersebut didasari oleh sentimen pribadi. Ia menyinggung kegagalan program Ketahanan Pangan (Hanpang) Nagori Bosar Nauli yang diduga merugikan keuangan desa karena bibit pohon cokelat dan durian yang dibagikan tidak terarah dan malah ditanam di lahan milik CV. Jaya Anugerah.

“Informasi yang kami terima, bibit itu dibagikan tanpa program yang jelas dan banyak ditanam di lahan yang notabene bukan milik masyarakat, melainkan lahan kami. Dari situ muncul konflik dan mungkin menjadi alasan sentimen terhadap perusahaan,” tambah Ebit.

Sementara itu, Pangulu Nagori Bosar Nauli, Heppi Natalia Sidauruk, ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Rabu malam (09/04/2025) terkait tudingan adanya motif pribadi dan pernyataannya di media, belum memberikan jawaban hingga berita ini diturunkan.

Pihak CV. Jaya Anugerah berharap agar seluruh pihak menjaga prinsip keadilan dan profesionalisme dalam menyikapi persoalan ini. “Kami terbuka untuk dialog dan tetap berkomitmen menjalankan usaha sesuai hukum yang berlaku. Jangan sampai pemberitaan yang tidak berimbang menyesatkan masyarakat dan merusak keharmonisan yang telah dibangun selama ini,” tutup Ebit.

Penulis: S Hadi PurbaEditor: Red