MJ. Jakarta – Asosiasi Robotika Indonesia (PRSI) telah resmi bergabung dengan Federasi Asosiasi RoboSport Internasional (FIRA). Sebagai organisasi resmi, PRSI telah menjadi anggota FIRA, membuat Indonesia diakui secara internasional di dunia olahraga robotika. Pada 15 April 2025, setelah resmi menjadi anggota FIRA,
PRSI diwajibkan mengikuti program dan regulasi yang diterapkan oleh FIRA, termasuk kompetisi robotika nasional dan internasional, di mana PRSI harus menerapkan aturan dan kategori yang sudah ada dalam FIRA.
Wahyu Hidayat, Ketua PB PRSI, mengatakan bahwa bergabung dengan FIRA adalah langkah strategis untuk mendapatkan pengakuan internasional dan mencapai visi memajukan olahraga robotika di Indonesia.
“Ini adalah langkah strategis bagi kami untuk mendaftarkan PRSI dengan federasi internasional FIRA,
sehingga PRSI dapat memperoleh pengakuan internasional, karena kami memiliki visi untuk memajukan robotika, terutama olahraga robotika di Indonesia, dan dengan bergabung dengan FIRA, kami lebih percaya diri untuk memperkenalkan dan memajukan olahraga robotika di Indonesia.”
Selanjutnya, Wahyu menambahkan bahwa saat ini, belum ada di Indonesia yang memperkenalkan olahraga robotika atau robosport, tetapi kompetisi robotika sering diadakan hampir setiap bulan dan di setiap wilayah di Indonesia.
Oleh karena itu, PRSI, yang dipimpin oleh Wahyu Hidayat, memiliki visi untuk memajukan olahraga robotika di tingkat nasional dan internasional.
“Kita semua tahu bahwa olahraga robotika masih sangat sedikit dikenal,sehingga pembentukan Asosiasi Robotika Indonesia adalah salah satu visi kami untuk memperkenalkan dan memajukan olahraga robotika di tingkat nasional dan internasional, kami ingin olahraga robotika dilihat seperti olahraga lainnya.”
Organisasi FIRA sendiri hampir berusia 30 tahun, didirikan pada tahun 1996 oleh Prof. Jong-Hwan Kim dari KAIST, Korea. FIRA adalah kompetisi sepak bola robot tertua di dunia. Dari awal yang sederhana,
FIRA telah berkembang menjadi kompetisi robotika besar dengan tujuan menggunakan olahraga sebagai tolok ukur untuk penelitian mutakhir di bidang robotika dan bidang terkait. FIRA juga mencakup kompetisi FIRA Air untuk robot terbang otonom,
FIRA Challenge untuk penelitian robotika dengan manfaat sosial yang signifikan seperti robot pencarian dan penyelamatan di perkotaan, dan FIRA Youth untuk generasi peneliti berikutnya.
Pada kesempatan ini, Yenny Agoestian, Wakil Sekretaris Jenderal Organisasi Perdamaian Dunia (WPO) di bidang Pendidikan,
Budaya, dan Sumber Daya Manusia, merangkap Staf Kepresidenan untuk Komunikasi Publik dan Informasi, berbicara atas nama Presiden WPO, Dr. Bambang Herry Purnomo SH MH,
menyatakan bahwa WPO, yang terdiri dari 202 negara, sepenuhnya mendukung kegiatan ini.
“Teknologi robotika dan AI bukan hanya tentang memproduksi robot cerdas, tetapi juga tentang mendidik masyarakat dunia untuk menjadi lebih pintar. Pendidikan adalah salah satu pilar WPO dalam mengembangkan pendidikan di berbagai sektor. Dengan pendidikan yang baik,
masyarakat mampu berpikir dan bertindak untuk kehidupan yang lebih baik, sehingga semua bentuk tindakan melawan hukum dapat dihindari dan perdamaian akan tercipta secara alami.
Robotika dan AI dapat menyatukan dunia dan menjadi simbol kerja sama internasional dalam mencapai kemajuan dan perdamaian.




