Jenderal Nasution Setelah Pensiun

Jenderal Nasution Setelah Pensiun

MJ. Jakarta — Di balik wibawa empat bintang di pundaknya, Jenderal (Purn.) Abdul Haris Nasution justru memilih hidup dalam kesahajaan setelah melepas seragam kebesaran TNI.

Sejak pensiun pada tahun 1972, sosok yang akrab disapa Pak Nas ini menanggalkan segala atribut kemiliteran.

Tak ada kemewahan atau simbol kehormatan yang melekat dalam kesehariannya. Ia lebih sering terlihat berkaos oblong dan bersarung, bahkan pernah meminjam sepatu ajudannya ketika menghadiri acara resmi.

Kehidupan pensiunnya jauh dari kemegahan yang sering melekat pada nama besar seorang jenderal. Di rumahnya di Jalan Teuku Umar No. 40,

Menteng yang kini menjadi Museum Sasmita Loka Jenderal Besar AH Nasution ia harus bergulat dengan kesulitan ekonomi. Untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) saja,

Nasution kesulitan. Gajinya sebagai pensiunan ketua MPRS, mantan menteri, dan jenderal hanya berkisar beberapa ratus ribu rupiah. Pendapatan tambahan pun hanya datang dari honor menulis buku yang sifatnya tidak tetap.

Beban hidup semakin berat setelah ia ikut menandatangani Petisi 50, sebuah pernyataan sikap yang mengkritik kekuasaan Presiden Soeharto pada dekade 1980-an. Sejak itu,

Semua fasilitas negara yang sebelumnya masih ia nikmati dicabut. Telepon rumah diputus, air ledeng dihentikan. Johana Sunarti, istrinya, mengenang bagaimana mereka harus memasang pompa air sendiri dan membeli air minum dari luar.

Kritik-kritik Nasution terhadap pemerintah membuat dirinya diawasi ketat. Menurut catatan pakar politik militer Salim Said, Jenderal Benny Moerdani atas tafsir pribadi terhadap kekecewaan Presiden Soeharto bahkan pernah mengirim intel untuk memantau setiap gerak-gerik Nasution. Di balik layar,

Benny bahkan dikabarkan sempat merencanakan penangkapan Nasution, namun dicegah oleh sahabat lamanya, Letjen (Purn.) T.B. Simatupang.

Begitu keras tekanan politik yang dialaminya, hingga dalam beberapa acara resmi, Nasution dilarang hadir bersamaan dengan Soeharto.

Ia pernah tertunda menghadiri resepsi pernikahan anak Simatupang, sahabat karibnya, hanya agar tidak berpapasan dengan sang presiden. Barulah menjelang awal 1990-an,

Perlakuan terhadapnya mulai melunak. Pemerintah mengirimkan perwira-perwira muda untuk menjadi ajudannya, tanda bahwa isolasi politik terhadapnya perlahan dihapuskan.

Meski fisiknya mulai renta dan tutur katanya tak selancar dulu, keteguhan Nasution tak pernah pudar.

Ia tetap menjadi simbol ketegasan dan integritas seorang prajurit sejati. Penghormatan tertinggi datang pada 5 Oktober 1997,

Ketika pemerintah menganugerahinya gelar Jenderal Besar TNI, sejajar dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Presiden Soeharto. Pada upacara itu,

Nasution kembali mengenakan seragam kehormatannya kali ini dengan lima bintang di pundak.

Namun, di balik bintang dan penghargaan itu, tersimpan kisah getir seorang pejuang yang memilih hidup dalam kejujuran dan kesederhanaan. Nasution wafat pada 6 September 2000 dalam usia 81 tahun.

Ia meninggalkan warisan yang tak ternilai: teladan tentang keberanian untuk berkata benar, sekalipun dunia menutup telinga.

Sumber : Historia.id

#JenderalNasution

#Petisi50

#SejarahIndonesia

#PejuangBangsa

#MiliterRI

#KehidupanPensiun

#TeladanKesederhanaan

Editor: Red