Prestasi Gemilang Indonesia Berhasil “Mendekati Jurang” Dengan Defisit APBN Tertinggi Dalam Seperempat Abad

Prestasi Gemilang Indonesia Berhasil “Mendekati Jurang” Dengan Defisit APBN Tertinggi Dalam Seperempat Abad

MJ. JAKARTA – Selamat kepada Kabinet Prabowo-Gibran! Di bawah komando “sang dirigen fiskal” Purbaya Yudhi Sadewa, Indonesia akhirnya mencatatkan sejarah baru yang sangat membanggakan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sukses mencapai angka fantastis Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari PDB.

Hanya butuh sisa 0,08 persen lagi untuk menabrak batas suci 3 persen yang ditetapkan undang-undang. Sebuah pencapaian “nyaris maut” yang menunjukkan betapa lihainya pemerintah dalam menghabiskan uang yang sebenarnya belum kita miliki.

Optimisme di Atas Kertas, Utang di Bawah Meja

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dengan ketenangan yang mengherankan, menyebut angka ini sebagai “stimulus ekonomi.” Nampaknya, dalam kamus besar kabinet saat ini, kata “utang” telah resmi diganti sinonimnya menjadi “hadiah masa depan untuk anak cucu.”

Berikut adalah poin-poin “keberhasilan” yang perlu kita apresiasi:

Rekor 25 Tahun: Di luar masa pandemi COVID-19, ini adalah defisit terdalam sejak krisis moneter. Siapa bilang kita tidak bisa kembali ke masa lalu?

Adrenalin Fiskal: Dengan sisa jarak hanya 0,08% dari batas ilegal, pemerintah sedang memacu adrenalin seluruh rakyat Indonesia. Siapa yang butuh stabilitas jika kita bisa hidup di tepi jurang setiap hari?

Kepercayaan Investor (Yang Sedang Diuji), Sementara para ekonom berteriak tentang risiko fiskal, pemerintah tampaknya percaya bahwa investor sangat menyukai tantangan ekstrem. Kepercayaan investor dianggap seperti doi yang sedang marah: makin dicuekin, makin sayang (atau malah ditinggalkan).

Stimulus atau Sekadar “Bakar Uang”?

Narasi “stimulus” yang digaungkan pemerintah adalah sebuah mahakarya retorika. Di saat rakyat diminta bersiap menghadapi kenaikan PPN dan berbagai pungutan kreatif lainnya, pemerintah justru menunjukkan teladan yang luar biasa dalam hal “belanja dulu, mikir belakangan.”

“Kita tidak perlu panik. Defisit ini adalah bukti bahwa kita sedang bekerja keras membelanjakan uang yang tidak ada untuk proyek-proyek yang manfaatnya mungkin baru terasa saat kita semua sudah pensiun,” mungkin begitulah kutipan yang tidak pernah diucapkan namun tersirat jelas.

Catatan untuk Rakyat

Harap tetap tenang. Jika nanti bunga utang membengkak dan daya beli merosot, ingatlah bahwa kita sedang berpartisipasi dalam sebuah eksperimen ekonomi raksasa bertajuk “Seberapa Kuat Indonesia Menahan Beban?”

Defisit 2,92 persen bukan sekadar angka; itu adalah simbol keberanian Kabinet Prabowo untuk mengetes kesabaran pasar global dan daya tahan kantong rakyat jelata.

Editor: Red