MJ, Jakarta- Sebagaimana yang dilansir Kementerian Agama belum lama ini dimana In kasih dan damai, bagaimana bisa sama sama berjalan di satu negara Indonesia yang kita cintai bersama deks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 mencapai 77,89,
Dimana skor paling tertinggi sejak survei 2015. Hal ini pun didasarkan survei Evaluasi Kerukunan Umat Beragama 2025 oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan Pusat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (P3M) Universitas Indonesia (UI).
Menurut Pdt. Tonny Mulia Sekretaris Umum Sinode Gereja Kristen Bersinar jika memang data yang seperti itu berharap lebih baik lagi kedepannya. Menurut Pdt. Tonny Mulia agama itu satu panggilan.
“Kita mau jadi Umat Islam kalau tidak dapat Hidayah kita juga nggak bisa jadi Umat Islam.
Demikian pun kalau kita mau jadi Umat Kristen kalau bukan Tuhan yang panggil nggak bisa jadi orang Kristen.
Jadi itu panggilan masing masing, “ ujar Pdt. Tonny Mulia di Jakarta Rabu (14/1/2026).
Kata Pdt. Tonny Mulia panggilan itu ada 2. Pertama, panggilan itu tidak bisa dipaksakan. Jadi kata Dia, panggilan itu harus juga dihargai. Menurut Pdt. Tonny Mulia kalau ada yang pindah Agama itu pun harus dihargai juga. Mungkin mereka dipanggil.
“Kalau saya sebagai pendeta dapat panggilan sebagai Umat Kristiani. Semuanya puji Tuhan,” ujarnya.
Kedua kata Pdt. Tonny kembali, perlu menghargai panggilan itu. Jadi kalau kita punya panggilan seperti ini harus menghargai apa yang dimiliki hari ini itulah yang kita ceritakan.
“Jadi kalau kita dapat panggilan harus bangga apa yang dapat kita jalankan sampai hari ini itulah yang kita ceritakan kepada banyak orang,
Apa yang berubah dalam hidup kita itu yang bisa kita ceritakan. Jangan kita ceritakan sesuatu yang bukan panggilan saya.
Misalnya saya pindah dari Muslim ke Kristen saya nggak perlu menjelek jelekkan agama dulu saya jalankan. Jadi banggakanlah kekristenan kita saat ini,” katanya.
Bagi Pdt. Tonny Mulia Tuhan Yesus itu menjadi teladan bagi dirinya dan menjadi garam dan terang. Dirinya pun meyakini tidak ada kegelapan, terbuka tidak munafik, itulah kebanggaan pada diri Pdt. Tonny Mulia.
Diterangkan Pdt. Tonny Mulia harus di bedakan menjadi terang dengan memberi terang. Kalau memberi itu To Give, kalau menjadi itu Tobe. Atau tobe come.
Jadi menurut Dia, jangan cuma memberitakan tapi dirinya tidak menjadi Injil, harus menjadi injil yang terbuka yang bisa dilihat banyak orang memberi contoh, tapi tidak memberi contoh bagi banyak orang.
“Jadi banggalah apa yang kita percaya hari ini. Jadilah pemimpin sampai hari ini. Saya sebagai pendeta bangga akan pemimpin saya Yesus.
Jadi banggalah dengan pemimpinnya masing masing masing. Jadi intinya saling mengakui dan menghargai. Jadi tidak ada lagi menjelekan satu dengan yang lain.
Pada akhirnya timbul masalah, kerusuhan, pembakaran, dan lain sebagainya itu menurut saya kurang elok. Pada ujungnya kita harus mengakui bahwa kita ini saudara,” ungkpanya.
Menurut Dia, kalau saling menghargari kedepannya Indonesia semakin lebih baik lagi tidak memaksakan orang harus seperti kita kalau dari diri sendiri tidak mencerminkan sikap dari pemimpin. Untuk itu Pdt. Tonny Mulia meminta tunjukanlah kasih itu seperti apa.
“Intiya ada dua, kasih dan damai, bagaimana bisa sama sama berjalan di satu negara Indonesia yang kita cintai bersama,” imbuhnya.
Pdt Tonny Mulia setuju akan pandangan Menteri Agama akan malasah toleransi beragama.
Dia menceritakan disaat dirinya berkumpul di Istana dengan undangan lintas agama berkumpul dan bertemu dengan Presiden Prabowo pada tanggal 31 Agustus 2025. Diakui Pdt. Tonny Mulia adanya suasana kerukunan terlihat disana.
“Waktu Presiden Prabowo mengatakan seperti ini bisa rukun bersama kata Presiden. Adanya saling menghargai satu dengan yang lain kita beragam ragam tapi kita bersama sama menjaga bangsa ini berdasarkan Bhineka Tunggal Ika,” ucap Pdt. Tonny Mulia.
Bicara akan Toleransi, Kesetaraan, dan Keberasamaan dalam bingkai Bhineka Tunggal Pdt Tonny Mulia mengatakan, hingga saat ini sudah lebih baik, walaupun ada oknum oknum yang tidak suka akan kebersamaan, ujarnya.
Untuk itulah Pdt. Tonny Mulia berharap kedepan untuk duduk bersama, berbaikan, demikian juga jika ingin bangun rumah ibadah harus baik baik dengan tetangga sebelah.
Menurutnya, jika kita baik dengan lingkungan itu sudah optmatis apa yang kita buat akan didukung penuh dan tidak akan terjadi gesekan dimana mana.
“Jadi saya pikir Tuhan akan luruskan hal itu agar lebih baik kedepannya saling berdekatan satu dengan yang lainnya,” tuturnya.
Pdt Tonny Mulia sependapat apa yang dikatakan Menteri agama bahwa tantangan masa depan umat beragama bukan hanya menjaga harmoni,
Tetapi memastikan nilai-nilai agama hadir secara substantif dalam membangun peradaban yang adil, damai, dan berkeadaban. Katanya,
Karena sangat membantu pemerintah supaya bisa agama ini mengajarkan menjadi terang,
Untuk itu hindari korupsi, jauhkan hal hal yang buruk, peduli lingkungan, setidaknya dapat membantu orang lain termasuk agama yang lain pun demikian ajarannya. Karena menurutnya, disetiap agama diajarkan untuk damai hidup rukun .
“jadi saling menghargai menurut saya sangat penting sekali. Karena kita tau arti menjadi kesatuan Republik Indonesia menjadi itu bukan berarti homogen bisa hetrogen dimana menjadi satu kekuatan dimana tangan kita bersama sama untuk menjadi kuat.
Jadi kalau semua umat beragama menjadi satu kekuatan itu kekuatan yang luar biasa. Power yang luar biasa. Jadi kalau ada kesatuan nggak mungkin nggak ada berkat,” tegasnya.
Untuk itu kata Pdt. Tonny Mulia, jika Negara ini ada satu kekuatan Tuhan akan berkerja disana ada kesatuan bersama. Jadi Dimana ada kesatuan disitu ada kekuatan. Tuhan suka dengn ini. Tuhan bekerja dalam perbedaan, ucapnya.
Untuk itu Pdt. Tonny Mulia berharap masing masing agama harus mendalami apa yang di percayai seperti dirinya percaya dengan Tuhan Yesus saya akan lebih dalam dan perdalam lagi.
Demikian juga dengan agama lain demikian juga lebih perdalam lagi keimanan bersama.
Karena dengan memperdalam akan menjadi serupa dan segambar dengan Yesus kristus. Itulah mencerminkan kekristenan. Kalau ini dijalankan pasti ada damai di Bangsa ini tidak akan ada gesekan.
“Harapan saya Indonesia bisa menjadi contoh seperti Menteri Agama katakan harus hidup rukun jangan hanya semboyan saja”
“Jika kita lihat di Alkitab hati Raja itu seperti batang air ditangan Tuhan. Jadi tentunya sebagai Presiden hatinya digerakan oleh Tuhan. Mampu nggak mampu Tuhan,
Sampai hari ini bisa berjalan semua itu karena Tuhan. Jadi kalau kehendak Tuhan akan jalan terus bahkan akan lebih lagi kedepan.
Tapi kalau nggak dipakai Tuhan nggak mungkin menjadi Presiden selamanya. Jadi kalau saya lihat Tingkat toleransi hingga saat ini sangat baik,” pungkasnya. (lian)
