MJ, Jakarta- Makna paskah kali bagi Prof. Dr. Suhandi Cahaya SH, MH, MBA Jemaat Gereja Methodist Indonesia Anugerah sangat kritis. Dia menyebut, bahwa kebangkitan Yesus Kristus itu sudah ada berpuluh puluh Tahun nampaknya Umat Kristiani sudah kebal, katanya.
Dijelaskan, Prof. Suhandi, maksudnya tidak ada _( “something new”)_ suatu hal yang baru. Pertama, keadaan kehidupan ekonomi sekarang hampir semua masyarakat merata susah semua. Jadi dalam kesusahan itu,
Pasti setiap jemaat atau setiap manusia punya pola pikir kalau Tuhan itu ada kenapa kita musti susah. Kalau memang Tuhan itu ada mengapa rakyat ini susah semua. Justru Dia bertanya, apakah kebangkitan Yesus itu ada pengaruh akan kesusahan kita, ungkapnya.
Kalau menurut analisis Prof. Suhandi, itu semua tidak ada pengaruh sama sekali. Mengapa tidak ada pengaruh karena rakyat ini sudah terkikis dalam pendertaan yang sangat dalam.
Mungkin dari awal dia ada semua, nah disitu kepercayaan kepada Tuhan itu masih ada. Tapi, dari ada sampai habis sampai minis dibawah Nol apakah tidak terkikis kepercayaan dia kepada Tuhan.
“ Kalau saya Analisa mungkin masih manusiawi. Saking dalamnya penderitaan itu. Mungkin kita masih bertahan sama Tuhan.
Saya pun pernah jatuh pada titik nadir, namun saya tetap berusaha naik pelan pelan. Pada akhirnya saya bisa naik kembali,” ujar Prof. Suhandi berukur.
Untuk itu sekali lagi Prof. Suhandi berujar makna Paskah di tahun 2026 baik umat Kristiani dan Katolik baginya tidak punya makna apa apa. Mengapa, tidak punya makna apa apa,
Karena rakyat ini sudah tergelincir atau sudah masuk dalam keadaan titik nadir di bawah nol sudah susah sekali. Orang kalau sudah susah pola pikir pun akan berubah, katanya.
“Jadi kalau kita tetap eksistensi dan tetap ada bagaimana hidup ini tetap berdasarkan kepada Tuhan. Sekalipun kita dalam penderitaan. Inilah yang saya alami dalam hidup saya, katanya optimis.
Kalau bicara cinta akan sesama dan cinta akan lingkungan, menurut Prof. Suhandi kembali, itu tidak ada. Tidak ada cinta kepada ligkungan hidup, cinta kepada kemanusiaan satu dengan yang lain, misalnya dia katakan saya cinta kau di dalam gereja, tapi apakah bisa dia lakukan itu diluar gereja, imbuhnya.
Dalam tahun 2026 hari raya keagamaan saling berdekatan kata Prof. Suhandi mengatakan, justru hanya biasa biasa saja.
Tidak ada yang dibanggakan bangsa ini sudah rukun rukun saja. Tapi masih banyak oknum oknum yang ingin menutup gereja dimana mana.
“Jadi kebodohan itu membuat orang itu menjadi antipasti. Dan manusia bodoh jadi penghalang segala galanya,” pungkasnya. (**)












