MJ, JAKARTA – Hari Raya Paskah atau peringatan Hari Kebangkitan Yesus Kristus akan jatuh pada hari Minggu (5/4/2026).
Yang dirayakan oleh seluruh umat Katolik dan Kristen di seluruh dunia. Mereka memperingati kebangkitan Yesus Kristus, yaitu tiga hari setelah peristiwa penyaliban dan kematian Yesus di kayu salib yang dikenal dengan Jumat Agung.
Menurut Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman Gembala GSPDI Jemaat Filadelfia Bellezza Permata Hijau, Jakarta Selatan, pada dasarnya Paskah bukan sekadar peringatan sejarah kebangkitan Yesus Kristus, akan tetapi peristiwa iman yang hidup dan terus bekerja sampai hari ini. Kebangkitan Kristus adalah bukti kemenangan atas dosa, kematian, dan keputusasaan.
“Tema ini sangat relevan “membarui kemanusiaan kita” berarti iman tidak berhenti pada ritual, tetapi nyata dalam perubahan karakter dari egois menjadi peduli, dari putus asa menjadi penuh harapan, dari luka menjadi pemulihan, ujar Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman dalam keterangannya Senin (30/3/2026).
Ia menyebutkan, Gereja dan umat percaya dipanggil untuk menjadi “manusia baru” (2 Korintus 5:17), yang menghadirkan kasih Kristus di tengah dunia yang haus akan keadilan, damai, dan kebenaran, ujarnya.
Disisi lain Pdt. Dr. Mulyadi juga menyoroti Paskah di Tengah Isu Dehumanisasi & Krisis Lingkungan.
Kata Dia, Dunia saat ini mengalami dehumanisasi manusia kehilangan nilai kemanusiaannya dan juga krisis ekologis yang serius. Untuk itu kebangkitan Kristus mengingatkan bahwa setiap manusia berharga di mata Tuhan. Seluruh ciptaan adalah milik Allah yang harus dijaga.
Dijelaskan Kembali Pdt. Dr. Mulyadi, bahwa Iman Kristen tidak boleh hanya bersifat vertikal (hubungan dengan Tuhan), tetapi juga horizontal: Menghormati martabat manusia (melawan ketidakadilan, diskriminasi, kekerasan), Menjadi penatalayan bumi (Kejadian 2:15). Untuk itu Pdt. Dr. Mulyadi meminta, Paskah harus melahirkan aksi nyata, kepedulian sosial, keadilan, dan pelestarian lingkungan, tuturnya.
Adanya ajakan dari Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar agar para tokoh agama memperkuat pesan damai, persaudaraan, dan kerukunan, mengingat sejumlah hari besar keagamaan berlangsung berdekatan bahkan bersamaan pada tahun ini yakni Hari Raya Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah. Pdt. Dr. Mulyadi sependapat dengan ajakan Nasaruddin Umar sangat tepat dan strategis.
Menurut nya, ketika hari-hari besar agama hadir berdekatan, itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan ilahi untuk memperkuat toleransi, membangun dialog, mempererat persaudaraan.
Menurut pandangan Pdt. Dr. Mulyadi, Paskah mengajarkan kasih yang melampaui batas. Maka umat Kristen harus menjadi jembatan damai, bukan tembok pemisah, ungkapnya.
Disisi lain kata Pdt. Dr. Mulyadi, setiap hari raya membawa nilai luhur Nyepi refleksi dan pengendalian diri, Idul Fitri pengampunan dan pemulihan relasi, Paskah harapan dan kasih yang menang.
Menurutnya, Nilai-nilai ini saling melengkapi dan memperkaya kehidupan bangsa. Jika dijalani dengan tulus, akan membentuk masyarakat yang lebih rendah hati, lebih penuh kasih dan lebih Bersatu, imbuhnya.
Pernyataan Prabowo Subianto sangat penting dalam konteks Indonesia yang majemuk.
Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Ia mengingatkan bahwa perbedaan merupakan kenyataan yang harus dikelola dengan sikap saling menghormati.
Kata Pdt. Dr. Mulyadi, bahwa Perbedaan bukan ancaman, tetapi kekayaan. Namun persatuan tidak terjadi otomatis—harus diusahakan melalui sikap saling menghormati, dialog yang sehat dan kerendahan hati.
“Paskah memberi teladanKristus meruntuhkan tembok permusuhan (Efesus 2:14),” tegasnya.
Dilain disisi Pdt. Dr. Mulyadi meyakini bahwa Paskah adalah undangan untuk meninggalkan manusia lama, hidup dalam kasih, pengharapan, dan tanggung jawab. Kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa untuk dipercayai, tetapi kuasa untuk dialami.
Dijelaskan, hidup baru itu nyata Ketika hati yang pahit menjadi mengampuni. hidup yang egois menjadi melayani, iman yang pasif menjadi aktif.
“Ini bukan perubahan instan, tetapi proses transformasi oleh Roh Kudus,” tandasnya.
Untuk itu Pdt. Dr. Mulyadi berharap di Hari Paskah ditahun 2026 ini Kiranya Paskah 2026 menjadi momentum kebangkitan iman yang lebih hidup, kasih yang lebih nyata dan kepedulian yang lebih luas.
“Bukan hanya gereja yang penuh, tetapi hati yang diperbarui,” pungkasnya.
Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman Gembala GSPDI Jemaat Filadelfia Bellezza Permata Hijau, Jakarta Selatan menucapkan “Selamat Paskah 2026 bagi seluruh umat Kristen dan Katolik.
Kiranya kebangkitan Kristus memenuhi hati kita dengan pengharapan yang baru, menguatkan iman di tengah tantangan hidup, dan menggerakkan kita untuk menjadi terang dan garam bagi dunia”. (lian)
Kristus telah bangkit — Dia hidup, dan Dia membarui kita!












