<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Paylater Arsip - MAJALAH JAKARTA</title>
	<atom:link href="https://majalahjakarta.id/tag/paylater/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahjakarta.id/tag/paylater/</link>
	<description>Portal Berita Jakarta dan Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 03 May 2026 10:39:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://majalahjakarta.id/go/wp-content/uploads/2025/08/MJ-100x100.jpg</url>
	<title>Paylater Arsip - MAJALAH JAKARTA</title>
	<link>https://majalahjakarta.id/tag/paylater/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Aplikasi Paylater Makin Agresif, Literasi Keuangan Makin Tertinggal</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/aplikasi-paylater-makin-agresif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 May 2026 10:39:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Paylater]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=99750</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Aisyah Renata Ulfha, mahasiswa Universitas Pamulang program studi Manajemen S1</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/aplikasi-paylater-makin-agresif/">Aplikasi Paylater Makin Agresif, Literasi Keuangan Makin Tertinggal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Aisyah Renata Ulfha, mahasiswa Universitas Pamulang program studi Manajemen S1.</strong></em></p>
<p>Sadar gak sih akhir akhir ini semakin marak akan yang Namanya PayLater? Namun, apa itu PayLater?</p>
<p>PayLater adalah metode pembayaran tunda (buy now, pay later) yang memungkinkan seseorang membeli barang atau jasa sekarang dan melunasinya di kemudian hari, baik secara sekaligus ataupun secara menyicil, sering ditemukan di e-commerse dan aplikasi super app seperti Tiktok, Shopee, Akulaku, Kredivo, dll dengan tempo 30 hari sampai 12 bulan.</p>
<p>Fitur PayLater dengan sangat cepat popular dan semakin banyak di coba oleh masyarakat karna keinginan dan kebutuhan untuk berbelanja dengan cepat tanpa harus memikirkan ataupun menunggu hingga dana tercukupi, karna ada fitur cicilan kartu kredit digital yaitu PayLater.</p>
<p>Munculnya PayLater memang akan memudahkan, tetapi efeknya akan sangat membuat kecanduan bagi seseorang yang tidak bisa mengontrolnya, karna masih banyak masyarakat beranggapan bahwa PayLater sangatlah mudah dan membantu dalam transaksi pembayaran, karna sangat cepat dan hanya perlu menyicil sedikit demi sedikit hingga lunas. Namun yang mereka tidak ketahui bahwa banyak sekali resiko yang akan mereka ambil jika terlalu bergantung pada PayLater ini, dimulai dari banyaknya cicilan yang harus mereka tanggung, belum lagi jika sudah jatuh tempo tetapi belum memiliki uang untuk membayarnya, alhasil akan terkena bunga pembayaran dan malah semakin mahal cicilan yang harus dibayar.</p>
<p>Menurut (Ramadhani, 2020) ada resiko yang harus diperhatikan sebelum ingin menggunakan PayLater ini, diantaranya adalah:</p>
<p>Ada biaya tambahan dan Bunga</p>
<p>PayLater bukanlah sarana untuk membantu membeli barang dengan mudah dan cepat, melainkan harus membuat seseorang harus membayar biaya tambahan dan bunga yang bisa dibilang cukup tinggi.</p>
<p>Membebani keuangan bulanan dan kondisi keuangan yang berantakan.</p>
<p>Jika kondisi keuangan yang tidak stabil setiap bulan namun tetap harus ada cicilan yang dibayar, itu hanya akan memperparah kondisi keuangan karna harus membayar cicilan yang telah di setujui.</p>
<p>Menggunakan lebih dari satu PayLater.</p>
<p>Beberapa orang masih banyak yang tergoda untuk menggunakan PayLater lain tanpa memikirkan konsekuensi akan hal tersebut. Namun masih banyak juga orang yang menggunakan PayLater lain untuk menutupi hutang di PayLater sebelumnya, sehingga membuat semakin banyak cicilan, biaya, serta bunga yang harus ditanggung.</p>
<p>Berpotensi mengalami pemborosan berlebih.</p>
<p>PayLater sering membuat banyak orang menjadi lebih boros, karna mereka beranggapan bahwa dengan tidak adanya uang dibulan ini dan membeli sesuatu dengan menggunakan PayLater, maka akan dibayar bulan depan. Dan begitulah siklusnya terus menerus jika terlalu dianggap gampang.</p>
<p>Tunggakan transaksi bisa menodai kredit.</p>
<p>Transaksi yang terlalu menumpuk bisa beresiko cukup fatal, karna terlalu banyak tunggakan yang tidak dibayar, otomatis akun PayLater nya akan terkena blokir dan tidak bisa digunakan lagi.</p>
<p>Dibandingkan dengan keuntungan menggunakan PayLater, lebih banyak kerugian yang akan didapat. Bahkan tidak jarang seseorang akan mengalami stress berlebih karna tagihan yang menumpuk dan bingung bagaimana cara membayarnya, literasi dalam mengatur keuangan pun jadi semakin menurun karna hal tersebut. Yuk mulai sekarang hindari dalam menggunakan PayLater ya!</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/aplikasi-paylater-makin-agresif/">Aplikasi Paylater Makin Agresif, Literasi Keuangan Makin Tertinggal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/artikel.pajakku.com/wp-content/uploads/2023/10/d50d58ae-cb52-4bbb-a7d3-8b453df24683-1.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Paylater di Kalangan Remaja: Praktis di Awal, Berat di Akhir</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/paylater-di-kalangan-remaja-praktis-di-awal-berat-di-akhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2026 08:40:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Paylater]]></category>
		<category><![CDATA[Utang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=99240</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Aulia Nur Salsabilla, mahasiswa Akuntansi Universitas Mulawarman</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/paylater-di-kalangan-remaja-praktis-di-awal-berat-di-akhir/">Paylater di Kalangan Remaja: Praktis di Awal, Berat di Akhir</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Aulia Nur Salsabilla, mahasiswa Akuntansi Universitas Mulawarman</strong></em></p>
<p>Saat ini perkembangan teknologi membuat banyak hal menjadi lebih mudah, termasuk dalam hal berbelanja. Jika dulu orang harus datang langsung ke toko untuk membeli barang, sekarang cukup dengan membuka aplikasi di ponsel sudah bisa memilih berbagai produk yang diinginkan. Hal ini membuat belanja online semakin populer di kalangan masyarakat, terutama remaja. Selain praktis, banyaknya promo dengan harga yang lebih murah membuat remaja semakin tertarik berbelanja online.</p>
<p>Di tengah kemudahan tersebut, muncul fitur pembayaran paylater yang memungkinkan seseorang membeli barang sekarang dan membayarnya nanti. Bagi sebagian orang, fitur ini terasa sangat membantu karena proses belanja menjadi lebih mudah. Seseorang tetap bisa membeli barang meskipun belum memiliki uang pada saat itu, karena pembayaran bisa dilakukan di waktu berikutnya. Tidak heran jika banyak remaja tertarik menggunakan fitur ini. Dalam kondisi tertentu, paylater memang bisa menjadi solusi sementara, misalnya ketika seseorang membutuhkan barang penting tetapi belum memiliki cukup uang. Namun menurut saya, jika digunakan tanpa pertimbangan yang matang, paylater justru bisa menjadi jebakan finansial yang berbahaya bagi remaja.</p>
<p>Tingginya minat masyarakat terhadap fitur ini terlihat dari data yang mencatat pertumbuhan pengguna paylater perbankan yang signifikan. Menurut laporan dari Infobanknews, jumlah rekening paylater perbankan terus mengalami kenaikan dan mencapai lebih dari 30 juta pengguna pada akhir 2025. Angka ini menunjukkan bahwa paylater bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan sudah menjadi bagian dari kebiasaan bertransaksi masyarakat Indonesia, termasuk di kalangan generasi muda.</p>
<h3>Dampak Tersembunyi di Balik Fitur Paylater</h3>
<p>Salah satu dampak negatif paylater yang paling nyata adalah mendorong perilaku konsumtif, terutama di kalangan remaja yang belum memiliki penghasilan tetap. Ketika pembayaran bisa ditunda, seseorang cenderung merasa bahwa ia memiliki &#8220;uang lebih&#8221; padahal sebenarnya ia sedang berutang. Remaja yang belum terbiasa mengelola keuangan sangat rentan terjebak dalam pola ini. Mereka membeli barang bukan karena butuh, melainkan karena merasa mampu membayarnya nanti. Akibatnya, tagihan terus menumpuk tanpa disadari hingga pada akhirnya menjadi beban yang sulit ditanggung. Fenomena ini juga mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Banyak remaja yang awalnya menggunakan paylater, namun akhirnya terjebak pinjaman online karena tidak mampu membayar saat jatuh tempo. Bukannya selesai, utang justru terus bertambah satu masalah selesai, masalah berikutnya datang</p>
<p>Selain itu, banyak remaja yang tidak menyadari adanya bunga dan denda keterlambatan dalam layanan paylater. Jika pembayaran tidak dilakukan tepat waktu, jumlah yang harus dibayar bisa jauh lebih besar dari harga barang yang dibeli. Ini adalah risiko nyata yang sering diabaikan karena promosi paylater biasanya menonjolkan kemudahan tanpa menjelaskan konsekuensi keterlambatan secara gamblang. Kondisi ini bisa sangat merugikan remaja yang bergantung pada uang saku orang tua dan tidak memiliki sumber penghasilan sendiri.</p>
<h4>Paylater Bermanfaat, Jika Digunakan dengan Tepat</h4>
<p>Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa paylater juga memiliki sisi positif. Dalam situasi darurat, misalnya ketika seseorang membutuhkan obat atau kebutuhan mendesak lainnya, paylater bisa menjadi penyelamat. Sebagian kalangan juga berpendapat bahwa penggunaan paylater secara disiplin bisa membantu remaja belajar mengelola cicilan sejak dini. Namun, manfaat ini hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sudah memiliki pemahaman keuangan yang baik. Bagi mayoritas remaja yang masih dalam tahap belajar, risiko yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada manfaatnya.</p>
<p>Dalam pemberitaan BBC Indonesia pun disebutkan bahwa layanan pembayaran digital seperti paylater semakin banyak digunakan oleh generasi muda yang aktif menggunakan layanan digital. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi memang memberikan kemudahan, tetapi tetap perlu disertai dengan kemampuan mengatur keuangan agar tidak menimbulkan masalah ketika waktu pembayaran tiba.</p>
<p>Dari berbagai hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa paylater adalah fitur yang memberikan kemudahan, tetapi juga menyimpan risiko besar jika digunakan tanpa kontrol. Paylater yang awalnya terasa praktis dapat berubah menjadi beban finansial yang berat ketika tagihan mulai menumpuk. Oleh karena itu, remaja sebaiknya lebih berhati-hati sebelum menggunakan fitur ini. Tanyakan pada diri sendiri: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, atau hanya sekadar keinginan sesaat? Apakah saya mampu membayarnya tepat waktu? Dengan membiasakan diri berpikir kritis seperti ini, kemudahan teknologi bisa dimanfaatkan secara bijak tanpa mengorbankan kesehatan keuangan di masa depan.</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/paylater-di-kalangan-remaja-praktis-di-awal-berat-di-akhir/">Paylater di Kalangan Remaja: Praktis di Awal, Berat di Akhir</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/artikel.pajakku.com/wp-content/uploads/2023/10/d50d58ae-cb52-4bbb-a7d3-8b453df24683-1.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
