Oleh: Aulia Nur Salsabilla, mahasiswa Akuntansi Universitas Mulawarman
Saat ini perkembangan teknologi membuat banyak hal menjadi lebih mudah, termasuk dalam hal berbelanja. Jika dulu orang harus datang langsung ke toko untuk membeli barang, sekarang cukup dengan membuka aplikasi di ponsel sudah bisa memilih berbagai produk yang diinginkan. Hal ini membuat belanja online semakin populer di kalangan masyarakat, terutama remaja. Selain praktis, banyaknya promo dengan harga yang lebih murah membuat remaja semakin tertarik berbelanja online.
Di tengah kemudahan tersebut, muncul fitur pembayaran paylater yang memungkinkan seseorang membeli barang sekarang dan membayarnya nanti. Bagi sebagian orang, fitur ini terasa sangat membantu karena proses belanja menjadi lebih mudah. Seseorang tetap bisa membeli barang meskipun belum memiliki uang pada saat itu, karena pembayaran bisa dilakukan di waktu berikutnya. Tidak heran jika banyak remaja tertarik menggunakan fitur ini. Dalam kondisi tertentu, paylater memang bisa menjadi solusi sementara, misalnya ketika seseorang membutuhkan barang penting tetapi belum memiliki cukup uang. Namun menurut saya, jika digunakan tanpa pertimbangan yang matang, paylater justru bisa menjadi jebakan finansial yang berbahaya bagi remaja.
Tingginya minat masyarakat terhadap fitur ini terlihat dari data yang mencatat pertumbuhan pengguna paylater perbankan yang signifikan. Menurut laporan dari Infobanknews, jumlah rekening paylater perbankan terus mengalami kenaikan dan mencapai lebih dari 30 juta pengguna pada akhir 2025. Angka ini menunjukkan bahwa paylater bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan sudah menjadi bagian dari kebiasaan bertransaksi masyarakat Indonesia, termasuk di kalangan generasi muda.
Dampak Tersembunyi di Balik Fitur Paylater
Salah satu dampak negatif paylater yang paling nyata adalah mendorong perilaku konsumtif, terutama di kalangan remaja yang belum memiliki penghasilan tetap. Ketika pembayaran bisa ditunda, seseorang cenderung merasa bahwa ia memiliki “uang lebih” padahal sebenarnya ia sedang berutang. Remaja yang belum terbiasa mengelola keuangan sangat rentan terjebak dalam pola ini. Mereka membeli barang bukan karena butuh, melainkan karena merasa mampu membayarnya nanti. Akibatnya, tagihan terus menumpuk tanpa disadari hingga pada akhirnya menjadi beban yang sulit ditanggung. Fenomena ini juga mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Banyak remaja yang awalnya menggunakan paylater, namun akhirnya terjebak pinjaman online karena tidak mampu membayar saat jatuh tempo. Bukannya selesai, utang justru terus bertambah satu masalah selesai, masalah berikutnya datang
Selain itu, banyak remaja yang tidak menyadari adanya bunga dan denda keterlambatan dalam layanan paylater. Jika pembayaran tidak dilakukan tepat waktu, jumlah yang harus dibayar bisa jauh lebih besar dari harga barang yang dibeli. Ini adalah risiko nyata yang sering diabaikan karena promosi paylater biasanya menonjolkan kemudahan tanpa menjelaskan konsekuensi keterlambatan secara gamblang. Kondisi ini bisa sangat merugikan remaja yang bergantung pada uang saku orang tua dan tidak memiliki sumber penghasilan sendiri.
Paylater Bermanfaat, Jika Digunakan dengan Tepat
Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa paylater juga memiliki sisi positif. Dalam situasi darurat, misalnya ketika seseorang membutuhkan obat atau kebutuhan mendesak lainnya, paylater bisa menjadi penyelamat. Sebagian kalangan juga berpendapat bahwa penggunaan paylater secara disiplin bisa membantu remaja belajar mengelola cicilan sejak dini. Namun, manfaat ini hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sudah memiliki pemahaman keuangan yang baik. Bagi mayoritas remaja yang masih dalam tahap belajar, risiko yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Dalam pemberitaan BBC Indonesia pun disebutkan bahwa layanan pembayaran digital seperti paylater semakin banyak digunakan oleh generasi muda yang aktif menggunakan layanan digital. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi memang memberikan kemudahan, tetapi tetap perlu disertai dengan kemampuan mengatur keuangan agar tidak menimbulkan masalah ketika waktu pembayaran tiba.
Dari berbagai hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa paylater adalah fitur yang memberikan kemudahan, tetapi juga menyimpan risiko besar jika digunakan tanpa kontrol. Paylater yang awalnya terasa praktis dapat berubah menjadi beban finansial yang berat ketika tagihan mulai menumpuk. Oleh karena itu, remaja sebaiknya lebih berhati-hati sebelum menggunakan fitur ini. Tanyakan pada diri sendiri: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, atau hanya sekadar keinginan sesaat? Apakah saya mampu membayarnya tepat waktu? Dengan membiasakan diri berpikir kritis seperti ini, kemudahan teknologi bisa dimanfaatkan secara bijak tanpa mengorbankan kesehatan keuangan di masa depan.
