Warga Marunda Desak Penghentian Pengurugan Lahan dengan Sampah, Ancam Kesehatan dan Lingkungan

Warga Marunda Desak Penghentian Pengurugan Lahan dengan Sampah, Ancam Kesehatan dan Lingkungan

MJ. Jakarta – Kegiatan pengurugan lahan kosong di wilayah RW 003, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, menuai sorotan warga setempat. Pasalnya, lahan tersebut diurug menggunakan tanah lumpur bercampur sampah, yang mengeluarkan bau tak sedap serta berpotensi mengancam kesehatan dan kenyamanan masyarakat sekitar.

Seorang warga RT 002 RW 003 Marunda yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekhawatirannya jika aktivitas pengurugan ini terus berlanjut. Menurutnya, warga tidak melarang pemilik lahan melakukan pengurugan, tetapi metode yang digunakan saat ini menimbulkan polusi udara dan berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan.

“Kami hanya meminta agar pemilik lahan tidak mengotori lingkungan dan merugikan masyarakat. Itu haknya untuk mengurug, tapi jangan sampai membawa dampak negatif bagi warga sekitar,” ujarnya, Jumat (14/2/2024).

Warga juga mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Camat Cilincing dan Lurah Marunda, untuk segera memanggil pemilik lahan dan menghentikan pengurugan dengan material yang tidak sesuai.

Selain warga sekitar, para pemilik usaha tambak ikan di sekitar lokasi turut menyampaikan keresahannya. Mereka khawatir bahwa material urugan yang digunakan dapat menimbulkan dampak kimiawi yang membahayakan kelangsungan usaha perikanan mereka.

“Kami meminta Pemprov DKI Jakarta untuk segera menghentikan aktivitas pengurugan ini. Pemerintah wajib melindungi warga dari ancaman polusi udara, serta memastikan lingkungan tetap bersih dan sehat,” kata seorang petambak.

Di sisi lain, warga RT 002 RW 003 Marunda juga masih dihantui kekhawatiran pasca hujan ekstrem yang melanda Jakarta pada akhir Januari dan awal Februari lalu. Banjir yang terjadi akibat meluapnya Kali Bogor mengakibatkan sebagian warga masih mengungsi di Pos Sekretariat RT 002 RW 003 hingga Kamis (6/2/2025), lantaran air belum sepenuhnya surut.

Para petambak ikan juga terdampak akibat genangan yang belum hilang. Mereka menduga lambatnya surutnya air disebabkan oleh saluran Kali Bogor yang tersumbat tanah serta pengerukan lahan kosong yang menghambat aliran air menuju laut.

Menyikapi kondisi ini, warga meminta instansi terkait segera melakukan pengerukan tanah dan normalisasi Kali Bogor guna mencegah banjir yang lebih parah. Mereka juga berharap aparat Kelurahan Marunda lebih aktif dalam memantau kondisi wilayah.

Warga juga menyoroti perlunya transparansi dari pihak berwenang dalam menangani masalah ini. Mereka meminta agar pihak Kelurahan Marunda tidak berdalih bahwa persoalan sampah di area lahan yang diurug adalah tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup (LH) Pemprov DKI Jakarta.

“Kami butuh solusi nyata, bukan sekadar saling lempar tanggung jawab. Jika dibiarkan, ini bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan dan lingkungan warga Marunda,” pungkas seorang warga.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai langkah yang akan diambil untuk menangani keluhan warga tersebut.

Penulis: RosidEditor: Red