BEKASI – Anggota DPRD Kota Bekasi sekaligus Sekretaris Komisi II, Evi Mafriningsianti, menekankan pentingnya kolaborasi antara organisasi masyarakat dan pemerintah untuk menjawab tantangan kompleks di Kota Bekasi.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Pendidikan bertema “Mewujudkan Bekasi Cerdas Iman dan Ilmu dengan Optimalisasi Kolaboratif” yang digelar Pengurus Daerah Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PD KBPII) Bekasi Raya, Sabtu (14/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai III Gedung DPRD Kota Bekasi, Jawa Barat, ini merupakan bagian dari rangkaian pelantikan pengurus PD KBPII Bekasi Raya periode 2026–2030. Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Bekasi Arwani, pengamat pendidikan Tuty Mariyani, serta ratusan aktivis dan alumni PII.
Dalam paparannya, Evi menyoroti berbagai persoalan krusial yang tengah dihadapi Kota Bekasi, mulai dari darurat sampah hingga krisis tenaga pendidik.
“Kota Bekasi sedang berada di persimpangan. Kita menghadapi tantangan urbanisasi, kekurangan guru, hingga degradasi lingkungan seperti masalah sampah di Sumur Batu yang mencapai 1.800 ton per hari. Masalah ini tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah,” ujar Evi.
Ia mendorong KBPII tidak sekadar menjadi wadah alumni, tetapi bertransformasi menjadi mitra strategis melalui tiga pilar kolaborasi: pemikiran, gerakan sosial, dan moral. Evi bahkan memberikan tantangan nyata kepada para kader untuk memulai perubahan dari hal kecil, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam setiap kegiatan organisasi.
Senada dengan Evi, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bekasi, Arwani, mengingatkan pentingnya peran organisasi kepemudaan dalam membentengi generasi muda dari pengaruh sosial negatif. Ia mengungkapkan data terkait keberadaan komunitas LGBT di Kota Bekasi.
“Berdasarkan data yang tercatat, ada sekitar 6.190 orang yang mendeklarasikan diri sebagai LGBT di Kota Bekasi, dengan konsentrasi terbesar di Bekasi Selatan. Ini seperti fenomena gunung es karena yang tidak terdata jauh lebih banyak,” ungkap Arwani.
Ia berharap PII dapat terus konsisten melakukan kaderisasi yang adaptif, namun tetap berpegang pada nilai ideologi Islam untuk mencetak pemimpin masa depan yang berkualitas.
Di sisi lain, pengamat pendidikan Tuty Mariyani menyoroti perlunya inovasi dalam pola pengaderan PII. Menurutnya, pelatihan PII harus mulai memasukkan unsur kewirausahaan (entrepreneurship) untuk menjawab tantangan ekonomi pelajar di masa depan.
“Pola pelatihan harus dipadukan. Ajak peserta keluar untuk belajar kewirausahaan. Kita perlu melahirkan kader yang tidak hanya kritis secara intelektual, tetapi juga mandiri secara ekonomi dan mampu membuka lapangan kerja bagi orang lain,” tegas Tuty.
Seminar tersebut ditutup dengan komitmen bersama antara DPRD, Pemerintah Kota Bekasi, dan KBPII untuk memperkuat sinergi dalam mewujudkan visi “Bekasi Cerdas” yang berlandaskan iman dan ilmu.*













