Fauzi Bowo Dorong Pelestarian Tradisi Andilan Potong Kebo Betawi

Fauzi Bowo Dorong Pelestarian Tradisi Andilan Potong Kebo Betawi

JAKARTA – Majelis Kaum Betawi (MKB) kembali menggelar tradisi Andilan Potong Kebo, sebuah tradisi khas masyarakat Betawi dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan tersebut rencananya akan dilaksanakan pada 18 Maret 2026 di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

Ketua Dewan Adat MKB Fauzi Bowo mengatakan, tradisi Andilan Potong Kebo merupakan warisan budaya Betawi yang perlu terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas masyarakat Betawi.

“Tradisi ini adalah warisan leluhur masyarakat Betawi yang mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, serta solidaritas sosial. Karena itu harus terus dijaga dan dilestarikan,” ujar Fauzi Bowo yang akrab disapa Bang Foke.

Tradisi ini sebelumnya telah digelar pada tahun 2025 atas inisiasi tokoh Betawi Marullah Matali di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan.
Kegiatan tersebut saat itu turut dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno.

Pada pelaksanaan tahun ini, kegiatan Andilan Potong Kebo juga direncanakan akan dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Ketua Panitia Andilan Potong Kebo 2026, M. Ichwan Ridwan (Bang Boim), menjelaskan bahwa tradisi andilan telah lama dikenal di lingkungan masyarakat Betawi, baik di kampung-kampung maupun di kalangan jamaah majelis taklim.

Dalam tradisi tersebut, warga secara bersama-sama mengumpulkan iuran atau patungan untuk membeli seekor kerbau yang kemudian dipotong beberapa hari menjelang Lebaran.

“Setiap orang memberikan iuran secara berkala. Dari patungan itu kemudian dibelikan kerbau. Ketika dipotong menjelang Lebaran, setiap peserta akan mendapatkan bagian daging, jeroan, dan lainnya sesuai dengan nilai andilannya,” ujar Boim.

Ia menambahkan, tradisi ini tidak hanya sekadar kegiatan penyembelihan kerbau dan pembagian daging, tetapi juga mengandung nilai filosofis tentang kebersamaan dan keadilan sosial.

“Melalui tradisi andilan, masyarakat diajarkan untuk berkolaborasi dan saling membantu dalam memenuhi kebutuhan bersama. Ini yang membuat masyarakat Betawi sejak dulu dikenal kompak dan guyub,” katanya.

Selain nilai kebersamaan, tradisi Andilan Potong Kebo juga mencerminkan prinsip keadilan karena setiap orang memperoleh hasil sesuai kontribusi yang diberikan.

Sementara itu, Sekretaris Panitia Pelaksana Muhidin Muchtar menambahkan bahwa tradisi ini juga memiliki nilai toleransi antarumat beragama yang telah diwariskan oleh para leluhur masyarakat Betawi.
Ia menjelaskan bahwa sejak dahulu masyarakat Betawi lebih memilih mengonsumsi daging kerbau dibandingkan sapi saat perayaan Lebaran.

“Pada masa lalu ketika Betawi masih bernama Sunda Kelapa, banyak masyarakat yang memeluk agama Hindu dan mensucikan sapi. Karena itu, masyarakat Betawi yang telah memeluk Islam memilih kerbau sebagai hewan yang disembelih agar tidak menyinggung perasaan saudara mereka yang berbeda keyakinan,” jelas Muhidin.

Menurutnya, nilai-nilai toleransi tersebut menjadi penting untuk terus diwariskan kepada generasi muda Betawi, terutama di tengah kehidupan Jakarta yang majemuk.

“Tradisi ini mengajarkan bahwa masyarakat Betawi sejak dahulu menjunjung tinggi sikap toleransi dan saling menghormati. Nilai-nilai ini penting untuk menjaga Jakarta tetap rukun, aman, dan harmonis,” tutupnya.