MJ. Yogya _ Mengenai Polemik lukisan yang dipamerkan di galeri nasional. Sebagai Catatan Mas Suwarno dan Yos, sesama orang jogja sama seperti saya yang pernah tinggal di Yogya. Keduanya memiliki kredibilitas yang baik, hanya saja keduanya memiliki peran dan fungsi yang berbeda dalam urusan pameran di Galeri Nasional. Berikut Ada 3 hal menanggapi isu ini.
Pertama kedaulatan kurator, untuk suatu karya bermutu dan menyesuaikan dengan acuan, tema pameran, juga visi tempat pameran, maka masing-masing pihak tunduk terhadap aturan main yang ada. Masing2 pihak seperti kurator, perupa, maupun galeri nasional bisa bersepakat untuk tidak sepakat dan tetap saling menghargai keputusan itu sebagaimana hal tersebut telah diketahui publik.
Kedua, strategi marketing (pemasaran) dengan meningkatkan eskalasi dan diskursus mengenai materi pamer yang berujung pada atensi publik terhadap pameran tersebut maupun keinginan untuk memiliki karya dari si perupa.
Informasi terkini, perupa Yos Suprapto menginformasikan bahwa 3 karya telah terjual sekalipun harga tidak disebutkan. Kita tahu bahwa tidak banyak perupa yang beruntung mengalami nasib yang karyanya terjual. Ini menyangkut juga kesejhateraan seniman. Kesadaran seni di republik ini, belum sepenuhnya tumbuh dan berkembang pesat di publik,
terkesan ekslusif. Harapannya dengan adanya polemik ini tumbuh kesadaran terhadap pentingnya seni, kesenian dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara serta tidak hanya dijadikan sebagai bahan ‘gorengan’ politik semata yang tidak berdampak positif bagi ekosistem kesenian itu sendiri.
Ketiga, salah tempat dan tema. Jika karya yang dipamerkan tidak sesuai degan tema yang ada maupun visi ysng diusung oleh pemilik tempat pameran,
maka ini tidak akan terjsdi pameran yang diharapkan. Namun demikian perlu diketahui, Ruang pamer itu tidak hanya galeri nasional, banyak tempat lain seperti balai budaya artpreneur, bentara atau tempat pameran lainnya,
“Jadi istilah ‘pembredelan’ tidak tepat, yang terkesan ada intervensi sepihak terhadap ruang-ruang seni yang ada.
Namun demikian, melalui kontroversi tersebut, kita sama-sama disadarkan pentingnya seni dalam kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, termasuk berdampak positif bagi kebebasan berekspresi maupun kesejahteraan seniman, tidak sekedar diskursus politik.
Salam Budaya,












