<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Betawi Arsip - MAJALAH JAKARTA</title>
	<atom:link href="https://majalahjakarta.id/tag/betawi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahjakarta.id/tag/betawi/</link>
	<description>Portal Berita Jakarta dan Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Mar 2026 05:44:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://majalahjakarta.id/go/wp-content/uploads/2025/08/MJ-100x100.jpg</url>
	<title>Betawi Arsip - MAJALAH JAKARTA</title>
	<link>https://majalahjakarta.id/tag/betawi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Fauzi Bowo Dorong Pelestarian Tradisi Andilan Potong Kebo Betawi</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/fauzi-bowo-dorong-pelestarian-tradisi-andilan-potong-kebo-betawi/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/fauzi-bowo-dorong-pelestarian-tradisi-andilan-potong-kebo-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2026 05:43:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Andilan Kebo]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Fauzi Bowo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=92621</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketua Dewan Adat MKB Fauzi Bowo mengatakan, tradisi Andilan Potong Kebo merupakan warisan budaya Betawi yang perlu terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas masyarakat Betawi</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/fauzi-bowo-dorong-pelestarian-tradisi-andilan-potong-kebo-betawi/">Fauzi Bowo Dorong Pelestarian Tradisi Andilan Potong Kebo Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://majalahjakarta.id"><strong>JAKARTA</strong></a> – Majelis Kaum Betawi (MKB) kembali menggelar tradisi Andilan Potong Kebo, sebuah tradisi khas masyarakat Betawi dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan tersebut rencananya akan dilaksanakan pada 18 Maret 2026 di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Pondok Ranggon, Jakarta Timur.</p>
<p>Ketua Dewan Adat MKB Fauzi Bowo mengatakan, tradisi Andilan Potong Kebo merupakan warisan budaya Betawi yang perlu terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas masyarakat Betawi.</p>
<p>“Tradisi ini adalah warisan leluhur masyarakat Betawi yang mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, serta solidaritas sosial. Karena itu harus terus dijaga dan dilestarikan,” ujar Fauzi Bowo yang akrab disapa Bang Foke.</p>
<p>Tradisi ini sebelumnya telah digelar pada tahun 2025 atas inisiasi tokoh Betawi Marullah Matali di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan.<br />
Kegiatan tersebut saat itu turut dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno.</p>
<p>Pada pelaksanaan tahun ini, kegiatan Andilan Potong Kebo juga direncanakan akan dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.</p>
<p>Ketua Panitia Andilan Potong Kebo 2026, M. Ichwan Ridwan (Bang Boim), menjelaskan bahwa tradisi andilan telah lama dikenal di lingkungan masyarakat Betawi, baik di kampung-kampung maupun di kalangan jamaah majelis taklim.</p>
<p>Dalam tradisi tersebut, warga secara bersama-sama mengumpulkan iuran atau patungan untuk membeli seekor kerbau yang kemudian dipotong beberapa hari menjelang Lebaran.</p>
<p>“Setiap orang memberikan iuran secara berkala. Dari patungan itu kemudian dibelikan kerbau. Ketika dipotong menjelang Lebaran, setiap peserta akan mendapatkan bagian daging, jeroan, dan lainnya sesuai dengan nilai andilannya,” ujar Boim.</p>
<p>Ia menambahkan, tradisi ini tidak hanya sekadar kegiatan penyembelihan kerbau dan pembagian daging, tetapi juga mengandung nilai filosofis tentang kebersamaan dan keadilan sosial.</p>
<p>“Melalui tradisi andilan, masyarakat diajarkan untuk berkolaborasi dan saling membantu dalam memenuhi kebutuhan bersama. Ini yang membuat masyarakat Betawi sejak dulu dikenal kompak dan guyub,” katanya.</p>
<p>Selain nilai kebersamaan, tradisi Andilan Potong Kebo juga mencerminkan prinsip keadilan karena setiap orang memperoleh hasil sesuai kontribusi yang diberikan.</p>
<p>Sementara itu, Sekretaris Panitia Pelaksana Muhidin Muchtar menambahkan bahwa tradisi ini juga memiliki nilai toleransi antarumat beragama yang telah diwariskan oleh para leluhur masyarakat Betawi.<br />
Ia menjelaskan bahwa sejak dahulu masyarakat Betawi lebih memilih mengonsumsi daging kerbau dibandingkan sapi saat perayaan Lebaran.</p>
<p>“Pada masa lalu ketika Betawi masih bernama Sunda Kelapa, banyak masyarakat yang memeluk agama Hindu dan mensucikan sapi. Karena itu, masyarakat Betawi yang telah memeluk Islam memilih kerbau sebagai hewan yang disembelih agar tidak menyinggung perasaan saudara mereka yang berbeda keyakinan,” jelas Muhidin.</p>
<p>Menurutnya, nilai-nilai toleransi tersebut menjadi penting untuk terus diwariskan kepada generasi muda Betawi, terutama di tengah kehidupan Jakarta yang majemuk.</p>
<p>“Tradisi ini mengajarkan bahwa masyarakat Betawi sejak dahulu menjunjung tinggi sikap toleransi dan saling menghormati. Nilai-nilai ini penting untuk menjaga Jakarta tetap rukun, aman, dan harmonis,” tutupnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/fauzi-bowo-dorong-pelestarian-tradisi-andilan-potong-kebo-betawi/">Fauzi Bowo Dorong Pelestarian Tradisi Andilan Potong Kebo Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/fauzi-bowo-dorong-pelestarian-tradisi-andilan-potong-kebo-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/thumbs.tvonenews.com/thumbnail/2026/03/17/69b8baa07f9af-majelis-kaum-betawi-mkb-kembali-menggelar-kegiatan-andilan-kebo-salah-tradisi-masyarakat-betawi-menyambut-hari-raya-idul-fitri-atau-lebaran_1265_711.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Sejumlah Profesor dan Jendral Asal Betawi Gagas Betawi’s Intellectual Circle</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/sejumlah-profesor-dan-jendral-asal-betawi-gagas-betawis-intellectual-circle/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/sejumlah-profesor-dan-jendral-asal-betawi-gagas-betawis-intellectual-circle/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 May 2025 12:38:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BODETABEK]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi’s Intellectual Circle]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=86813</guid>

					<description><![CDATA[<p>Betawi&#8217;s Intellectual Circle dapat menjadi wadah bagi intelektual Betawi untuk memajukan pemikiran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/sejumlah-profesor-dan-jendral-asal-betawi-gagas-betawis-intellectual-circle/">Sejumlah Profesor dan Jendral Asal Betawi Gagas Betawi’s Intellectual Circle</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em> Betawi&#8217;s Intellectual Circle dapat menjadi wadah bagi intelektual Betawi untuk memajukan pemikiran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai kebudayaan Betawi</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://majalahekonomi.com/"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Di hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2025, sejumlah intelektual Betawi mengadakan acara Silaturrahim di Assyiik Resto, Setu Cipayung, Kecamatan Setu Cipayung, Jakarta Timur.</p>
<p>Sejumlah intelektual Betawi itu terdiri dari para Profesor dari beberapa Perguruan Negeri dan Swasta, di Jakarta dan sekitarnya.</p>
<p>Selain itu, juga dihadiri oleh salah seorang Jenderal TNI AD (purnawirawan), yang juga berasal dari Betawi. Beliau juga yang memfasilitasi pertemuan tersebut di restonya.</p>
<p>Pertemuan Silaturrahim itu digagas oleh Prof. Murodi dan Prof. Sylvia Murni, yang merupakan penggagas dan pendiri Betawi’s Profesor Club.</p>
<p>Berawal dari keinginan sejumlah profesor Betawi untuk mengadakan Silaturrahim guna menggagas berdirinya sebuah forum atau lembaga yang menghimpun potensi intelektual Betawi dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di daerah Jakarta dan sekitarnya.</p>
<p>Selama ini, potensi itu masih berserakan tidak termanfaatkan secara maksimal, baik oleh lembaga pendidikan atau Pemerintah Daerah Jakarta, terutama terkait pemberdayaan masyarakat Betawi dan kebudayaannya.</p>
<p>Padahal, banyak profesor dan doktor dari komunitas etnis masyarakat Betawi yang bisa diajak kerjasama, semisal Prof. Yasmin Shihab, anteopolog UI, Prof. Bahrullah Akbar, Mantan Ketua BPK RI, Prof. Hasbullah Thabrani, seorang dokter senior. Prof. Zulkifli, Dekan FKM UI, Prof. Agus Suradika, dan masih banyak lagi yang lain.</p>
<p>Mereka adalah orang-orang hebat dan potensial. Karena itu, meski dalam kedibukan luar biasa, mereka mau menyempatkan diri hadir guna menggagas berdirinya sebuah organisasi atau forum intelektual Betawi.</p>
<p>Meski belum disepakati namanya, tapi mereka bersepakat untuk secara bersama membentuk sebuah lembaga untuk menghimpun para intelektual Betawi potensial.</p>
<h3><em>Betawi’s Intellectual Circle</em></h3>
<p>Gagasan mendirikan forum atau semisal Betawi’s Intellectual Circle bertjuan, antara lain untuk:</p>
<p>Pertama meningkatkan kualitas pemikiran dan penelitian di bidang kebudayaan Betawi.</p>
<p>Kedua Mengembangkan program pengabdian masyarakat yang berbasis kebudayaan Betawi.</p>
<p>Ketiga Meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan Betawi.</p>
<p>Keempat. Membangun jaringan dan kerjasama dengan institusi pendidikan dan penelitian lainnya.</p>
<p>Semua gagasan tersebuat akan dituangkan dalam bentuk Program Diskusi Ilmiah, tentang topik-topik yang relevan dengan kebudayaan Betawi. Selain itu, juga melakukan penelitian kolaboratif dengan institusi pendidikan dan penelitian lainnya tentang kebudayaan Betawi.</p>
<p>Kemudian, ada juga program publikasi Jurnal ilmiah tentang kebudayaan Betawi. Terakhir, program kegiatan budaya yang mempromosikan kebudayaan Betawi, seperti festival, pameran, dan pertunjukan seni.</p>
<p>Dengan demikian, <em>Betawi&#8217;s Intellectual Circle</em> dapat menjadi wadah bagi intelektual Betawi untuk memajukan pemikiran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai kebudayaan Betawi.</p>
<p>Hal Itu semua impian kami sebagai intelektual masyarakat Betawi yang tergabung dalam Betawi’s Intellectual Circle. Semoga terwujud semua impian tersebut dalam waktu dekat.</p>
<p><em><strong>Murodi al-Batawi.</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/sejumlah-profesor-dan-jendral-asal-betawi-gagas-betawis-intellectual-circle/">Sejumlah Profesor dan Jendral Asal Betawi Gagas Betawi’s Intellectual Circle</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/sejumlah-profesor-dan-jendral-asal-betawi-gagas-betawis-intellectual-circle/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/v1747743774/Betawis-Profesor-Club-FILEminimizer/Betawis-Profesor-Club-FILEminimizer.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tahlilan dan Selametan Malam Takbiran: Tradisi yang Nyaris Tak Terdengar lagi di Betawi</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/tahlilan-dan-selametan-malam-takbiran-tradisi-yang-nyaris-tak-terdengar-lagi-di-betawi/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/tahlilan-dan-selametan-malam-takbiran-tradisi-yang-nyaris-tak-terdengar-lagi-di-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2025 02:45:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=84699</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh:Murodi al-Batawi Dahulu, sekira tahun 1970-an, ada satu tradisi Betawi yang saya alami dan lakukan sendiri; yaitu Tahlilan dan Selametan...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/tahlilan-dan-selametan-malam-takbiran-tradisi-yang-nyaris-tak-terdengar-lagi-di-betawi/">Tahlilan dan Selametan Malam Takbiran: Tradisi yang Nyaris Tak Terdengar lagi di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh:Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Dahulu, sekira tahun 1970-an, ada satu tradisi Betawi yang saya alami dan lakukan sendiri; yaitu Tahlilan dan Selametan Keliling dari satu ke rumah tetangga lainnya. Tradisi itu dilakukan oleh masyarakat di bawah pimpinan tokoh agama dan tetua kampung, pada malam takbiran. Kegiatan tersebut dilakukan hanya pada masyarakat satu atau dua rukun tetangga saja, tidak secara keseluruhan satu kelurahan, karena terlalu luas.</p>
<p>Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Betawi lain rukun tetangga. Jadi, kalau boleh dibilang, hampir semua masyarakat Betawi melakukan tradisi Tahlilan dan Selametan Keliling ini pada malam takbiran, dipimpin oleh tokoh agama masing-masing dan tetua masyarakatnya.</p>
<p><strong>Tradisi Tahlilan dan Selametan Malam Takbiran</strong></p>
<p>Tradisi Tahlilan ini tidak ada hubungannya dengan acara kematian.Tapi acara dzikir dan do’a bersama pada malam takbiran menjelang Iedul Fitri 1 Syawwal. Acara ini dilakukan pada mulanya di Masjid atau Mushalla setelah Shalat Isya. Kemudian diikuti oleh anggota masyarakat kampung itu yang ikut Shalat Isya. Selesai Tahlilan di Masjid atau Mushalla mereka menyambangi satu persatu rumah penduduk.</p>
<p>Ketika mereka mendatangi dan memasuki rumah salah seorang anggota masyarakat, hal yang sudah pasti tersaji di dalam acara tahlilan tersebut adalah panganan dan kuliner khas Betawi; mulai dari Ketupat, Sayur Godog, Dodol, Uli, Nasi, Lauk Pauk, seperti Semur Daging Kebo, Bekakak Ayam, Opor Ayam, Ikan Bandeng, Serundeng dan lain sebagainya.</p>
<p>Panganan dan Menu yang sama juga terdapat pada rumah selanjutnya. Paling ada tambahannya sedikit, seperti Rengginang, buah pisang. Panganan dan menu tersebut tidak dimakan di lokasi, semua dicicipi dan sebagian besar dibawa pulang. Hampir sebagian besar mereka membawa kantong terigu bekas, karena saat itu belum tersedia kantung plastik kresek. Jadi, semua makanan yang diambil dan dibawa pulang, dimasukkan ke kantong terigu dan hanya dipisahkan oleh daun pisang agar tidak tercampur antara satu makanan dengan yang lainnya.</p>
<p>Acara Tahlilan dan Selametan Keliling ini dilakukan sampai larut malam. Terkadang sampai jam 01 malam. Usai itu, mereka kembali lagi ke Masjid atau Mushalla untuk mengikuti kegiatan *Takbiran* hingga menjelang Shalat Subuh. Selesai Shalat Subuh, mereka pulang ke rumah dan mempersiapkan diri untuk melakukan Shalat Iedul Fitri berjama’ah di Masjid. Jika Masjid dianggap tidak dapat menampung para jama’ah, karena jama’ah yang akan melakukan Shalat Iedul Fitri tidak hanya jana’ah tetap Masjid tersebut, juga diikuti oleh ibu-ibu dan anak-anak, maka panitia sudah mempersiapkan lapangan untuk dijadikan tempat pelaksanaan Shalat Iedul Fitri.</p>
<p><strong>Makna Tahlilan dan Selametan Keliling</strong></p>
<p>Banyak makna yang terdapat dari acara Tahlilan dan Selametan Keliling ini antara lain; Solidaritas Sosial dan kebersamaan. Perasaan kebersamaan timbul karena hati esok adalah hari kemenangan mat Islam setelah selama satu bulan berpuasa. Mereka ingin mengucapkan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan oleh Allah, sehingga mereka bisa bertemu kembali dengan Ramadhan dan Iedul Fitri.</p>
<p>Selain itu, kegiatan tersebut juga untuk mengingat nilai-nilai kebaikan yang terdapat pada bulan penuh ampunan tersebut. Mereka berharap dapat berjumpa kembali dengan Ramdhan di tahun betikutnya.</p>
<p>Makna lain dari Tahlilan dan Selametan Malam Takbiran adalah Makna Filosofis.</p>
<p><strong>Makna Filosofis</strong></p>
<p>1. Refleksi Diri: Tahlilan malam takbiran menjelang 1 Syawwal merupakan momentum untuk melakukan refleksi diri. Dengan berdzikir dan Tahlil, masyarakat diingatkan tentang pentingnya merefleksikan diri dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.</p>
<p>2. Pengembangan Diri. Tahlilan malam takbiran menjelang 1 Syawwal juga mengajarkan masyarakat tentang pentingnya pengembangan diri. Dengan membaca dzikir dan Tahlil, masyarakat diingatkan tentang pentingnya meningkatkan kualitas diri dan menjadi pribadi yang lebih baik.</p>
<p>3. Kesadaran Spiritual: Tahlilan malam takbiran menjelang 1 Syawwal juga mengingatkan masyarakat tentang kesadaran spiritual. Dengan membaca surat Yasin dan Tahlil, masyarakat diingatkan tentang pentingnya meningkatkan kesadaran spiritual dan menjaga hubungan yang harmonis dengan Allah SWT.</p>
<p>4. Penghargaan terhadap Waktu Tahlilan malam takbiran menjelang 1 Syawwal juga mengajarkan masyarakat tentang pentingnya menghargai waktu. Dengan melakukan Tahlilan pada malam takbiran, masyarakat diingatkan tentang pentingnya menghargai waktu dan menggunakan waktu dengan bijak.</p>
<p>Untuk itu dapat disimpulkan bahwa acara Tradisi Tahlilan dan Selametan malam Takbiran menjelang 1 Syawwal sangatlah mendalam dan memiliki beberapa aspek yang penting dalam kehidupan masyarakat Muslim.</p>
<p>Dengan memahami dan menjalankan Tahlilan dan Selametan malam takbiran, masyarakat dapat lebih taat dalam menjalankan ibadah, dan lebih peduli dalam menjalankan kehidupan sosial.</p>
<p>Semoga bermanfaat[Odie].</p>
<p>Murodi al-Batawi</p>
<p>Pamulang, 27 Maret 2025.</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/tahlilan-dan-selametan-malam-takbiran-tradisi-yang-nyaris-tak-terdengar-lagi-di-betawi/">Tahlilan dan Selametan Malam Takbiran: Tradisi yang Nyaris Tak Terdengar lagi di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/tahlilan-dan-selametan-malam-takbiran-tradisi-yang-nyaris-tak-terdengar-lagi-di-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Andilan, Cikal Bakal Koperasi dan Arisannya Orang Betawi</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/andilan-cikal-bakal-koperasi-dan-arisannya-orang-betawi/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/andilan-cikal-bakal-koperasi-dan-arisannya-orang-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2025 04:09:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Andilan]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=84679</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah enggak terpikir, peletak dasar bisnis koperasi dan arisan itu sejatinya orang Betawi? Salah satu tradisi unik masyarakat Betawi dalam...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/andilan-cikal-bakal-koperasi-dan-arisannya-orang-betawi/">Andilan, Cikal Bakal Koperasi dan Arisannya Orang Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah enggak terpikir, peletak dasar bisnis koperasi dan arisan itu sejatinya orang Betawi?</p>
<p>Salah satu tradisi unik masyarakat Betawi dalam menyambut Ramadan dan Lebaran adalah Andilan alias arisan kebo.</p>
<p>Sayangnya, tradisi ini belakangan mulai banyak ditinggalkan oleh masyarakat Betawi sendiri. Padahal makna dan nilai kearifan lokalnya amat dalam.</p>
<p>Tak jelas kapan budaya patungan kerbau Andilan ini mulai dipraktikkan. Namun pilihan kerbau &#8211; orang Betawi bilang kebo &#8211; sebagai obyek patungan jelas menunjukkan ciri masyarakat agraris. Jadi, ini memang praktik yang sudah ada sejak zaman baheula.</p>
<p>Memangnya orang Betawi dulunya masyarakat agraris?</p>
<p>Arsiparis Pusat Arsip Nasional, Mona Lohanda &#8211; yang banyak meneliti dokumen peninggalan kolonial di era Batavia &#8211; menyebut komunitas Betawi berkembang di sekitar Batavia dengan pola hidup agraris. Mona juga menyoroti banyaknya tanah partikelir yang dimanfaatkan oleh masyarakat Betawi untuk bertani dan beternak.</p>
<p>Ridwan Saidi pun bilang, masyarakat Betawi pada awalnya adalah masyarakat agraris. Sebelum karena perkembangan zaman dan urbanisasi, dipaksa beradaptasi dengan bidang perdagangan dan jasa yang tumbuh pesat di Jakarta.</p>
<p>Bisa dibayangkan, kawasan Meester Cornelis dulu adalah sentra perkebunan dan peternakan. Kampung Melayu sentra perikanan. Di Srengseng Sawah, Setu Babakan, Jagakarsa dan sekitarnya terhampar persawahan nan luas. Pasar Minggu dan Condet jadi sentra buah-buahan.</p>
<p>Maka patut dicatat kemungkinan tradisi Andilan ini sudah ada, bahkan sebelum VOC menginjakkan kaki di Jakarta. Bersamaan dengan pesatnya perkembangan Islam pada awal abad ke-13 hingga abad ke-16 Masehi. Ketika pola hidup agraris dan kegirangan menyambut Ramadan dan Lebaran (agamis) menyatu dalam kearifan dan kecerdasan lokal orang Betawi, bernama Andilan.</p>
<p>Andilan sendiri merupakan tradisi patungan warga (bisa 10-30 orang, bisa satu kampung) untuk membeli kerbau. Kerbau tersebut kemudian dipelihara atau diangon/digembalakan selama bulan Ramadan. Lalu disembelih pada H-1 atau H-2 jelang Lebaran. Hasil sembelihan itu kemudian dibagikan kepada mereka yang ikut andil (patungan). Diolah sebagai semur santapan Lebaran.</p>
<p>Praktik Andilan ini menunjukkan, sejak zaman dulu orang Betawi telah mengenal apa yang kini kita kenal sebagai kolaborasi, koperasi, dan arisan. Andilan bisa disebut cikal bakal koperasi terlihat dari aktivitas menabung untuk mencapai satu tujuan: membeli kerbau. Setelah itu prosesi pemotongan hingga bagi-bagi daging dilakukan secara gotong royong. Mencerminkan semangat kebersamaan, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.</p>
<p>Andilan juga bisa disebut sebagai cikal bakalnya arisan. Arisan daging kebo tentunya. Karena arisan yang kita pahami sekarang (menggunakan uang) baru dikenal sekitar abad ke-20, populer lebih dulu di kalangan ibu rumah tangga dan kalangan pekerja.</p>
<p>Sayangnya, Andilan belakangan mulai ditinggalkan oleh masyarakat Betawi sendiri. Banyak penyebabnya. Mulai dari sulitnya mencari lahan angon kebo, lunturnya semangat gotong-royong di perkotaan, hingga tidak terwariskannya dengan baik, nilai-nilai kearifan lokal Andilan kepada anak-anak muda Betawi.</p>
<p>Padahal, Andilan mengandung makna filosofis amat dalam: kebersamaan, keadilan, gotong royong, dan kepedulian sosial. Andilan sebagai tradisi tak hanya harus bertahan karena genuitasnya, namun juga sangat dimungkinkan terus berkembang sesuai kemajuan zaman.</p>
<p>Seraya berharap, misalnya, kelak ada anak-anak muda Betawi yang melek teknologi informasi menciptakan Andilan Online. Sehingga Andilan muncul di berbagai platform digital. Tanpa harus mengorbankan dan menghilangkan filosofi adiluhung yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>Sebuah hil yang tidak mustahal, kata pelawak Srimulat, almarhum Asmuni. (icoel)</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/andilan-cikal-bakal-koperasi-dan-arisannya-orang-betawi/">Andilan, Cikal Bakal Koperasi dan Arisannya Orang Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/andilan-cikal-bakal-koperasi-dan-arisannya-orang-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQ8WqP7xW4NnJTqdxLYXImt1gmBB865uLYFt3jQNixRc0ZkSqomDFHICTiSEXihj2hciyo&#038;usqp=CAU&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Jurnalis Betawi Siap Kontribusi Menuju 5 Abad Kota Jakarta</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/jurnalis-betawi-siap-kontribusi-menuju-5-abad-kota-jakarta/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/jurnalis-betawi-siap-kontribusi-menuju-5-abad-kota-jakarta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2025 03:08:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[FJB]]></category>
		<category><![CDATA[Forum Jurnalis Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=84635</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Forum Jurnalis Betawi (FJB) menggelar kegiatan diskusi sekaligus buka puasa bersama dengan mengusung tema &#8220;Kontribusi Jurnalis Betawi Menyongsong...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/jurnalis-betawi-siap-kontribusi-menuju-5-abad-kota-jakarta/">Jurnalis Betawi Siap Kontribusi Menuju 5 Abad Kota Jakarta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> &#8211; Forum Jurnalis Betawi (FJB) menggelar kegiatan diskusi sekaligus buka puasa bersama dengan mengusung tema &#8220;Kontribusi Jurnalis Betawi Menyongsong Lima Abad kota Jakarta&#8221; acara ini berlangsung di Saung Kembangan, Jakarta Barat, pada Ahad sore (23/3/2025).</p>
<p>Dengan menampilkan tiga orang narasumber yang cukup senior di dunia jurnalistik yakni H Beky Mardani yang juga sebagai Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), kemudian H Yusron Sjarief, Jurnalis TV (news anchor) senior dan Ahmad Buchori atau biasa disapa Bang Boy, yang merupakan jurnalis senior Antara.</p>
<p>Ketua Forum Jurnalis Betawi (FJB) M Syakur Usman mengawali dengan pembukaan, dirinya menekankan pentingnya Jurnalis Betawi berkontribusi dan berperan aktif dengan usulan-usulan kegiatan untuk menyongsong 5 Abad Kota Jakarta yang akan dirayakan pada 22 Juni 2027 nanti.</p>
<p>FJB sendiri sudah melakukan inisiatif dengan mengembangkan laman berita online: Kabarbetawi.id. Laman ini akan banyak menyajikan konten-konten masyarakat Betawi sebagai masyarakat inti kota Jakarta.</p>
<p>Pada acara bukber ini. FJB juga menyampaikan beberapa program yang akan digelar untuk menyongsong 5 Abad Kota Jakarta, antara lain roadshow jurnalistik ke kampus-kampus, penerbitan buku 500 Cerita Tanah Betawi, workshop platform digital bersama kreator-kreator konten kebetawian, dan sebagainya.</p>
<p>Tepat pukul 16.30 acara diskusi dimulai yang dipandu oleh Bang Faisal dari RRI.</p>
<p>Banyak bermunculan ide dan gagasan baru agar jurnalis Betawi punya peran besar menuju lima abad kota Jakarta.</p>
<p>Beky Mardani misalnya, dirinya berharap agar jurnalis Betawi punya karya dalam bentuk buku yang bisa mengabadikan jasa para tokoh Betawi dari masa ke masa.</p>
<p>Selain itu, dia juga ingin ada karya lain yang selama ini menjadi memory kolektif orang tua agar dituangkan dalam tulisan. Seperti bagaimana kisah kampung di Betawi dahulu sebelum pembangunan sangat massif mewarnai Jakarta.</p>
<p>“Anak sekarang mana ngerasain bisa ngelihat Monas dari atas pohon kecapi. Nah, itu yang kita rasain dulu. Mari kita tulis, kita mulai dari kampung kita. Saya akan mulai dari kampung saya, Meruya,” ujar Beky yang juga Ketua PMI Jakarta Barat.</p>
<p>Yusron Sjarief menambahkan, banyak tradisi berkembang di Jakarta dan itu sangat terasa hingga kini bagi mereka yang masih tinggal di pemukiman non perumahan.</p>
<p>“Saya kalau jadi juri Abnon (Abang-None) Jakarta peserta selalu saya tanya tinggal di perkampungan atau di kompleks perumahan. Mereka yang tinggal di kompleks perumahan biasanya tidak tahu ada tradisi apa yang masih ada di Betawi,” katanya.</p>
<p>Sedangkan Ahmad Buchori menyoroti peran Jurnalis Betawi di banyak media masa umum, bukan media khusus Betawi. Karena itu, dia menyambut positif hadirnya website kabarbetawi.id milik FJB dan berharap bisa menyuarakan aspirasi warga Betawi.</p>
<p>“Kayak kejadian di Bekasi ada permintaan THR (kepada perusahaan) mengatasnamakan Betawi. Itu perlu kita luruskan, agar stigma Betawi di masyarakat tidak menjadi negatif,” ucapnya.</p>
<p>Diskusi semakin menarik menjelang Magrib.</p>
<p>Beberapa tamu undangan juga tampak hadir antara lain, Kasudin Kesbangpol Jakarta Barat, Mohammad Matsani, Ketua LBIQ dan Sekjen Permata MHT, H Supli Ali, serta adik-adik KMB PTIQ, juga hadir Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra dan Imbong Hasbullah dari LKB, serta Achmad Rizal (Sanggar Cingkrik S3 Rawa Belong).</p>
<p>Diakhir acara ada bagi-bagi buku, Bang Ipul: Simpul Betawi dari Gubernur ke Gubernur. Ada juga door prize tiket Ancol, dufan, dan Sea World, serta produk lainnya.</p>
<p>Kegiatan ini didukung oleh Gerakan Kebangkitan Betawi (Gerbang Betawi), Lembaga Bahasa dan Ilmu Al-Qur’an (LBIQ) DKI Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Perumda Paljaya, Permata MHT, Madrasah Aliyah Citra Cendekia, minuman isotonik dan yogurt Yoyic, Saung Kembangan, Taman Impian Ancol, dan Bir pletok Bang Isra. (*)</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/jurnalis-betawi-siap-kontribusi-menuju-5-abad-kota-jakarta/">Jurnalis Betawi Siap Kontribusi Menuju 5 Abad Kota Jakarta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/jurnalis-betawi-siap-kontribusi-menuju-5-abad-kota-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://majalahjakarta.id/go/wp-content/uploads/2025/03/WhatsApp-Image-2025-03-25-at-07.52.46_4983c905-FILEminimizer.jpg" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Ngandil Daging Kebo Lebaran di Betawi</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/tradisi-ngandil-daging-kebo-lebaran-di-betawi/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/tradisi-ngandil-daging-kebo-lebaran-di-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2025 03:50:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Ngandil Kebo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=84617</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Dahulu, mungkin juga masih ada hingga kini, ada sebuah tradisi yang dilakukan komunitas masyarakat Betawi Jabodetabek,...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/tradisi-ngandil-daging-kebo-lebaran-di-betawi/">Tradisi Ngandil Daging Kebo Lebaran di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Dahulu, mungkin juga masih ada hingga kini, ada sebuah tradisi yang dilakukan komunitas masyarakat Betawi Jabodetabek, atau daerah Serang, Banten, yaitu potong kerbau, orang Betawi menyebutnya Kebo, menjelang lebaran. Hal ini dilakukan karena hampir setiap lebaran dan hari besar Islam, orang Betawi suka menyembelih kerbau dan dagingnya untuk dijadikan menu makan atau kuliner berupa *Semur Betawi* kuliner yang sangat khas Betawi, yang biasa tersedia pada Hari Raya Lebaran.</p>
<p><strong>Asal-Usul Tradisi</strong></p>
<p>Tradisi potong kerbau atau *ngandil* daging kerbau berasal dari kebiasaan masyarakat Betawi di Jabodetabek,?yang telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pada saat itu, masyarakat Betawi sering mengadakan acara-acara adat dan ritual keagamaan yang melibatkan penyembelihan hewan, termasuk kerbau.</p>
<p>Tradisi potong kerbau memiliki makna dan tujuan yang mendalam. Selain sebagai bentuk rasa syukur dan kegembiraan, tradisi ini juga memiliki tujuan untuk Memperkuat : ikatan sosial dan kekeluargaan dalam masyarakat Betawi. Menunjukkan rasa hormat dan kesyukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menghormati leluhur dan tradisi yang telah ada sejak lama.</p>
<p><strong>Kebudayaan dan Tradisi</strong></p>
<p>Tradisi potong kerbau merupakan bagian dari kebudayaan dan tradisi masyarakat Betawi. Tradisi ini telah ada sejak lama dan terus dilestarikan hingga saat ini. Tradisi ini juga merupakan bentuk ekspresi kebudayaan dan keagamaan masyarakat Betawi. Karena itu tradisi potong kerbau memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Betawi, yaitu:</p>
<p>1. Memperkuat ikatan sosial dan<br />
kekeluargaan.</p>
<p>2. Menunjukkan rasa hormat dan<br />
kesyukuran kepada Tuhan Yang<br />
Maha Esa.</p>
<p>3. Menghormati leluhur dan tradisi<br />
yang telah ada sejak lama.</p>
<p>Daging yang dipotong kemudian dibagikan kepada para angota perkumpulan ngandil untuk dijadikan bahan Semur Daging Betawi. Untuk memenuhi kebutuhan pembuatan Semur Lebaran, biasanya, beberapa bulan sebelum waktu lebaran tiba, masyarakat Betawi berkumpul bermusyawarah dan mengumpulkan uang atau patungan untuk membeli kerbau.</p>
<p>Cara mengolek uang dari mayarakat itu sering disebut *Patungan. Masyarakat mengumpulkan uang dikoordinir oleh seorang ketua panitia _*Ngandil kerbau ini. Jika sudah terkumpul uangnya, panitia pergi ke suatu daerah untuk membeli kerbau.</p>
<p>Jika sudah cocok dengan harganya, kerbau dibeli dan dipelihara oleh anggota keluarga patungan tadi untuk merawat dan memeliharanya. Istilah pemelihara kerbau sering disebut *Ngangon*.</p>
<p>Sang pemelihara kerbau memelihara dan merawatnya hingga menjelang waktu pemotongan. Setiap hari kerbau dikirim ke sawah atau lapangan berumput, agar bisa memakan rerumputan dan dedaunan. Kemudian pada sore hari, setelah dimandikan, diguyang, istilah Betawiny, kerbau digiring pulang ke dan dimasukkan ke dalam kandang.</p>
<p>Kegiatan seperti ini rutin dilakukan tukang ngangon kerbau hampir setiap hari hingga menjelang waktu pemotongan.</p>
<p><strong>Makna Sosial Tradisi Ngandil</strong></p>
<p>Tidak ada data sejarah terkait tradisi Ngandil ini. Fakta menunjukkan bahwa tradisi sudah berlangsung cukup lama dilakukan masyarakat Betawi. Dari hasil ngulik, bisa jadi tradisi ini bagian dari pengaruh tradisi masyarakat Banten, Bogor, dan daerah sekitar Jabodetabe. Karena, saya menemukan tradisi ini di kampung isteri saya di Serang, Banten. Di Serang juga tradisi ini disebut Andilan.</p>
<p>Dari aspek kalimat, kata Ngadil berasal dari kata Andil, artinya punya peran atau saham berupa patungan uang dalam sebuah kegiatan sosial. Kemudian, Ngandil Daging Kebo, artinya seseorang dari anggota masyarakat Betawi, dia berkontribusi dalam bentuk uang yang disimpan oleh ketua atau bendahara pantia andil Kebo. Masyarakat yang berkumpul kemudian bersepakat mengadakan patungan untuk membeli kerbau. Biasanya, dalam setiap kelompok andil terdiri dati 10 orang. Jadi, jika harga kerbau 15 juta, maka masing-masing anggota harus setor ikut patungan sekitar 1.5 juta perorang. Dan cicilan itu paling lambat dilunasi sehari sebelum pembelian kerbau. Jika berat dagingn kerbau ada sekitar 100 kg, maka setiap anggota patungan mendapatkan 10 kg daging ditambah dengan jeroan dan lain-lain.</p>
<p><strong>Makna Tradisi Ngandil</strong></p>
<p>Tradisi Ngandil Daging Kerbau memiliki beberapa makna yang mendalam, antara lain:</p>
<p>Makna Sosial<br />
1. Penguatan Ikatan Sosial: Tradisi Ngandil Daging Kerbau memperkuat ikatan sosial antara masyarakat, terutama antara tetangga dan keluarga.<br />
2. Kesadaran Bersama: Tradisi ini membangun kesadaran bersama tentang pentingnya berbagi dan tolong-menolong.</p>
<p>Makna Religius<br />
1. Rasa Syukur: Tradisi Ngandil Daging Kerbau merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat yang telah diberikan.<br />
2. Pengamalan Nilai-Nilai Islam: Tradisi ini mengamalkan nilai-nilai Islam seperti berbagi, tolong-menolong, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.</p>
<p>Makna Budaya<br />
1. Pelestarian Tradisi: Tradisi Ngandil Daging Kerbau merupakan bentuk pelestarian tradisi dan budaya masyarakat Betawi.<br />
2. Pengenalan Nilai-Nilai Budaya: Tradisi ini mengenalkan nilai-nilai budaya dan tradisi masyarakat Betawi kepada generasi muda.</p>
<p>Makna Filosofis<br />
1. Kesadaran akan Keterhubungan: Tradisi Ngandil Daging Kerbau mengingatkan kita akan keterhubungan antara manusia dan alam, serta antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.<br />
2. Penghargaan atas Nikmat: Tradisi ini mengingatkan kita untuk menghargai nikmat yang telah diberikan dan untuk berbagi dengan orang lain.</p>
<p>Jadi , makna yang terkandung di dalam patungan andil daging kebo adalah nilai kebersamaan dalam memenuhi kebutuhan. Sebab, dengan begitu, terjadi interaksi dan komunikasi intens antara satu anggota masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya dalam sebuah komunitas.</p>
<p>Demikian dan insya Allah bermanfaat {Odie}</p>
<p>Pamulang, 24 Maret 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/tradisi-ngandil-daging-kebo-lebaran-di-betawi/">Tradisi Ngandil Daging Kebo Lebaran di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/tradisi-ngandil-daging-kebo-lebaran-di-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/berita.depok.go.id/storage/posts//4zWQ3gPlBD9cPZssXIRAh6UseM6f93nlGyoIGerZ.webp?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Menatap Masa Depan Anak Betawi (3): Dua Gede</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/menatap-masa-depan-anak-betawi-3-dua-gede/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/menatap-masa-depan-anak-betawi-3-dua-gede/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2025 03:27:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Syamsul Yakin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=84614</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Syamsul Yakin, Penulis Buku &#8220;Milir&#8221; Anak Betawi tahun 1990-an mungkin tidak mengenal apa itu &#8220;dua gede&#8221;. Dua gede adalah...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/menatap-masa-depan-anak-betawi-3-dua-gede/">Menatap Masa Depan Anak Betawi (3): Dua Gede</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Syamsul Yakin, Penulis Buku &#8220;Milir&#8221;</strong></em></p>
<p>Anak Betawi tahun 1990-an mungkin tidak mengenal apa itu &#8220;dua gede&#8221;. Dua gede adalah salah satu jenis film layar lebar pada film layar tancap. Layar tancap adalah hiburan rakyat yang tumbuh pesat pada 1970-an hingga awal 1990-an di kampung-kampung Betawi, seperti di Jakarta, Depok. Tangerang, dan Bekasi. Film dua gede disebut juga film layar lebar mabak dengan proyektor 35 milimeter. Sensasi menonton film dua gede begitu atraktif dan menarik.</p>
<p>Sebenarnya selain dua gede, ada dua lagi jenis film layar tancap. Pertama, satu kecil. Biasanya pemilik film layar tancap hanya membawa satu saja proyektor. Hal itu ditandai dengan jeda tayangan sekitar setengah jam. Waktu itu digunakan untuk menggulung film. Agar penonton tidak bengong pemilik film menyetel lagu dengan suara keras yang orang Betawi bilang pelat. Bagi penonton, kesempatan ini juga digunakan untuk jajan atau sekadar buang air kecil di bawah pohon.</p>
<p>Film satu kecil umumnya film lama. Orang Betawi yang menyewa juga biasanya orang susah. Terkadang nanggap film ketika itu demi gengsi atau janji kepada anak yang disunat atau dinikahkan. Atau karena nazar atau kudangan (perkataan orangtua kepada anak yang disunat atau dinikahkan bahwa mereka dijanjikan akan ditanggapin layar tancap, misalnya). Dalam konteks ini berlaku pemeo pada masyarakat Betawi, &#8220;biar tekor asal kesohor&#8221;. Nyatanya memang kesohor dan dikenal royal (berani mengeluarkan uang).</p>
<p>Kedua, dua kecil. Film layar tancap dua kecil menggunakan dua proyektor sehingga tidak ada jeda dan tidak ada pelat. Penonton dapat terus menonton sejak Isya hingga adzan Subuh berkumandang. Dalam satu malam perhelatan layar tancap paling banyak lima film dapat ditayangkan. Umumnya, penonton film dua kecil lebih banyak ketimbang satu kecil. Orang Betawi yang nanggap juga lebih banyak duitnya kendati bukan termasuk orang gedean. Film-film yang diputar tidak tergolong film lawas, namun bukan film baru.</p>
<p>Perbedaan ketiga jenis film layar tancap ini yang paling mencolok adalah, pada film dua gede sering terjadi kerusuhan akibat film yang ditayangkan bukan film baru. Tak jarang perhelatan bubar karena tiang bambu penopang layar lebar ditebang oleh penonton yang tidak puas. Mereka yang menebang dikenal dengan istilah cokok. Cokok adalah mania film layar tancap yang selalu datang di selebar kampung saban malam. Wajar kalau semua film sudah mereka tonton.</p>
<p>Perbedaan berikutnya dari kebaruan film yang diputar. Film mabak atau dua gede sering kali adalah film yang masih diputar di bioskop. Karena itu nanggap film dua gede berbiaya mahal. Yang nanggap biasanya orang gedean, juragan, atau calo yang diprovokasi oleh temannya sesama calo. Biasanya mereka patungan. Istilahnya mereka kondangan dengan membantu membayar film dua gede. Sementara ustadz atau mualim kalau hajatan atau keriaan mereka tidak naggap film. Paling banter naggap kasidahan atau malah mengundang guru gede buat ceramah agama.</p>
<p>Perbedaan lain film dua gede, dua kecil, dan satu kecil adalah dari sisi penjaja makanan. Sejak 1970-an hingga awal 1990-an banyak orang Betawi yang bermata pencaharian sebagai tukang dagang di tempat tontonan. Utamanya layar tancap ini. Mereka datang dari kampung yang jauh berjalan beriringan sejak pagi hari. Mereka mendorong gerobak bakso, soto mie, minuman dingin dalam botol. Ada juga yang menjual gado-gado, tahu kuning, lepet, uli bakar, hingga sate ayam dan sate kambing. Tukang dagang lebih mengejar berdagang pada film dua gede karena lebih banyak penontonnya. Dalam film gua gede, areal layar tancap disesaki oleh para tukang dagang ini.</p>
<p>Perbedaan lain dari film dua gede adalah sebelum film ditayangkan, diputar lebih dahulu film extra. Film extra adalah film baru yang akan rilis beberap bulan lagi. Semacam iklan. Agar para penonton tahu akan ada film baru yang bakal tayang. Film extra itu tidak hanya film &#8220;melayu&#8221; (film Indonesia) tapi juga film Barat, film Hongkong, dan film India. Dahulu belum dikenal istilah film Hollywood, Bollywood, dan film China. Film extra inilah yang jadi referensi bagi para cokok untuk menonton film baru.</p>
<p>Bagi anak Betawi ketiga jenis layar tancap itu telah membuka jendela mereka mengenal film-film dunia. Merka akrab denga aktor legendaris asal Hongkong, yakni Jimmy Wang Yu. Saat itu dikenal dengan istilah &#8220;Film Wang Yu&#8221;. Seperti istilah &#8220;Film Dono&#8221; pada 1990-an. Anak Betawi juga menyaksikan film yang dibintangi Roger Moore, bahkan banyak yang bertingkah seperti James Bond. Bagi yang hidupnya romantis, mereka sangat menyukai aktor India Amitabh Bachchan, jauh sebelum Shah Rukh Khan.</p>
<p>Untuk anak Betawi yang suka film laga mereka gandrung dengan aktor Barry Prima, Advent Bangun, dan Goerge Rudy. George Rudy kerap dilapalkan dengan Gargar Rudy oleh anak Betawi. Tak jarang usai menonton film laga, anak Betawi sering memerankan diri sebagai tokoh dalam film tersebut. Ada yang mengaku Mandala, Brama Kumbara, Jaka Sembung, dan lain-lain saat bermain di lapangan atau di tumpukan jerami di tengah sawah. Mereka main berantem-beranteman (bukan berantem beneran). Inilah pendidikan layar tancap yang sangat berkesan.</p>
<p>Orang Betawi juga sangat suka aktor komedi seperti Bokir, Bunyamin Sueb, dan belakangan Mandra. Film-film mereka jenaka. Bokir, misalnya, kendati main dalam film horor bareng Suzzanna, tetap saja lucu. Begitu juga, Bunyamin Sueb, kendati jadi koboi tetap saja mengundang tawa. Termasuk juga mandra yang diawal karirnya sering jadi peran figuran yang lucu. Untuk menyebut contoh, mereka adalah aktor kawakan yang dilahirkan oleh masyarakat Betawi yang hari ini belum tergantikan kendati sering ditiru orang.</p>
<p>Untuk bintang film remaja yang jadi pujaan anak muda sejak 1980-an salah satunya adalah Rano Karno. Selain sebagai penyanyi, dia juga merambah menjadi sineas film berlatar belakang kehidupan masyarakat Betawi. Yang paling fenomenal adalah sinetron Si Doel Anak Sekolahan (SDAS) yang dibintanginya bersama Bunyamin Sueb dan Mandra. Keberhasilan Rano Karno selain talenta dari ayahnya Sukarno M. Noor, bisa jadi terinspirasi sutradara kawakan asal Betawi seperti Nawi Ismail dan Sjuman Djaya.</p>
<p>Sampai di sini dapat dikatakan bahwa orang Betawi adalah penonton film, pemain film, dan pembuat film. Bahkan pengedar film layar tancap. Di Depok dikenal istilah &#8220;Film Bang Puyuh&#8221;. Ada lagi &#8220;Film Bang Muhyi&#8221; dan &#8220;Film Si Wandi&#8221;, dua yang disebut terakhir beralamat di Sawangan kota Depok. Bahkan di Kedaung Ciputat ada distributor film 16 milimeter dengan nama &#8220;Naban Film&#8221;, milik H. Naban. Masyarakat Betawi juga mendukung perhelatan layar tancap, baik satu kecil, dua kecil, dan dua gede. Konfigurasi ini seharusnya melahirkan lagi bintang film dan sineas Betawi.</p>
<p>Namun bagaimana caranya untuk memunculkan kembali aktor dan pekerja film dari Betawi? Tak bisa disangkal para seniman Betawi harus urun rembuk. Harus ada tukang gesah yang menceritakan masa keemasan film-film yang dibintangi orang Betawi. Saksi hidup dan pelaku seni yang masih eksis seperti Rano Karno dan Mandra bisa tampil paling depan. Selagi masih ada waktu saatnya mereka menularkan kesuksesan yang pernah diraih kepada anak Betawi masa kini. Andai diperlukan untuk mendirikan Institut Kesenian Betawi (IKB), itu lebih baik. Sebab faktanya, lawakan di televisi banyak bergenre Betawi yang suka nyablak. Itu artinya film Betawi disukai hingga kini.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/menatap-masa-depan-anak-betawi-3-dua-gede/">Menatap Masa Depan Anak Betawi (3): Dua Gede</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/menatap-masa-depan-anak-betawi-3-dua-gede/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/asset.uinjkt.ac.id/uploads/azGTdycW/2023/10/syamsul-yakin.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Road Map Pemajuan Budaya Betawi</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/road-map-pemajuan-budaya-betawi/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/road-map-pemajuan-budaya-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2025 06:48:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=84603</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Sejak lama, Jakarta merupakan Ibu Kota Negara Republik Indonesia, dan dihuni oleh penduduk asli Betawi dan...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/road-map-pemajuan-budaya-betawi/">Road Map Pemajuan Budaya Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Sejak lama, Jakarta merupakan Ibu Kota Negara Republik Indonesia, dan dihuni oleh penduduk asli Betawi dan para pendatang kemudian, sampai Jokowi memutuskan Ibu Kota Negara pindah ke Kalimantan Timur dan menjadi Proyek Strategis Nadional dan kemudian Prabowo memutuskan untuk terus melakukan kebijakan, Ibu Kota Negara harus pindah pada November 2024. Saat itulah Jakarta sudah tidak bisa disebut sebagai DKI Jakarta. Ketika sudah tidak menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonsia (IKN RI), maka Jakarta harus memiliki strategi untuk tetap bertahan sebagai pusat bisnis, selain pusat pendidikan dan pariwisata, karena Jakarta masih memiliki peran penting dalam memajukan budaya dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.</p>
<p>Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Jakarta telah mengalami perubahan yang signifikan, baik dari segi demografi, ekonomi, maupun sosial. Oleh karena itu, diperlukan peta jalan *(road map)* yang jelas dan komprehensif untuk memajukan budaya Jakarta, sehingga Jakarta mampu bersaing dan setara dengan kota-kota besar di dunia.</p>
<p>Untuk itu, saya berusaha memberikan kontribusi, berupa pemikiran sesuai kapasitas saya, tentang beberapa strategi pengembangan budaya Jakarta.</p>
<h3>Pengertian budaya Betawi</h3>
<p>Budaya Betawi adalah keseluruhan sistem nilai, kepercayaan, dan perilaku yang dianut oleh masyarakat Betawi Jakarta, serta hasil cipta, rasa, dan karsa mereka dalam membangun kehidupan sehari-hari. Budaya Betawi Jakarta merupakan perpaduan antara budaya lokal, budaya nasional, dan budaya global yang telah berkembang selama berabad-abad.</p>
<h3>Ciri-Ciri Budaya Betawi</h3>
<p>Budaya Betawi memiliki beberapa ciri-ciri yang khas dan unik, antara lain:</p>
<p>1. Kebinekaan:</p>
<p>Budaya Betawi Jakarta sangat beragam dan plural, mencerminkan kebinekaan masyarakat Jakarta yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya.</p>
<p>2. Keterbukaan:</p>
<p>Masyarakat Jakarta dikenal sangat terbuka dan menerima perbedaan, sehingga memungkinkan terjadinya proses akulturasi dan asimilasi budaya.</p>
<p>3. Kreativitas:</p>
<p>Budaya Jakarta sangat kreatif dan inovatif, mencerminkan semangat dan dinamisme masyarakat Jakarta dalam menghadapi tantangan dan perubahan.</p>
<p>4. Kesadaran Sejarah:<br />
Masyarakat Jakarta memiliki kesadaran sejarah yang kuat, sehingga memungkinkan terjadinya pelestarian dan pengembangan budaya lokal.</p>
<p>5. Kesadaran Lingkungan:<br />
Budaya Jakarta juga memiliki kesadaran lingkungan yang kuat, mencerminkan komitmen masyarakat Jakarta untuk melestarikan lingkungan hidup dan menghadapi tantangan perubahan iklim.</p>
<h3><strong>Unsur-Unsur Budaya Betawi Jakarta</strong></h3>
<p>Budaya Jakarta terdiri dari beberapa unsur, antara lain:</p>
<p>1. Bahasa: Bahasa Jakarta, juga dikenal sebagai bahasa Betawi, adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat Jakarta dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>2. Musik dan Tarian: Musik dan tarian tradisional Jakarta, seperti tanjidor dan lenong, merupakan bagian penting dari budaya Jakarta.</p>
<p>3. Kesenian: Kesenian Jakarta, seperti ukiran kayu dan kerajinan tangan, merupakan bagian penting dari budaya Jakarta.</p>
<p>4. Kuliner: Kuliner Jakarta, seperti sate, gado-gado, dan kerak telor, merupakan bagian penting dari budaya Jakarta.</p>
<p>5. Tradisi: Tradisi Jakarta, seperti perayaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, merupakan bagian penting dari budaya Jakarta.</p>
<h3>Road Map Pengembangan Budaya Jakarta</h3>
<p><strong>Visi</strong></p>
<p>Membangun Jakarta sebagai kota yang memiliki budaya yang kaya, beragam, dan dinamis, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.</p>
<p><strong>Misi</strong></p>
<p>1. Mengembangkan dan melestarikan budaya lokal Jakarta<br />
2. Meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap budaya Jakarta<br />
3. Mengembangkan infrastruktur dan fasilitas budaya<br />
4. Meningkatkan kerja sama dengan lembaga-lembaga budaya dan pariwisata<br />
5. Mengembangkan program-program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap budaya Jakarta</p>
<p><strong>Tujuan Jangka Pendek (2025-2030)</strong></p>
<p>1. Mengembangkan program-program promosi dan pemasaran untuk mempromosikan budaya Jakarta<br />
2. Mengembangkan infrastruktur dan fasilitas budaya, seperti museum dan galeri seni<br />
3. Mengadakan festival dan perayaan budaya untuk mempromosikan budaya Jakarta<br />
4. Mengembangkan program-program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap budaya Jakarta</p>
<p><strong>Tujuan Jangka Menengah (2030- 2035)</strong></p>
<p>1. Mengembangkan kerja sama dengan lembaga-lembaga budaya dan pariwisata untuk mempromosikan budaya Jakarta<br />
2. Mengembangkan program-program sosial dan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat<br />
3. Mengembangkan infrastruktur dan fasilitas budaya, seperti teater dan gedung pertunjukan<br />
4. Mengembangkan program-program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap budaya Jakarta</p>
<p><strong>Tujuan Jangka Panjang (2035-2045)</strong></p>
<p>1. Membangun Jakarta sebagai kota yang memiliki budaya yang kaya, beragam, dan dinamis<br />
2. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jakarta melalui pengembangan budaya<br />
3. Mengembangkan kerja sama dengan lembaga-lembaga budaya dan pariwisata internasional untuk mempromosikan budaya Jakarta<br />
4. Mengembangkan program-program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap budaya Jakarta</p>
<p><strong>Strategi Pengembangan</strong></p>
<p>1. Mengembangkan program-program promosi dan pemasaran untuk mempromosikan budaya Jakarta<br />
2. Mengembangkan infrastruktur dan fasilitas budaya<br />
3. Mengadakan festival dan perayaan budaya untuk mempromosikan budaya Jakarta<br />
4. Mengembangkan program-program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap budaya Jakarta<br />
5. Mengembangkan kerja sama dengan lembaga-lembaga budaya dan pariwisata untuk mempromosikan budaya Jakarta</p>
<p><strong>Indikator Keberhasilan</strong></p>
<p>1. Meningkatnya kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap budaya Jakarta<br />
2. Meningkatnya jumlah pengunjung ke tempat-tempat budaya di Jakarta<br />
3. Meningkatnya kualitas hidup masyarakat Jakarta melalui pengembangan budaya<br />
4. Meningkatnya kerja sama dengan lembaga-lembaga budaya dan pariwisata untuk mempromosikan budaya Jakarta</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Road map pengembangan budaya Jakarta yang telah disusun dalam makalah ini dapat menjadi acuan untuk memajukan budaya dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jakarta. Dengan fokus pada pengembangan infrastruktur dan fasilitas budaya, promosi dan pemasaran budaya, serta pengembangan program-program pendidikan dan pelatihan, diharapkan budaya Jakarta dapat berkembang dan menjadi lebih dinamis.</p>
<p>Demikian dan terima kasih InsyaAllah bermanfaat {Odie}.</p>
<p>Pamulang, Maret 2025.</p>
<p>Murodi al-Batawi</p>
<p>Pusat Studi Betawi (PSB)<br />
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/road-map-pemajuan-budaya-betawi/">Road Map Pemajuan Budaya Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/road-map-pemajuan-budaya-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2024/04/keragaman-budaya-betawi-disuguhkan-di-pkb-2023-06-23-043000_0.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Menatap Masa Depan Anak Betawi (2): Guru Gede</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/menatap-masa-depan-anak-betawi-2-guru-gede/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/menatap-masa-depan-anak-betawi-2-guru-gede/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2025 05:35:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=84600</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Syamsul Yakin, Penulis Buku Milir Dalam pandangan sebagian orang Betawi &#8220;guru gede&#8221; itu bukan guru besar alias profesor. Guru...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/menatap-masa-depan-anak-betawi-2-guru-gede/">Menatap Masa Depan Anak Betawi (2): Guru Gede</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Syamsul Yakin, Penulis Buku Milir</strong></em></p>
<p>Dalam pandangan sebagian orang Betawi &#8220;guru gede&#8221; itu bukan guru besar alias profesor. Guru besar sendiri di tanah Arab disebut ustadz (al-Ustaadz). Sementara ustadz di tanah Betawi adalah guru madrasah. Guru gede tidak dikontrakan dengan guru kecil. Itulah moralitas orang Betawi. Bahkan frasa tersebut tidak pernah dikenal. Guru adalah guru, tidak ada yang kecil. Namun guru gede ada.</p>
<p>Guru gede adalah sebutan untuk mubaligh yang diundang untuk memberi ceramah dalam perhelatan hari besar Islam. Misalnya, Maulid dan Isra Mikraj. Tempatnya di masjid terbesar pada komunitas Betawi. Umumnya disebut sebagai masjid jami&#8217; atau masjid yang digunakan untuk shalat Jum&#8217;at. Misalnya Masjid Jami&#8217; al-Ikhlas di kawasan Parung Bingung kota Depok yang saat ini berdiri megah dekat masjid Kubah Emas.</p>
<p>Kehadiran guru gede pada peringatan hari besar Islam sangat dinanti, terutama Maulid. Sebulan sebelum kedatangannya, masyarakat gegap-gempita. Orang Betawi membuat persiapan penuh. Mereka menghias masjid, memperbaiki jalan, dan menambah penerangan. Seperi memasang obor di kiri-kanan jalan. Mereka juga menangkap ikan di empang. Memanen palawija di sawah. Memetik kelapa di kebun. Mereka membuat paros dan kisa dari daun kelapa.</p>
<p>Guru gede dalam pandangan orang Betawi adalah mubaligh terkenal yang ceramah di radio dan televisi. Untuk mengundang guru gede minimal harus tiga bulan sebelum acara. Yang datang mengundang haruslah orang terpandang di kampung. Umumnya orang Betawi berembuk berkali-kali saat mengundang guru gede. Mulai rapat pembentukan panitia, pra pelaksanaan, dan pelaksanaan.</p>
<p>Guru gede yang diundang saat pelaksanaan tidak langsung ditempatkan di masjid. Tapi diistirahatkan dulu di rumah orang Betawi yang rumahnya paling gedong dan paling dekat dengan masjid. Para panitia inti, para ustadz setempat dan tokoh masyarakat mengerumuni guru gede dengan takzim. Mereka yang menemani guru gede adalah orang gedean pada masyarakat Betawi. Di rumah ini pula nanti guru gede akan beramah tamah dan makan-minum bersama seusai acara.</p>
<p>Kabar kehadiran guru gede diketahui luas hingga tetangga kampung. Tak heran banyak orang dari berbagai kampung berduyun-duyun datang. Kendati dilaksanakan pada malam hari. Apalagi memang pada sore harinya, selepas Ashar panitia membuat umbruk keliling kampung dengan menggunakan semacam mobil komando yang biasa dipakai demo. Bedanya, umbruk hanya menyiarkan bahwa akan datang guru gede dengan menggunakan pengeras suara lengkap dengan bedug.</p>
<p>Orang Betawi pernah melahirkan guru gede. Salah satunya adalah dai berjuta umat KH. Zainuddin, MZ. Beliau memiliki semua kualifikasi untuk disebut sebagai guru gede oleh orang Betawi. Kendati orang Betawi sendiri sering kali tidak kebagian dengan orang lain saat hendak mengundang beliau. Namun di luar itu, perlu dipelajari bagaimana caranya agar orang Betawi dapat melahirkan guru gede lagi seperti beliau? Apakah cukup dibiarkan saja terlahir secara alami atau harus dipersiapkan sejak dini?</p>
<p>Guru gede dari kalangan perempuan lahir juga pada komunitas masyarakat Betawi. Yang paling mengakar dan dikenal sebagai singa podium adalah Ustadzah Suryani Taher. Setiap kehadirannya, ditunggu dan disesaki tidak saja oleh kalangan perempuan. Semua orang tertarik menyaksikan ceramahnya yang menggebu. Vokalnya jelas, retorikanya menarik, gayanya eksentrik.</p>
<p>Hingga tulisan ini dibuat belum ada guru gede yang dianggap dapat menyamai ketenaran Ustadzah Suryani Taher. Untuk itu perlu menjadi kajian bersama, bagaimana caranya melahirkan singa podium seperti beliau? Tentu kita percaya, setiap guru gede ada masanya dan setiap masa ada guru gedenya. Namun dua guru gede yang menjadi contoh dalam tulisan ini belum ada yang menggantikan.</p>
<p>Guru gede tampaknya lahir dari masyarakat mendengar dan berbicara ketimbang dari masyarakat membaca dan menulis. Inilah tampaknya hambatan budaya melahirkan guru gede. Pada masanya, seorang guru gede bisa eksis di tengah masyarakat mendengar dan berbicara. Namun hari ini seiring perubahan yang begitu deras dan menggilas siapapun yang kalah bersaing, masyarakat Betawi sudah bertransformasi menjadi masyarakat membaca dan menulis.</p>
<p>Tentu mempersiapkan diri untuk menjadi guru gede pada masyarakat mendengar dan berbicara itu lebih mudah. Daya kritis mereka berbeda dengan masyarakat membaca dan menulis. Berdakwah pada masyarakat berbicara dan mendengar yang diutamakan adalah retorika rekreatif. Sementara berceramah pada masyarakat menulis dan membaca yang harus disuguhkan adalah retorika edukatif.</p>
<p>Untuk itu para calon guru gede harus terus mengamati perubahan zaman dan perkembangan teknologi komunikasi yang terus melaju. Kalau dahulu seorang guru gede lahir dan dibesarkan oleh media lama, seperti radio dan televisi, saat ini guru gede baru dapat muncul apabila eksis di media sosial. Sederet contoh bisa disebutkan untuk ini. Saat ini guru gede tidak akan jadi guru gede apabila tidak melek literasi digital, tidak memiliki tim media, dan tidak tampil saban hari di dunia maya.</p>
<p>Tak dapat disangkal, orang Betawi harus melahirkan guru gede lagi. Kebutuhannya sangat mendesak (extremelly urgent). Pertama, untuk menjadi motivasi dan inspirasi generasi masyarakat Betawi yang kian terdesak. Kedua, guru gede adalah penjaga moral yang masih dipandang secara karismatik di tengah arus modernisasi yang terus menggerusnya.</p>
<p>Tak berlebihan kalau para tokoh agama masyarakat Betawi duduk bersama mencari solusi mengenai masalah ini. Sebagai permulaan, mungkin dapat dibuat Lembaga Dakwah Betawi (LDB) yang menaungi para mubaligh Betawi. Semoga dari lembaga ini akan muncul lagi guru gede dari tanah Betawi yang sesuai dengan tuntutan zaman dan tuntunan Islam. Tentu apabila harapan ini jadi nyata, secercah cahaya terang bersinar di langit Betawi.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/menatap-masa-depan-anak-betawi-2-guru-gede/">Menatap Masa Depan Anak Betawi (2): Guru Gede</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/menatap-masa-depan-anak-betawi-2-guru-gede/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/www.siaranindonesia.com/data/uploads/2024/02/IMG-20240212-WA0003.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ternyata Ini Rahasia Panjang Umur Permata, Ormas Betawi Tertua</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/ternyata-ini-rahasia-panjang-umur-permata-ormas-betawi-tertua/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/ternyata-ini-rahasia-panjang-umur-permata-ormas-betawi-tertua/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2025 03:04:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=84590</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat banyak ormas Betawi bergulat dengan dualisme kepemimpinan, bahkan silang pendapat di ruang sidang dan lapangan. Permata memilih "jalan damai" untuk menjaga persatuan</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/ternyata-ini-rahasia-panjang-umur-permata-ormas-betawi-tertua/">Ternyata Ini Rahasia Panjang Umur Permata, Ormas Betawi Tertua</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Muhammad Sulhi Rawi</strong></em></p>
<p>Bagi saya, ada yang menarik dari acara buka puasa bersama (bukber) organisasi kemasyarakatan (ormas) Persatuan Masyarakat Jakarta (Permata) MHT, Sabtu (22/3/2025) di Hai Seafood, Tomang, Jakarta Barat.</p>
<p>Tak ada konvoi, &#8220;hingar-bingar&#8221;, dan kerepotan wara-wiri layaknya saat ormas besar Betawi ngumpul. Semua yang hadir: Pembina, Pengurus, perwakilan Korwil, maupun undangan, tampak santai. Seperti aliran air dan angin, mengalir lembut menyentuh tanah dan sejuk menerpa pipi.</p>
<p>Padahal, Permata bisa disebut sebagai salah satu ormas Betawi tertua di Jakarta. Bahkan mungkin saat ini tertua yang masih aktif berkegiatan. Permata yang berdiri pada 1976 dan tercatat sebagai pendiri Bamus Betawi, tahun depan memasuki milad emas &#8211; 50 tahun. Sebuah pencapaian yang tidak gampang.</p>
<p>Saat banyak ormas Betawi bergulat dengan dualisme kepemimpinan, bahkan silang pendapat di ruang sidang dan lapangan. Permata memilih &#8220;jalan damai&#8221; untuk menjaga persatuan. Permata memang bukan ormas yang mengedepankan aksi massa. Ibarat partai, dia partai kader berideologi &#8220;tengah&#8221; yang bisa menerima dan diterima semua kalangan.</p>
<p>Jadi apa rahasia panjang umur dan minim konflik ala Permata? Usai buka puasa, saya sempat berbincang dengan Muhammad Nuh aka Bang Haji Nuh, Ketua Harian DPP Permata MHT. Pria berusia 75 tahun yang masih sangat energik ini bicara gamblang soal filosofi kepemimpinannya di Permata MHT.</p>
<p>&#8220;Paling utama sebenarnya, pemimpin harus bisa menjaga lisan,&#8221; ucap Haji Nuh, sembari meletakkan telunjuk di dua bibirnya. Banyak persoalan yang muncul lantaran lisan yang tidak terjaga. Jadi, teladan jargon damai dan bersatu itu indah kudu dimulai dari para pemimpin. Yang di bawah tinggal mencontoh. Pendek kata, pemimpin jangan suka bikin gaduh.</p>
<p>Selain menjaga lisan, tiga prinsip penting yang disebut Haji Nuh sebagai rahasia panjang umur dan persatuan Permata adalah, pertama: utamakan musyawarah. Kedua, selalu menjaga silaturahmi. Dan ketiga, jadilah solusi (bukan kompor meledug) di manapun kita berada.</p>
<p>Musyawarah selalu jadi resep manjur ketika ada masalah menerpa organisasi. Khususnya soal uang yang kerap jadi sumber keributan. &#8220;Jangan jual organisasi demi uang atau kepentingan pribadi. Jika ada persoalan menyangkut uang, pengurus harus duduk bersama untuk membicarakan,&#8221; sebut Haji Nuh. Dia bilang, tradisi ini selalu dipelihara Permata sejak berdirinya hingga kini.</p>
<p>Silaturahmi juga jadi kunci dalam menjaga persatuan. Hargai orang-orang yang pernah berjasa pada organisasi. Jika si tokoh sudah wafat, undang anak atau cucu hadir di acara-acara organisasi. &#8220;Jangan seperti kacang lupa kulit,&#8221; tegas Nuh.</p>
<p>Di acara bukber, saya memang menyaksikan putra-putri para tokoh Permata yang sudah wafat diundang. Bukan hanya diundang, ada bingkisan juga buat mereka. Keluarga para &#8220;Pahlawan Permata&#8221; yang diundang, antara lain putra almarhum H. Syarif Mustafa, anak almarhum H. Amarullah Asbah, dan anak almarhum Brigjen TNI (Purn) H.M Sjukur. Suasana kekeluargaan sangat kental terasa</p>
<p>Prinsip ketiga, jadilah solusi di setiap kesempatan. Soal ini, Nuh panjang lebar menceritakan pengalamannya mendirikan komunitas Betawi, klub sepakbola, dan klub sepeda di kampungnya &#8211; Kota Bambu. Termasuk menjadi Pengurus DKM di empat masjid. Semua yang dia dirikan sejak 80-an, 90-an, hingga 2000-an itu masih bertahan utuh hingga kini. &#8220;Walaupun saya sudah enggak main bola dan main sepeda lagi,&#8221; bilangnya sembari terkekeh.</p>
<p>Solusi itu tidak semata soal uang atau materi. Tapi juga pemikiran dan kesediaan berbagi pengalaman, kemauan berkorban waktu, hingga keikhlasan memberi perhatian dan empati.</p>
<p>Terakhir, Haji Nuh menekankan pentingnya nakhoda organisasi bijak dalam menentukan arah dan mengambil keputusan. Ia mengibaratkan pimpinan organisasi sebagai sopir yang membawa banyak penumpang. &#8220;Di jalan tol, sopir bisa aja ngebut. Tapi buat apa kalau ujung-ujungnya celaka? Kalau jalan pelan-pelan lebih bisa membawa persatuan, keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan, buat apa ngebut enggak karuan?&#8221; sergah Nuh.</p>
<p>Dia lalu mengibaratkan organisasi bak akuarium. Debit airnya harus dijaga, kebersihannya dijaga, suplai makanan dijaga. &#8220;Sehingga ikan-ikannya bisa tinggal dengan nyaman,&#8221; tutup Nuh. Sebuah perumpamaan yang indah.</p>
<p>Malam makin tenggelam. Tak terasa percakapan sudah berlangsung dalam hitungan jam. Saya pamit dengan membawa pulang catatan filosofi kepemimpinan seorang sepuh Betawi sekaligus sepuh Permata MHT, organisasi yang bakal berusia setengah abad tahun depan. Tetap solid dan bersatu, Permata. Jadilah obor abadi buat Betawi. (icul)</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/ternyata-ini-rahasia-panjang-umur-permata-ormas-betawi-tertua/">Ternyata Ini Rahasia Panjang Umur Permata, Ormas Betawi Tertua</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/ternyata-ini-rahasia-panjang-umur-permata-ormas-betawi-tertua/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/res.cloudinary.com/dpqg36bu1/images/v1742698893/WhatsApp-Image-2025-03-23-at-09.16.52_e36b23f4-FILEminimizer/WhatsApp-Image-2025-03-23-at-09.16.52_e36b23f4-FILEminimizer.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
