Opini  

Pelajaran Penting dari Perang AS-Iran: Kesatuan Negeri Muslim Mampu Mengalahkan Hegemoni Global

Oleh: Dr. Retno Muninggar, Dosen PTN, Alumni FEB UI

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa negaranya meraih kemenangan setelah terlibat konfrontasi bersenjata selama lebih dari 40 hari melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pernyataan ini muncul menjelang negosiasi perdamaian yang dijadwalkan segera berlangsung di Islamabad, Pakistan. Boroujerdi menilai kemenangan tersebut terlihat dari sikap AS yang terpaksa menerima 10 kerangka tuntutan gencatan senjata yang diajukan Teheran sebagai landasan negosiasi (mediaindonesia.com, 10/4/2026).

Beberapa poin krusial dalam 10 syarat yang diminta Iran kepada AS meliputi: (1) Pengakuan hak Iran untuk memperkaya uranium; (2) Pencabutan seluruh sanksi ekonomi dari Amerika Serikat; (3) Penarikan pasukan militer AS dari kawasan Timur Tengah; (4) Penghentian permusuhan di semua lini, termasuk di Libanon; dan (5) Larangan gencatan senjata digunakan sebagai dalih untuk mempersenjatai kembali pihak lawan. Kondisi ini membuktikan pada dunia bahwa AS-Israel tak sekuat yang dibayangkan dunia sebagai negara adikuasa karena ternyata tak mudah mengalahkan Iran (hanya 1 negeri muslim saja) dan semakin membuktikan bagaimana keberanian Iran melawan AS.

Upaya meningkatkan dukungan dan kekuatan militer melawan Iran terus diupayakan Trump melalui ajakan kepada negara-negara Uni Eropa. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Presiden Donald Trump mengharapkan “semua sekutu Eropa” mendukung perang AS-Israel melawan Iran. Pernyataan itu muncul setelah Trump terlihat kesal karena dukungan Eropa terhadap perang tersebut datang lebih lambat dari yang ia harapkan. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez bahkan dengan tegas menentang perang tersebut dan menolak memberikan akses kepada AS untuk menggunakan pangkalan militernya untuk menyerang Iran. (news.detik.com, 10/3/2026).

Namun dukungan terhadap AS-Israel juga datang dari negeri muslim yaitu negaranegara Arab di Teluk, seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, Qatar, dan Bahrain, secara umum mendukung Amerika Serikat dan Israel serta mengutuk Iran yang menargetkan fasilitas militer AS di kawasan. Kerja sama strategis mereka dengan Washington dipengaruhi oleh ketergantungan pada eksplorasi dan distribusi minyak serta kepentingan keamanan regional. Kemitraan negeri muslim dengan AS erat kaitannya dengan struktur ekonomi negara Arab yang bertumpu pada eksplorasi serta distribusi minyak dan gas. Gangguan akses penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga dipandang berpotensi mengancam ekspor energi dan mengguncang perekonomian domestik negara-negara teluk (katadata.co.id, 4/3/2026).

Analisis kondisi global tersebut jika dilihat dari aspek persatuan kaum muslimin, sangat disayangkan jika terdapat penguasa muslim yang bersekutu dengan AS dan Israel. Hal ini menunjukkan pengkhianatan penguasa muslim dan akan melemahkan kesatuan umat. Padahal dunia hari ini menunjukkan bahwa satu negeri muslim saja seperti Iran mampu melawan AS apalagi jika semua negeri muslim bersatu.

Jika semua negeri-negeri muslim bersatu maka berpotensi menjadi kekuatan global baru. Kesatuan negeri muslim yang diikat dalam institusi Khilafah Islam (Sistem Pemerintahan Islam) akan mampu mengalahkan hegemoni negara adidaya kafir. Institusi Khilafah Islam yang akan membebaskan penderitaan negeri-negeri muslim yang terjajah. Selain itu Khilafah Islam dengan dakwah dan jihad akan membawa rahmat bagi dunia, sebagaimana firman Allah swt dalam ayat berikut:  “Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).