Opini  

Perlunya Pembatasan Media Sosial Pada Anak

Oleh Rania Farellya, mahasiswa Manajemen Universitas Mulawarman

Kalau lihat di zaman sekarang, media sosial sudah seperti bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir semua orang membukanya setiap hari, termasuk anak-anak yang sebenarnya masih di bawah umur. Saya sendiri sering melihat di sekitar saya, bahkan anak yang masih TK atau SD sudah terbiasa menggunakan handphone dan membuka media sosial.

Menurut saya, sebenarnya media sosial tidak sepenuhnya buruk. Kadang media sosial juga bisa menghibur atau membuat kita mengetahui hal-hal baru. Tetapi yang saya perhatikan, masalahnya muncul ketika anak-anak terlalu sering menggunakannya dan akhirnya jadi kebiasaan yang buruk.

Saya pernah melihat beberapa anak di sekitar tempat tinggal saya yang lebih sering duduk sambil bermain handphone daripada bermain di luar seperti dulu. Bahkan ketika mereka berkumpul dengan teman-temannya, kadang mereka tetap sibuk dengan layar masing-masing. Dari situ saya merasa bahwa media sosial bisa membuat anak jadi kurang berinteraksi secara langsung.

Hal lain yang menurut saya cukup terlihat adalah anak-anak mudah sekali meniru apa yang mereka lihat di media sosial. Kadang mereka mengikuti cara bicara atau gaya yang sedang viral. Padahal belum tentu hal tersebut cocok untuk usia mereka.

Selain itu, saya juga merasa media sosial bisa mempengaruhi perasaan anak. Di media sosial banyak orang yang terlihat memiliki kehidupan yang sangat menarik. Jika anak sering melihat hal seperti itu, bisa saja mereka merasa minder atau membandingkan diri dengan orang lain.

Dari yang saya amati juga, penggunaan media sosial yang terlalu sering bisa mengganggu waktu belajar. Anak-anak jadi lebih tertarik membuka media sosial daripada belajar atau mengerjakan tugas. Jika hal ini terus terjadi, tentu saja bisa berdampak pada prestasi mereka di sekolahan.

Menurut pendapat saya, penggunaan media sosial pada anak di bawah umur memang sebaiknya tidak dibiarkan bebas. Orang tua tetap perlu mengawasi dan mengatur waktu penggunaan handphone. Dengan begitu, anak-anak masih bisa menggunakan teknologi, tetapi tidak sampai mengganggu perkembangan mereka.