Oleh Bunayya Qonita Rodiyah, Mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah, Universitas Tazkia
DEPOKPOS – Dari proyeksi IMF yang dipangkas hingga tekanan geopolitik Timur Tengah, perekonomian nasional menghadapi ujian serius — namun bukan tanpa harapan.
Tahun 2026 belum benar-benar membuka lembaran baru bagi ekonomi Indonesia. Awan ketidakpastian masih menggantung — kini terasa lebih dekat dan nyata dalam keseharian masyarakat.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen, sedikit turun dari realisasi 5,11 persen di tahun 2025.
Angka ini pun telah direvisi turun dari estimasi Januari 2026 yang semula dipasang 5,1 persen. Bank Dunia bahkan lebih pesimistis, mematok proyeksi di angka 4,7 persen, sementara OECD menghitung 4,8 persen.
“Dalam kondisi global yang melambat dengan pertumbuhan dunia diperkirakan turun ke 3,1 persen, capaian 5 persen Indonesia masih tergolong stabil.”
Timur Tengah dan Efek Domino Energi
Salah satu biang keladi pelambatan ini adalah konflik yang terus berkecamuk di kawasan Timur Tengah.
Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, menyatakan perang di kawasan tersebut telah menghambat pemulihan ekonomi global. Potensi penutupan Selat Hormuz dan kerusakan infrastruktur energi kritis dikhawatirkan memicu krisis energi berskala besar.
IMF memproyeksikan harga energi akan melonjak sekitar 19 persen sepanjang 2026. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak, kenaikan ini berarti biaya produksi meningkat, tekanan inflasi menguat, dan ruang fiskal pemerintah menyempit. Bila harga minyak menembus US$80 per barel, beban subsidi negara bisa membengkak signifikan.
Daya Beli Terancam, Pertumbuhan Terasa Jauh
Di dalam negeri, sinyal kekhawatiran datang dari para akademisi. Survei Ahli Ekonomi Semester I 2026 yang dirilis oleh LPEM Universitas Indonesia — melibatkan 85 ekonom — menilai kondisi perekonomian Indonesia berada dalam situasi memburuk atau setidaknya stagnan.
Ekspektasi inflasi yang meningkat menjadi alarm paling keras: ketika masyarakat mulai menahan belanja, dunia usaha langsung merasakan penurunan permintaan.
Para ekonom juga menyoroti bahwa pertumbuhan yang ada belum sepenuhnya dirasakan secara merata.
Kekhawatiran terhadap inklusivitas dan ketimpangan justru semakin menguat, menunjukkan bahwa angka makro yang tampak solid belum tentu mencerminkan kesejahteraan di lapisan bawah.
Fondasi Kuat, Tapi Ujian Belum Usai
Di sisi lain, pemerintah menunjukkan data yang lebih optimistis. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Indonesia memasuki kuartal II 2026 dalam posisi yang kuat: inflasi terkendali, surplus neraca perdagangan yang sudah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut, serta cadangan devisa yang solid di angka US$148,2 miliar.
Sektor manufaktur masih berada pada fase ekspansi, konsumsi rumah tangga menyumbang 54 persen terhadap PDB, dan transaksi mata uang lokal Indonesia meningkat dua kali lipat menjadi US$25,6 miliar pada 2025. Ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, nikel, tembaga, dan aluminium turut menjadi bantalan alami terhadap tekanan eksternal.
“Vietnam diproyeksikan tumbuh 7,1 persen — jauh melampaui Indonesia. Apa yang bisa dipelajari dari konsistensi kebijakan industri dan daya tarik investasi manufaktur negeri jiran itu?”
Momentum Diversifikasi dan Kemandirian Strategis
Tekanan global juga membuka peluang baru. Di tengah tren global untuk mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat, Indonesia didorong untuk memperkuat kemitraan alternatif — terutama di sektor perdagangan, energi, teknologi, dan pertahanan. Negara-negara Eropa, Kanada, hingga negara-negara ASEAN pun mulai mengambil jarak strategis dari Washington.
Pergeseran rantai pasok global akibat konflik juga membuka peluang bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, untuk menarik lebih banyak investasi manufaktur berorientasi ekspor.
Pertanyaannya: apakah Indonesia siap memanfaatkan momen ini dengan kebijakan yang konsisten dan transformasi struktural yang lebih matang?
Artikel ini disusun berdasarkan laporan IMF World Economic Outlook April 2026, data Kemenko Perekonomian RI, riset LPEM FEB UI, serta liputan Antara News, Kompas, dan Liputan6.
