Haji dan Jaringan Ulama Betawi

Dari Haramain Hingga Kampung

Haji dan Jaringan Ulama Betawi

Oleh: Murodi al-Batawi

Sejarah intelektual Islam di Betawi tidak dapat dilepaskan dari perjalanan haji para ulama Betawi ke Tanah Suci. Tulisan ini akan mengkaji secara sistematis bagaimana ibadah haji menjadi pintu masuk bagi pembentukan jaringan keilmuan transnasional yang menghubungkan Betawi dengan pusat-pusat peradaban Islam di Haramain. Melalui metode sejarah intelektual, penelitian ini melacak jejak para tokoh kunci seperti Syekh Junaid al-Batawi, Guru Marzuki, hingga Syekh Mukhtar, serta mengungkap peran komunitas Ashab al-Jawiyyin di Makkah sebagai ruang sosial-intelektual bagi para pelajar Nusantara. Tulisan ini juga akan mengkaji dinamika hubungan ulama Betawi dengan tiga elemen penting jaringan keilmuan: para guru besar Haramain, ulama-ulama Jawa, dan komunitas habaib di Batavia. Pada akhirnya. Karenanya, dapat dikatakan bahwa haji bukan sekadar ritual spiritual, melainkan instrumen peradaban yang membentuk karakter Islam Betawi yang moderat, berorientasi keilmuan, dan terbuka terhadap jaringan global.

Ibadah Haji: Antara Ritual dan Peradaban

Bagi masyarakat Betawi, gelar “Haji” atau “Hajjah” bukan sekadar penanda telah menunaikan rukun Islam kelima. Ia adalah simbol transformasi—dari individu biasa menjadi sosok yang dihormati, yang dianggap memiliki “barakah” perjalanan spiritual. Namun, di balik prestise sosial ini, tersembunyi narasi yang lebihbesar:_*bagaimana perjalanan haji telah menjadi poros peradaban Islam Betawi selama berabad-abad_*.

Berbeda dengan persepsi populer yang melihat haji sebagai ritual seremonial semata, tulisan ini juga akan mengungkap bahwa haji bagi ulama Betawi adalah _*gerbang keilmuan, pabrik sanad, dan ruang pertemuan jaringan global_*. Selain itu, tulisan ini juga akan menelusuri bagaimana para ulama Betawi—dari yang namanya termaktub dalam perjanjian politik Raja Ibnu Saud hingga yang karyanya menjadi kurikulum pesantren di seluruh Nusantara—terbentuk melalui pengalaman panjang menuntut ilmu di Haramain.

Dengan demikian, maka tulisan ini secara spesifik akan membahas: (1) pusat keilmuan di Haramain dan komunitas Ashab al-Jawiyyin sebagai ruang sosial para ulama Betawi; (2) para tokoh kunci ulama Betawi di Haramain, dari Syekh Junaid al-Batawi hingga Syekh Mukhtar Bogor; (3) relasi ulama Betawi dengan jaringan Jawa dan habaib; serta (4) kontribusi mereka terhadap pembentukan karakter Islam Betawi yang moderat dan berorientasi keilmuan.

Haramain sebagai Pusat Keilmuan: Wajah Kosmopolitan Abad ke-19

Pada abad ke-19, Makkah dan Madinah bukan hanya pusat spiritual umat Islam, tetapi juga jantung kehidupan keagamaan dan intelektual di Hindia Belanda. Para pelajar dari berbagai penjuru dunia Islam—dari Maroko hingga Nusantara—berduyun-duyun ke kota suci ini tidak hanya untuk berhaji, tetapi juga untuk menuntut ilmu .

Menurut orientalis Christiaan Snouck Hurgronje, pada perempat ketiga abad ke-19, “sesepuh ulama Jawi di Mekkah adalah Junaed, yang berasal dari Betawi” . Lebih dari 50 tahun ia menetap di Makkah, mengajar para jamaah dari Nusantara dengan bahasa Melayu sebagai pengantar, baik di rumahnya maupun di Masjidil Haram. Fakta ini menunjukkan bahwa ulama Betawi telah memainkan peran sentral dalam transmisi keilmuan Islam di Nusantara sejak pertengahan abad ke-19.

Kekuasaan ulama Betawi di Makkah bahkan mencapai puncaknya pada awal abad ke-20. Dalam perjanjian antara Raja Ali (putra Raja Husein), penguasa Makkah, dengan Raja Ibnu Saud yang berhasil merebut Makkah pada 1925, disebutkan beberapa persyaratan, di antaranya adalah agar beberapa orang besar yang menjalin hubungan erat dengan penguasa Makkah diberi kebebasan. Di antara mereka adalah “Syaikh Abdullah Betawi, Syaikh Ahmad Betawi, dan Syaikh Said Betawi” . Fakta ini menunjukkan bahwa ulama Betawi bukan sekadar tamu di Tanah Suci, melainkan bagian dari struktur sosial-politik masyarakat Haramain.

Pengaruh ini bukanlah kebetulan. Ia adalah produk dari sistem keilmuan yang terstruktur di Haramain. Para pelajar Betawi belajar di lembaga seperti Madrasah Shalwatiyah sebuah lembaga pendidikan formal yang difitnah oleh Muslim India. Di sini, selain materi dasar agama Islam, mereka juga diajarkan bahasa Inggris dan matematika. Uniknya, para pengajarnya banyak yang berasal dari Indonesia, sehingga bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Melayu—bahasa yang sudah menjadi lingua franca dunia saat itu .

Ashab al-Jawiyyin: Komunitas Pelajar Nusantara di Makkah

Para jamaah haji yang menetap dan belajar di Haramain biasanya berkumpul dalam satu wilayah yang dikenal dengan sebutan Ashab al-Jawiyyin Secara harfiah, istilah ini berarti “perkumpulan orang Jawa”—tetapi bukan merujuk pada etnis Jawa semata, melainkan pada bangsa Nusantara secara keseluruhan .

Di sinilah para pelajar Betawi berinteraksi dengan sesama muslim dari berbagai wilayah Nusantara—Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan—serta dengan para ulama dari berbagai negara. Pertemuan ini tidak hanya melahirkan solidaritas kultural, tetapi juga menjadi ajang diskusi keilmuan, pertukaran gagasan, dan pembentukan jaringan yang akan terus berlanjut ketika mereka pulang ke tanah air.

Interaksi ini berlangsung dinamis, terutama di Madrasah Darul Ulum Makkah yang menjadi jujukan para pelajar Nusantara di era Sayyid Muhsin al-Musawa dan kemudian Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. Di lembaga inilah para pelajar Betawi dan Jawa serta dari semua kawasan Nusantara belajar bersama.

Tokoh-Tokoh Kunci: Ulama Betawi di Haramain

Syekh Junaid al-Batawi: Mahaguru di Tanah Suci

Syekh Junaid al-Batawi adalah figur paling awal yang tercatat dalam sejarah sebagai ulama Betawi yang menetap di Makkah. Ia menetap di sana sejak 1834 M dan menjadi guru bagi banyak ulama Nusantara, termasuk yang paling terkenal: _*Syekh Nawawi al-Bantani_*pengarang tafsir *Marah Labid* yang menjadi rujukan utama para santri di Nusantara .

Peran Syekh Junaid sangat penting karena ia menjadi jembatan antara tradisi keilmuan Haramain dengan para pelajar Nusantara. Menguasai bahasa Melayu, ia mampu menyampaikan ajaran-ajaran para guru besar Makkah dengan cara yang dapat dipahami oleh murid-murid dari Nusantara. Fakta bahwa ia mengajar di Masjidil Haram—pusat keilmuan Islam paling bergengsi saat itu—menunjukkan otoritas keilmuan yang diakuinya .

Kisah Syekh Junaid mengajarkan bahwa sejak awal abad ke-19, orang Betawi bukan sekadar “penerima” ilmu dari Timur Tengah, tetapi telah menjadi bagian dari pusaran produksi pengetahuan itu sendiri.

Syekh Mukhtar : Guru Besar di Masjidil Haram

Syekh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughri al-Batawi al-Jawi, atau yang lebih dikenal dengan Syekh Mukhtar Bogor, adalah salah satu dari tiga ulama Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram dalam periode panjang. Ia mengajar di sana selama 28 tahun, sebanding dengan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (29 tahun) dan Syekh Ahmad al-Fathani (25 tahun) .

Sebelum berangkat ke Makkah, Syekh Mukhtar terlebih dahulu menimba ilmu di Betawi dari Habib Utsman bin Aqil bin Yahya, Mufti Betawi yang sangat masyhur. Selama belajar di Jakarta, ia banyak menghafal matan-matan ilmu—dari Mata al-Milhah hingga Matn al-Zubad – yang kelak menjadi modal dasarnya untuk mengajar di tingkat yang lebih tinggi .

Di Makkah, ia belajar kepada para ulama besar seperti Sayyid Muhammad Amin ar-Ridhwan al-Madani, Sayyid Abu Bakri Syatha, dan Syekh Muhammad Zainuddin al-Jawi as-Sumbawi. Ia dikenal sangat rajin: mengajar di Masjidil Haram antara Maghrib dan Isya dengan murid mencapai 400 orang, serta mengajar di rumahnya setelah Subuh (ilmu nahwu, sharaf, balaghah) dan setelah Asar (kitab Ihya’ Ulumiddin). Setiap malam Jumat, ia mengadakan majelis zikir dan doa yang diiringi jamuan makan bersama .

Syekh Mukhtar juga dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan. Ia menampung para pelajar tidak mampu, memberi mereka bimbingan ilmu sekaligus makan dan pakaian seperti yang ia berikan kepada keluarganya sendiri . Sikap ini mencerminkan karakter ulama Betawi yang tidak hanya alim, tetapi juga dekat dengan masyarakat dan peduli pada kesejahteraan santri.

Syekh Salim bin Sumair: Ulama Hadhramaut yang Berdakwah di Tanah Abang

Syekh Salim bin Abdullah bin Sumair al-Hadrami adalah figur unik dalam jaringan ulama Betawi. Berasal dari Hadhramaut, Yaman, ia adalah ulama besar yang hidup pada abad ke-13 H/19 M. Sebelum hijrah ke Batavia, ia memiliki karier cemerlang di tanah kelahirannya: menjadi penasihat Sultan Kerajaan Al-Katsiry, ahli strategi militer yang diutus ke India untuk mencari senjata perang, serta juru damai dalam konflik berkepanjangan antara Kerajaan Al-Katsiry dan suku Yafi’ .

Namun, ketika sang sultan mulai enggan mendengar nasihatnya, Syekh Salim memilih hijrah. Ia meninggalkan Hadhramaut menuju India, dan akhirnya menetap di Batavia sebagai pengembaraan terakhirnya. Di Batavia, ia melanjutkan dakwah dan mengajar, mendirikan berbagai majelis ilmu yang dipadati masyarakat. Di sini pula ia menulis kitab monumental yang paling dikenal: Safinatun Najah (Perahu Keselamatan)—kitab fikih dasar yang hingga kini menjadi kurikulum pesantren dan madrasah di seluruh Indonesia .

Syekh Salim dikenal sangat tegas dalam berdakwah. Ia mengkritik para ulama yang mendekat dan bergaul dengan pejabat kolonial Belanda, yang saat itu menguasai Batavia sejak 1621 M. Sikapnya yang anti-penjajah dan pro-kemandirian umat ini menjadi teladan bagi para ulama Betawi setelahnya .

Ia wafat pada tahun 1271 H/1855 M dan dimakamkan di bawah mihrab Masjid Al-Makmur, Tanah Abang, Jakarta Pusat—sebuah lokasi yang hingga kini ramai diziarahi . Makamnya mungkin tidak semasyhur kitabnya, tetapi kontribusinya bagi Islam di Betawi sangat fundamental.

Guru Marzuki dan The Six Teacher of Betawi

Pada periode akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, muncul generasi ulama Betawi yang oleh Abdul Aziz dalam bukunya Islam dan Masyarakat Betawi (2002) disebut sebagai “enam pendekar” atau the six teacher. Mereka adalah: Guru Mansur (Jembatan Lima), Guru Marzuki (Cipinang Muara), Guru Mughni (Kuningan), Guru Madjid (Pekojan), Guru Khalid (Gondangdia), dan Guru Mahmud Ramli (Menteng) .

Di antara mereka, KH Ahmad Marzuki bin Mirsod atau Guru Marzuki (1877-1934 M) adalah figur paling representatif. Dalam klasifikasi keulamaan Betawi, “Guru” adalah level tertinggi—setara dengan *Syaikhul Masyayikh. Seorang Guru dianggap representatif dalam mengeluarkan fatwa agama dalam spesialisasi bidang keilmuan Islam.

Para “guru” ini adalah produk langsung dari jaringan haji: mereka adalah orang Betawi yang pergi ke Makkah, menetap selama waktu yang diperlukan untuk menuntut ilmu, lalu pulang sebagai haji sekaligus ulama yang diakui otoritasnya .

Relasi Tiga Jaring: Betawi, Jawa, dan Habaib

Salah satu ciri paling khas dari jaringan ulama Betawi adalah *sifatnya yang lintas-etnis dan lintas-komunitas*. Mereka tidak eksklusif, melainkan terbuka dan membangun relasi dengan tiga kelompok utama: ulama Jawa, kaum habaib (Alawiyyin), dan para guru besar Haramain.

Relasi dengan Ulama Jawa: Sanad yang Bersambung

Relasi ulama Betawi dengan ulama Jawa terjalin erat karena keduanya bertemu di Haramain. Sejak era Mufti Syafi’iyah di Makkah era 1860-an, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, hingga kurun waktu seratus tahun setelahnya, sanad keilmuan ulama Betawi dan Jawa nyambung dengan keluarga Sayyid Abbas & Sayyid Alawi al-Maliki, keluarga Syatha’ Addimyathi, hingga Syekh Amin Quthbi, Syekh Hasan Masysyath, dan Syekh Umar Hamdan .

Relasi ini semakin erat jika menilik sanad keilmuan para Guru dan Muallim Betawi yang bersambung dengan generasi emas ulama Jawa di Makkah: Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Nahrawi Banyumas, dan Syekh Baqir Jugjawi serta para ulama Jawa lainnya .

Jaringan ini tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga personal dan politis. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ketika dinas intelijen militer Belanda memburu anggota kabinet Indonesia, KH. A. Wahid Hasyim (Menteri Negara) tidak keluar dari Jakarta. Ia memilih rumah para sahabatnya sebagai safe house. Di antaranya adalah rumah *Muallim Muhammad Naim di Cipete, KH. Baqir Marzuki di Rawabunga, KH. Hasbiyallah di Klender, dan KH. Abdurrazaq Ma’mun di Mampang, semuanya ulama Betawi .

Hubungan ini begitu erat sehingga Gus Dur (putra KH. A. Wahid Hasyim) menulis profil KH. Abdurrazaq Ma’mun melalui kolomnya di Majalah Tempo (1980) dengan judul “Kiai Razaq yang Terbakar”. Ia juga sering sowan (bersilaturahmi) ke KH. Zayyadi Muhajir, menantu KH. Hasbiyallah .

Relasi dengan Habaib: Dari Habib Ali Kwitang hingga Mufti Betawi

Hubungan ulama dan masyarakat Betawi dengan kalangan habaib (keturunan Nabi dari jalur Alawiyyin) juga terjalin sangat kuat. Beberapa keluarga habaib dihormati hingga anak cucunya dan menjadi rujukan dalam bidang agama .

Figur paling legendaris dalam relasi ini adalah Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi atau Habib Ali Kwitang. Ketika Jepang masuk Indonesia (1942), ia menjadi salah satu dari dua ulama yang diawasi dengan ketat oleh pemerintah pendudukan—bersama KH. M. Hasyim Asy’ari di Jawa Timur. Jepang mengawasi Habib Ali melalui Abdul Mun’im Inada dan Haji Saleh Suzuki karena keduanya memiliki kharisma dan pengaruh yang sangat kuat di Pulau Jawa .

Namun, sebelum Habib Ali, sudah ada habaib lain yang membangun fondasi keilmuan di Betawi. Habib Utsman bin Yahya (1822-1913 M) menjabat sebagai *Mufti Betawi* pada masa kolonial. Dialah yang mengajar Syekh Mukhtar Bogor sebelum berangkat ke Makkah .

Bahkan lebih awal lagi, pada abad ke-18, Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus atau Habib Luar Batang telah berdakwah di Batavia. Kisahnya sangat menarik: ia sempat ditangkap dan dipenjarakan oleh VOC karena dianggap berbahaya, tetapi dalam penjara ia justru menjadi imam salat bagi para tahanan lain—termasuk para sipir yang terheran-heran melihatnya bisa berada di dua tempat sekaligus. Ia juga meramal bahwa seorang anak Belanda yang ditepuk dadanya kelak akan menjadi Gubernur Batavia—dan ramalan itu terbukti .

Relasi ulama Betawi dengan habaib ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga organisatoris. KH. Abdurrazaq Ma’mun, KH. Hasbiyallah, hingga KH. Saifuddin Amsir—semua aktif di NU dan menjalin hubungan erat dengan para habaib .

Karakter Islam Betawi: Moderat, Berilmu, dan Terbuka

Dari pemaparan di atas, dapat ditarik benang merah tentang karakter Islam Betawi yang terbentuk melalui jaringan haji ini.

Pertama, Islam Betawi adalah Islam yang berorientasi keilmuan. Para ulama Betawi tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga menguasai berbagai disiplin ilmu—dari fikih, tauhid, tasawuf, hingga nahwu sharaf dan falak. Mereka menulis kitab, mengajar di Masjidil Haram, dan menjadi rujukan bagi para pelajar dari berbagai daerah. Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Mukhtar Bogor, dan Syekh Salim bin Sumair adalah bukti nyata tradisi intelektual yang kuat ini .

Kedua, Islam Betawi adalah Islam yang moderat dan toleran.Para ulama Betawi berhasil menyeimbangkan dimensi syariat dan tasawuf, tidak terjebak dalam ekstremisme kanan (literalisme kaku) maupun ekstremisme kiri (sinkretisme tanpa batas). Mereka adalah pewaris tradisi “neo-sufisme” yang direkonsiliasi oleh para ulama Haramain abad ke-17 dan ke-18. Karakter moderasi inilah yang membuat Islam Betawi mampu berdampingan dengan berbagai budaya dan keyakinan lain di Jakarta yang kosmopolitan .

Ketiga, Islam Betawi adalah Islam yang terbuka terhadap jaringan global. Para ulama Betawi tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang mereka miliki. Mereka terus bepergian, belajar, mengajar, dan membangun relasi—dengan ulama Jawa, habaib, dan para guru besar Haramain. Keterbukaan ini membuat mereka tidak pernah menjadi eksklusif atau tertutup, melainkan selalu menjadi bagian dari arus utama peradaban Islam global .

Keempat, Islam Betawi adalah Islam yang berpihak pada kemerdekaan dan anti-penjajahan. Sikap Syekh Salim bin Sumair yang mengkritik ulama yang dekat dengan Belanda, serta peran ulama Betawi dalam menyembunyikan para pejuang kemerdekaan seperti KH. A. Wahid Hasyim, menunjukkan bahwa mereka tidak hanya peduli pada urusan ritual, tetapi juga pada nasib bangsanya. Islam Betawi adalah Islam yang membebaskan .

Refleksi Kritis: Melanjutkan Warisan Jaringan

Setelah menelusuri sejarah panjang jaringan ulama Betawi melalui haji, pertanyaan yang harus diajukan adalah: apakah warisan ini masih hidup, atau telah menjadi nostalgia sejarah?

Fenomena yang mengkhawatirkan adalah bahwa tradisi “belajar bertahun-tahun di Haramain” telah hampir punah. Jamaah haji masa kini rata-rata hanya tinggal di Tanah Suci sekitar 40 hari—waktu yang sangat singkat untuk mentransformasikan diri menjadi ulama berjaringan global. Sistem kuota haji, pembatasan durasi tinggal, dan mahalnya biaya telah mengubah haji dari proyek peradaban menjadi sekadar ritual seremonial.

Namun, bukan berarti tidak ada harapan. Masih ada lembaga-lembaga seperti Pondok Pesantren Al-Wathoniyah Asshodriyah yang didirikan oleh KH. M. Shodri—murid dari KH. Hasbiyallah. Lembaga ini menjadi salah satu pusat konservasi tradisi keilmuan Betawi yang masih aktif hingga kini. Di sini, sanad keilmuan masih dijaga, kitab-kitab klasik masih diajarkan, dan semangat berjejaring masih dihidupkan .

Tantangan bagi generasi Betawi masa kini adalah bagaimana mengadaptasi warisan jaringan ini ke dalam konteks kekinian. Jika dulu jaringan dibangun melalui perjalanan fisik ke Makkah, sekarang jaringan bisa dibangun melalui platform digital. Jika dulu transmisi keilmuan melalui kitab-kitab berbahasa Arab dan Melayu, sekarang bisa melalui YouTube, podcast, atau e-book. Yang terpenting bukanlah mediumnya, tetapi substansi dan semangatnya: komitmen pada ilmu, keterbukaan pada jaringan global, dan keberpihakan pada kemaslahatan umat.

Sebagaimana disampaikan Azyumardi Azra, jaringan ulama Nusantara dengan Haramain adalah fondasi bagi terbentuknya “Islam Indonesia” yang moderat dan toleran . Warisan ini terlalu berharga untuk dilupakan. Tanggung jawab kita adalah melanjutkannya—dengan cara yang sesuai dengan zaman, tetapi tetap setia pada ruh perjuangan para pendahulu.

Kesimpulan

Haji dan jaringan ulama Betawi adalah dua sisi dari koin yang sama: haji sebagai perjalanan spiritual sekaligus perjalanan intelektual. Dari Syekh Junaid al-Batawi (1834) hingga Guru Marzuki (1934), para ulama Betawi menjadikan Haramain sebagai ruang pembentukan diri, tempat mereka tidak hanya menyempurnakan ibadah tetapi juga memperdalam ilmu, membangun relasi, dan mematangkan visi dakwah.

Komunitas Ashab al-Jawiyyin di Makkah menjadi ruang sosial yang memungkinkan terjadinya dialektika keilmuan antara para pelajar dari berbagai daerah Nusantara. Di sinilah terbentuk jaringan yang melampaui batas-batas etnis dan geografis—menyatukan Betawi, Jawa, dan habaib dalam satu ikatan sanad keilmuan dan perjuangan kemerdekaan.

Karakter Islam Betawi yang moderat, berorientasi keilmuan, terbuka terhadap jaringan global, dan berpihak pada kemerdekaan adalah produk langsung dari pengalaman haji yang transformatif ini. Para ulama Betawi tidak pernah menjadi eksklusif atau tertutup—mereka justru menjadi jembatan antara tradisi lokal dan kosmopolitanisme Islam.

Kini, tantangannya adalah bagaimana warisan ini tidak berhenti sebagai nostalgia sejarah, tetapi dihidupkan kembali dalam bentuk yang relevan dengan zaman. Bukan dengan nostalgia buta, tetapi dengan adaptasi kreatif. Karena pada akhirnya, yang diwariskan oleh para ulama Betawi bukanlah ritual haji itu sendiri, melainkan semangat untuk terus belajar, terus berjejaring, dan terus berkontribusi bagi kemaslahatan umat. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat[odie].

Pamulang, 21 Mei 2026.

Murodi al-Batawi