Oleh: Anisa Bella Fathia, S.Si., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Baru-baru ini, publik dihebohkan oleh berita penangkapan 16 mahasiswa FH UI (Fakultas Hukum Universitas Indonesia) yang diduga menjadi pelaku pelecehan seksual melalui grup chat media sosial milik mereka. Dalam grup tersebut, para pelaku saling mengirim pesan tidak senonoh baik merujuk kepada teman maupun dosen (Metrotvnews.com, 14/4/26).
Masyarakat pun geram dan kecewa, mengingat mereka semua mahasiswa kampus ternama di Indonesia ditambah mengenyam pendidikan ilmu hukum yang seharusnya lebih paham konsekuensi dari perbuatan tidak senonohnya.
Berita tersebut salah satu potret kehidupan hari ini, Laki-laki dewasa yang secara usia seharusnya sudah matang dalam berpikir, dan memiliki kesempatan kuliah di kampus terbaik malah melakukan hal yang tidak bermoral. Bisa-bisanya melakukan obrolan vulgar, objektifikasi tubuh perempuan, lelucon cabul terhadap sesama teman mahasiswi bahkan dosen perempuannya. Nauzubillah.
Itu semua terjadi karena kehidupan kita hari ini dikendalikan oleh sistem peraturan sekularisme yakni kehidupan yang memisahkan aturan Allah. Aturan Allah hanya mengatur perkara ibadah, selebihnya manusia yang membuat aturan sehari-hari. Kebiasaan, tingkah laku, sudut pandang menilai kehidupan, standar perbuatan, bahkan tolak ukur kebahagiaan pun ditentukan oleh mayoritas masyarakat.
Kemudian perubahan zaman pun turut memperparah anjloknya fitrah manusia, terutama peran laki-laki. Di zaman sebelum adanya internet, kita bisa perhatikan anak laki-laki sejak kecil bermain bola, kelereng, lari-lari, memanjat dan segala bentuk permainan yang mengasah ketangkasan mereka. Mereka merasa hebat ketika bisa menaklukkan sesuatu, menyelesaikan masalah dan mendapatkan validasi ketika mampu berkontribusi.
Namun, pengaruh internet dan games tanpa sadar mematikan fitrah mereka. Anak laki-laki yang sedari kecil diberikan screentime pada akhirnya mereka kehilangan arah setelah dewasa. Perasaan merasa hebat beralih ketika bisa memenangkan game, bahagia ketika mendapatkan banyak like, dan merasa bisa menaklukkan wanita ketika melihat konten porno. Padahal itu semua hanya kehebatan ilusi.
Seorang penulis dan founder pembelajaran anak, Ario Muhammad dalam Instagramnya (ario_muhammad87, 5/4/26) menjelaskan riset, anak laki-laki yang terbiasa dengan dopamine instan (game, pornografi, scrolling berlebihan) cenderung mengalami penurunan kemampuan fokus, kontrol diri dan motivasi jangka panjang (Twenge et al., 2019).
Generasi pria hari ini tak lepas dari gagalnya pengasuhan masa kecil, fatherless dan gagalnya sistem kehidupan. Jika sedari kecil ia tak dibentuk untuk menjadi laki-laki sejati, ditambah dibesarkan di tengah kehidupan yang liberal dan sekuler seperti saat ini, maka kriminalitas akan terus tumbuh setiap hari.
Kita sudah sering lihat, betapa emosinya seorang anak kecil ketika ibunya mengambil gadget dari tangannya, berapa banyak remaja laki-laki yang terlibat aksi tawuran antar sekolah, terlibat geng motor bahkan menjadi pemakai dan pengedar sabu. Ketika dewasa, menjadi pencuri, pelaku zina, KDRT dan kejahatan lainnya. Padahal laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, pelindung keluarganya dari api neraka. Sistem kehidupan hari ini telah gagal membentuk kepribadian laki-laki sejati.
Berbeda halnya dengan sistem Islam, Islam mengatur bagaimana fungsi dan kewajiban seorang lelaki. Lelaki dan perempuan memiliki kodrat dan perannya masing-masing. Bukan untuk bersaing, bukan untuk menjadi sejajar. Namun, dengan jalannya masing-masing bersama-sama untuk hidup dengan tujuan meraih ridha Allah.
Generasi pria dalam Islam dijaga sedari kecil, dipersiapkan untuk menjadi khalifatul fil Ardhi. Menjadi pemimpin di muka bumi. Keluarga mempersiapkan, negara menciptakan sistem-suasana tumbuh kembang yang baik. Sehingga dalam Islam, kasus kriminalitas sangat minim terjadi.[]




