Meriahkan Hari Guru 2025, KGPS Luncurkan Antologi Puisi Ke-13: “Mengajar dengan Cinta, Menulis dengan Hati”

Meriahkan Hari Guru 2025, KGPS Luncurkan Antologi Puisi Ke-13: “Mengajar dengan Cinta, Menulis dengan Hati”

MJ. Jombang – Peringatan Hari Guru 2025 menjadi lebih bermakna bagi Komunitas Guru Penulis Sidoarjo (KGPS). Pada Minggu siang, 30 November, komunitas ini kembali meluncurkan karya antologi puisi terbaru mereka yang ke-13 bertajuk “Mengajar Dengan Cinta, Menulis Dengan Hati”. Acara digelar secara sederhana namun hangat di kompleks agrowisata dan pendidikan De Durian Park, Wonosalam, Jombang.

Peluncuran buku tersebut dihadiri sekitar 20 anggota KGPS dan sejumlah tokoh pendidikan. Di antara mereka hadir CEO De Durian Park sekaligus pemerhati pendidikan dan jurnalis senior, Yusron Aminoellah, MM, Rektor UPN “Veteran” Jawa Timur Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi, MMT, serta Ketua Perwakilan YPLP PGRI Jawa Timur, Dr. Dwi Retnani Sri Narwati, M.Si.

Ruang Ekspresi Guru, Ruang Belajar Publik
Antologi ini ditulis oleh 17 anggota KGPS serta 11 penulis tamu dari beragam latar belakang-guru, praktisi media, akademisi, hingga siswa sekolah. Keragaman ini menguatkan posisi antologi sebagai ruang ekspresi sekaligus ruang belajar lintas generasi.

Ketua KGPS, Endang Kusniati, S.Pd, menegaskan pentingnya menghadirkan cinta dalam proses pendidikan, salah satunya melalui karya sastra. “Guru bukan hanya mengajar pengetahuan, tetapi juga menghadirkan kehangatan dan ketulusan. Puisi menjadi wadah untuk itu,” ujarnya.

Yusron Aminoellah memberikan apresiasi khusus kepada para guru yang tetap produktif berkarya di tengah kesibukan mengajar. “Menulis antologi hingga edisi ke-13 bukan pekerjaan ringan. Ini bukti bahwa dedikasi mereka tidak hanya untuk kelas, tetapi juga untuk literasi publik,” katanya.

Rektor UPN Jawa Timur, Prof. Akhmad Fauzi, turut menambahkan bahwa menulis puisi memerlukan perenungan mendalam, sesuatu yang menurutnya sangat relevan dengan jiwa pendidik. “Karya mereka patut menjadi inspirasi bagi generasi muda,” tuturnya.

Literasi Guru dan Tantangan Zaman Digital
Dalam sesi Bincang Santai bertema “Mengembangkan Kreasi dan Energi Guru”, jurnalis senior dan penulis serial sinetron TVRI Aku Cinta Indonesia (ACI), Imung Mulyanto, menyinggung tantangan utama pendidikan masa kini: derasnya arus dunia maya. Menurutnya, media sosial dan konten negatif semakin mudah diakses peserta didik tanpa filter.

“Tugas guru hari ini tidak lagi sekadar mengajar, tetapi membekali peserta didik dengan kepekaan hati,” kata Imung. Ia menekankan bahwa cinta dan empati menjadi fondasi menghadapi derasnya informasi digital.

Imung juga membacakan salah satu puisinya yang ikut terhimpun dalam antologi tersebut. Potongan puisinya menyentil persoalan moral, kecerdasan yang disalahgunakan, hingga ironi sosial yang dekat dengan keseharian:

Jangan sekolah anakku!/ kalau hanya ingin pandai/ kalau kepintaran hanya untuk membodohi sesama…
Jangan sekolah anakku!/ kalau hanya ingin jadi ahli strategi/ karena semua koruptor pandai berstrategi…

Antologi ini tidak hanya merayakan Hari Guru, tetapi juga merayakan semangat para pendidik yang tidak berhenti menulis, belajar, dan menginspirasi.