Salah Membaca Muhammad, Gagal Membaca Manusia Sebuah Kritik Atas Kegagalan Peradaban

Oleh: Ridho Rizkia Putra

Salah Membaca Muhammad, Gagal Membaca Manusia  Sebuah Kritik Atas Kegagalan Peradaban

MJ. Jakarta – Ada satu ironi besar dalam sejarah pemikiran manusia: tokoh yang pengaruhnya paling luas dan paling dalam justru sering kali menjadi tokoh yang paling disalahpahami secara struktural.

Semakin besar dampaknya terhadap arah peradaban, semakin kuat kecenderungan manusia untuk mereduksinya ke dalam potongan-potongan sempit yang aman bagi prasangka, ideologi, atau kepentingan zamannya. Kesalahan ini bukan sekadar salah membaca satu tokoh.

Ia adalah kegagalan epistemik dalam memahami bagaimana manusia, nilai, dan peradaban saling berkelindan.

Di titik inilah sosok Muhammad berdiri sebagai ironi sejarah yang hampir sempurna: manusia yang mengubah lintasan dunia serta peradaban, tetapi lebih sering dipahami secara dangkal, sempit, dan distortif.

Ketika The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History menempatkan Muhammad pada peringkat pertama sebagai manusia paling berpengaruh dalam sejarah,

Penilaian itu tidak lahir dari ruang iman, dakwah, atau loyalitas religius penulis.

Penilaian tersebut datang dari Michael H. Hart, seorang ilmuwan sekuler dan rasionalis yang skeptis terhadap klaim wahyu.

Justru karena itu penilaian ini relevan bagi pembacaan manusia dan peradaban—bukan sebagai klaim teologis,

Melainkan sebagai fakta historis tentang daya ubah manusia terhadap dunia. Hart tidak menilai Muhammad karena ia percaya kepadanya,

Melainkan karena ia tidak bisa menghindari fakta pengaruh historisnya. Yang ia ukur bukan kesucian personal, melainkan daya ubah terhadap arah sejarah manusia.

Ia sampai pada kesimpulan yang terasa tidak nyaman bagi banyak orang modern: Muhammad adalah satu-satunya tokoh dalam sejarah yang berhasil secara luar biasa sekaligus di dua ranah yang hampir selalu terpisah—ranah spiritual dan ranah sosial-politik.

Kalimat ini sering dikutip, tetapi jarang sungguh-sungguh direnungkan.

Padahal implikasinya mengguncang fondasi cara kita membaca sejarah, agama, dan bahkan manusia itu sendiri.

Hampir semua tokoh besar sejarah unggul hanya di satu dimensi. Filsuf melahirkan ide besar tetapi gagal membentuk masyarakat.

Raja dan penakluk membangun kekuasaan tetapi nilai mereka rapuh dan sementara.

Para Nabi sebelumnya membawa visi spiritual yang agung, tetapi implementasi sosialnya terbatas oleh ruang dan waktu. Muhammad adalah anomali sejarah.

la menyatukan makna, nilai, komunitas, dan struktur hidup dalam satu tarikan sejarah yang koheren.

Namun selama berabad-abad, Muhammad hampir selalu dibaca secara terpotong.

Ia direduksi menjadi nabi ritual semata, atau pemimpin politik semata, atau tokoh Arab abad ke-7,

Atau simbol konflik modern. Padahal tokoh yang hanya hidup dalam satu dimensi akan mati bersama zamannya. Muhammad tidak.

Ia melintasi zaman, geografi, budaya, dan sistem sosial.

Reduksi ini tidak lahir dari kekurangan data sejarah, melainkan dari ketakutan struktural manusia untuk berhadapan dengan figur yang hidup dalam terlalu banyak dimensi sekaligus.

Tokoh yang hanya hidup dalam satu peran mudah diklasifikasikan; tokoh yang hidup secara utuh justru mengganggu kategori-kategori yang kita bangun untuk merasa aman.

Di sinilah reduksi terhadap Muhammad menjadi gejala kegagalan membaca manusia secara menyeluruh.

Reduksi ini datang dari berbagai arah.

Dari satu sisi, muncul reduksi apologetik yang mensterilkannya: Muhammad disakralkan tanpa konteks,

Dijauhkan dari konflik, dilema, dan dinamika manusiawi. Ia menjadi figur yang dipuja tetapi tidak hidup, dihormati tetapi tidak dapat diteladani secara nyata.

Kesalehan dipertahankan, tetapi kemanusiaan dikorbankan. Padahal pada dinamika antara wahyu dan realitas itulah relevansi Muhammad sebagai manusia historis bekerja.

Dari sisi lain, ada reduksi orientalis dangkal yang melihat Muhammad semata sebagai produk dinamika Arab abad ke-7 atau ekspresi ambisi politik.

Pendekatan ini mungkin terasa rasional, tetapi gagal menjelaskan satu hal mendasar. mengapa ajarannya bertahan lintas abad dan lintas budaya. Ia menjelaskan asal-usul, tetapi tidak menjelaskan daya tahan.

Ia menjelaskan konteks, tetapi gagal menjelaskan trans-konteks. Reduksi ini runtuh oleh fakta keberlanjutan historis yang justru ingin ia singkirkan.

Pada puncak distorsinya, reduksi dari sisi politis, Muhammad direduksi menjadi simbol konflik modern.

Ia dipaksa memikul dosa sejarah yang bahkan lahir berabad-abad setelah wafatnya.

Dijadikan alat pertarungan ideologi kontemporer yang tidak pernah ia rancang.

Dalam pembacaan ini, Muhammad tidak lagi dibaca sebagai manusia atau pembentuk peradaban.

Yang tersisa hanyalah simbol konflik. Ketika seorang manusia direduksi menjadi simbol, yang hilang bukan hanya kebenaran sejarah, tetapi juga pelajaran kemanusiaan yang seharusnya diwariskan.

Ketiga bentuk reduksi ini sering diperlakukan seolah saling bertentangan.

Padahal secara epistemik, ketiganya berangkat dari kegagalan yang sama:

Ketidakmauan untuk melihat Muhammad sebagai manusia yang hidup secara utuh.

Reduksi-reduksi ini bukan hanya menyempitkan pemahaman tentang Muhammad, tetapi juga mempersempit kemungkinan manusia itu sendiri.

Di titik inilah salah membaca Muhammad berubah menjadi kegagalan membaca manusia.

Ketiganya memiliki satu kesamaan mendasar: ketakutan untuk melihat Muhammad sebagai manusia yang utuh. Bukan karena kekurangan sumber sejarah,

Melainkan karena manusia utuh adalah figur yang paling mengganggu kategori-kategori modern.

Ia tidak mudah dipetakan, tidak jinak bagi ideologi tertentu, dan tidak bisa disimpan rapi dalam satu peran.

Figur seperti inilah yang memiliki spektrum fungsi penuh, dan justru di situlah kunci relevansinya lintas ruang dan waktu.

Muhammad tidak pernah hidup dalam satu peran.

Ia membentuk visi metafisik tentang Tuhan, makna hidup, dan kehidupan setelah kematian.

Namun pada saat yang sama, Muhammad juga menjadi arsitek sosial yang mengubah masyarakat kesukuan menjadi komunitas etis.

Ia bukan sekadar pembuat hukum, tetapi legislator nilai yang menanamkan prinsip hidup.

Ia memimpin di tengah krisis—masa-masa boikot, pengkhianatan, konflik bersenjata, migrasi—sekaligus hidup sebagai manusia domestik.

Seorang yatim, suami, ayah, dan sahabat.

Kemanusiaan inilah yang sering dihapus oleh reduksi, padahal justru di situlah daya teladannya bekerja.

Potret ini tidak lahir dari klaim iman semata, melainkan dari fakta sejarah yang dapat dibaca lintas disiplin:

sosiologi mencatat transformasi komunitasnya, antropologi membaca perubahan struktur nilai,

Politik menelusuri lahirnya tata kelola, dan psikologi kepemimpinan menemukan figur dengan integritas konsisten dalam tekanan ekstrem.

Upaya mereduksi Muhammad agar muat dalam satu kategori bukanlah penyederhanaan ilmiah. Ia adalah penyempitan horizon manusia.

Yang membuat Muhammad unik bukan sekadar bahwa ia menerima wahyu, melainkan apa yang ia lakukan dengan wahyu itu.

Wahyu tidak berhenti sebagai pengalaman spiritual personal yang terisolasi di ruang batin,

Tetapi diterjemahkan menjadi etika sosial, struktur komunitas, prinsip hukum, dan arah peradaban.

Nilai tidak berhenti di mimbar moral, tetapi menjadi sistem hidup yang diwariskan.

Spiritualitas tidak melarikan diri dari dunia. Ia menata dunia.

Karena itulah ajarannya hidup di padang pasir sekaligus kota megapolitan, dijalani oleh petani hingga ilmuwan,

Membentuk individu sekaligus negara, dan tetap bertahan meski kekuasaan politik Islam naik dan runtuh.

Pemimpin yang ajarannya hanya cocok untuk satu konteks akan punah bersama konteks itu ;

Muhammad justru semakin relevan ketika konteks berubah.Di sinilah kemanusiaannya menjadi kunci keberlangsungan peradaban.

Muhammad tidak membutuhkan pembelaan. Ia membutuhkan pembacaan yang jujur, utuh, dan dewasa.

Ketika ia direduksi, ia menjadi simbol konflik. Ketika ia dipahami, ia kembali menjadi cermin peradaban.

Dan di sinilah letak kegagalan peradaban modern itu sendiri. Bukan karena ia kekurangan pengetahuan, teknologi, atau kekuasaan,

Melainkan karena ia gagal membaca manusia secara utuh. Peradaban yang hanya mampu membaca manusia sebagai individu spiritual tanpa struktur sosial akan melahirkan moral tanpa daya.

Peradaban yang membaca manusia sebagai aktor politik tanpa fondasi nilai akan melahirkan kekuasaan tanpa makna.

Peradaban yang memisahkan iman dari akal, nilai dari sistem, dan spiritualitas dari sejarah, pada akhirnya hanya mampu memproduksi fragmentasi—bukan arah.

Salah membaca Muhammad adalah gejala dari kegagalan yang lebih dalam:

Kegagalan peradaban membaca kemungkinan tertinggi manusia. Selama Muhammad terus direduksi, manusia akan terus direduksi.

Dan selama manusia direduksi, peradaban—betapapun maju teknologinya—akan terus berjalan tanpa kompas, tanpa makna, dan tanpa arah yang layak disebut kemajuan.

Catatan kaki

¹ Michael H. Hart, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, New York: Hart Publishing.

Editor: Red