MJ. Garut – Pada acara Kemah Pemuda di Puncak Guha, Kabupaten Garut, Apit Sulaeman, yang akrab dipanggil Mang Apit, menyambut Majalah Jakarta untuk berbincang tentang perjalanannya menggerakkan literasi di daerahnya. Pemuda kelahiran Garut, 4 November 1992 ini, merupakan sosok inspiratif yang kini menjabat sebagai Presiden Sabuk (Saung Buku) TBM Cipeundeuy, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut. Di mata anak-anak hingga orang dewasa, nama Mang Apit bukan sekadar sebutan, tetapi simbol dedikasi dan semangat berbagi ilmu.
Lahir dari keluarga sederhana, Mang Apit adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Orang tuanya, Pak Jaenudin dan Ibu Komala, tak mampu menyekolahkan Mang Apit hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, kendala finansial tidak memupuskan hasratnya untuk belajar dan membagikan ilmu kepada masyarakat.
Menariknya, gelar “presiden” yang disandangnya adalah bentuk penghargaan dari masyarakat, bukan melalui kontestasi demokrasi formal yang sarat biaya dan kerap menimbulkan polemik. Ia menjadi pemimpin tanpa harus terjebak dalam kompleksitas politik yang penuh kontroversi.
Sejak mendirikan TBM Cipeundeuy pada tahun 2018, Mang Apit telah berupaya keras untuk menumbuhkan minat baca dan memperkenalkan literasi di kalangan masyarakat Bungbulang. Melalui berbagai kegiatan, seperti membaca bersama, diskusi buku, hingga kemah literasi, Mang Apit dengan gigih merangkul pemuda dan anak-anak agar semakin mencintai ilmu pengetahuan.
Pada acara Kemah Pemuda yang berlangsung pada 26-27 Oktober 2024 ini, ia kembali mengajak generasi muda untuk berani bermimpi dan berpikir kritis melalui dunia literasi. Kehadiran majalahjakarta.id pada acara tersebut turut memperkuat semangat literasi yang telah dirintis Mang Apit, sekaligus memperkenalkan kiprahnya di tengah masyarakat sebagai sosok yang berdedikasi untuk mencerdaskan anak bangsa dari pelosok Garut.
“Kemampuan kita untuk bermimpi dan berpikir kritis itu penting, apalagi di daerah terpencil seperti Cipeundeuy. Masyarakat berhak mendapat akses ilmu dan pendidikan, meski kami jauh dari pusat kota,” ujar Mang Apit.
Di bawah langit malam Pantai Selatan Jawa Barat pada 26 Oktober, suasana literasi terasa begitu mistis. Hembusan angin bercampur suara ombak yang menggulung, ditingkahi musik pelan dari handphone para peserta, menciptakan kehangatan tersendiri di antara mereka yang hadir. Malam itu, kegiatan Kemah Pemuda digelar untuk menghidupkan kembali semangat literasi dan memperingati nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda.
Apit Sulaeman, yang dikenal sebagai Presiden Sabuk (Saung Buku) TBM Cipeundeuy, mendirikan tempat ini pada 4 November sebagai pusat kegiatan membaca bagi masyarakat. Tidak hanya melayani pengunjung di Saung, Apit sering berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya, membawa buku dan semangat belajar ke pelosok-pelosok. Setiap hari, ia memulai aktivitas literasi di Saung pukul 09:00 hingga pukul 15:00, menyambut siapa saja yang datang untuk membaca, berdiskusi, atau sekadar menikmati secangkir kopi dan obrolan ringan.
Dedikasi Apit tidaklah sia-sia. Hingga saat ini, ia berhasil mengumpulkan lebih dari 1.600 buku di Saung Bukunya, dengan berbagai jenis yang sesuai minat beragam masyarakat. Anak-anak sekolah dasar gemar membaca buku dongeng, sementara para remaja tertarik pada novel. Adapun orang tua lebih memilih buku-buku praktis, terutama yang berkaitan dengan pertanian dan kelautan—pengetahuan yang langsung bisa mereka manfaatkan dalam keseharian.
Saat malam semakin larut, lagu “Dreamer” dari Ozzy Osbourne terdengar, menyatu dengan deru ombak yang berdentum keras, seolah menggambarkan kerasnya kehidupan yang harus dihadapi dengan bijak, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang kian menantang. Apit mengungkapkan bahwa acara Kemah Pemuda ini digelar sebagai bentuk refleksi atas nilai-nilai Sumpah Pemuda.
“Tujuan digelarnya acara ini adalah untuk merenungkan kembali nilai-nilai persatuan, semangat pemuda, dan pentingnya literasi sebagai jembatan perubahan,” ujar Apit, sambil menatap ke arah laut.
Sebagai Ketua Panitia Kemah Pemuda 2024, Apit Sulaeman merasa syukur dan haru. Antusiasme masyarakat di luar perkiraan—para pemuda dari berbagai wilayah berkumpul dengan semangat yang tinggi. Saat coffee break pagi itu, Anang, selaku Koordinator Acara Kemah Pemuda 2024, mengungkapkan kepada Majalah Jakarta bahwa para peserta datang dari empat kecamatan di Kabupaten Garut, yaitu Bungbulang, Caringin, Mekarmukti, dan Cikelet, termasuk beberapa pemuda dari Desa Sukahaji, Kecamatan Sukawening.
Selain itu, hadir pula kader dari PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), alumni Permata Intan Garut, Mahbub Djunaidi Centre, serta para pelaku UMKM. Perkumpulan ini menjadi ajang berharga bagi para pemuda untuk bertukar informasi mengenai potensi wilayah mereka. Salah satunya, Novan, pemuda asal Kecamatan Caringin, mengungkapkan bahwa kapulaga dan kopi merupakan hasil alam yang melimpah di desanya, sumber daya yang dapat menjadi potensi ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Ketika ditanya mengapa ia begitu berdedikasi mengabdi pada masyarakat, khususnya kepada anak-anak, sambil membawa buku ke berbagai kampung, Apit, Presiden Sabuk (Saung Buku), dengan ringan menjawab, “Saya hanya menjalankan tugas negara yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa!” Meski kata-katanya sederhana, raut wajahnya memancarkan kegelisahan dan tekad yang mendalam untuk masa depan generasi muda.
Acara Kemah Pemuda 2024 ditutup tepat pukul 10 pagi, dan semua peserta mulai berkemas untuk kembali ke rumah masing-masing. Meski perjalanan cukup jauh, semangat dan kebersamaan yang dirasakan membuat lelah terasa tak berarti. Kemah Pemuda ini bukan hanya sebuah acara, melainkan perjalanan bersama dalam mewujudkan cita-cita bangsa melalui semangat literasi dan cinta pengetahuan di tengah-tengah masyarakat Garut.












