Oleh: Ayyuhanna Widowati. S.E.I., Guru di Depok
Generasi Alpha adalah anak-anak yang lahir di tengah derasnya arus teknologi digital. Sejak usia dini, mereka sudah akrab dengan gawai, internet, dan berbagai platform digital. Dunia mereka bukan lagi sekadar halaman rumah atau ruang kelas, tetapi juga ruang virtual yang luas tanpa batas. Di satu sisi, ini membawa peluang besar untuk belajar dan berkembang. Namun di sisi lain, ada tantangan serius yaitu bagaimana mendidik mereka agar tetap memiliki kepekaan, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan?
Teknologi memang memudahkan banyak hal. Anak-anak dapat mengakses ilmu dengan cepat, belajar secara interaktif, bahkan mengembangkan kreativitas melalui berbagai media digital. Akan tetapi, jika tidak diimbangi dengan pendampingan yang tepat, teknologi bisa membuat anak menjadi pasif, kurang bersosialisasi, bahkan kehilangan kemampuan memahami emosi orang lain.
Di sinilah peran orang tua dan pendidik menjadi sangat penting. Mendidik generasi alpha harus disertai penanaman aqidah atau keimanan dan juga akhlak. Anak perlu diajarkan adab, tanggung jawab, dan cara berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Sentuhan manusia seperti perhatian, kasih sayang, dan komunikasi yang hangat tidak bisa digantikan oleh layar digital.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan dengan menciptakan aturan antara dunia digital dan dunia nyata yang disepakati, tentunya aturan-aturan tersebut berasal dari hukum syara. Di dunia nyata anak sudah dipahamkan Allah memberikan perintah-perintah yang wajib dijalankan seperti shalat, puasa di bulan ramadhan, jujur, dan lain sebagainya.
Selain perintah, ada larangan yang harus ditinggalkan seperti berbohong, membully teman, dan lain sebagainya. Dalam dunia maya anak juga mendapatkan edukasi literasi media dan digital, dimana anak diajari kemampuan berpikir kritis untuk membedakan informasi, mengenali konten aman dan tidak aman, juga memahami etika digital.
Orang tua dapat menetapkan waktu khusus tanpa gawai, misalnya hari anak-anak aktif sekolah, saat makan bersama atau menjelang tidur. Momen-momen ini bisa digunakan untuk berbicara dari hati ke hati, mendengarkan cerita anak, dan membangun kedekatan emosional.
Selain itu, penting juga untuk memberikan teladan. Anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua terlalu sibuk dengan ponsel, anak pun akan meniru. Sebaliknya, jika orang tua menunjukkan kebiasaan membaca, berdiskusi, dan berinteraksi dengan penuh perhatian, anak akan tumbuh dengan pola yang sama.
Membentuk kepribadian Islam dengan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) harus menjadi prioritas. Nilai-nilai seperti kejujuran, empati, disiplin, dan tanggung jawab perlu ditanamkan sejak dini. Teknologi bisa menjadi alat bantu, tetapi bukan pengganti peran manusia dalam membentuk kepribadian anak.
Juga dukungan dari negara amat sangat dibutuhkan sebagai penanggung jawab yang senantiasa mengontrol konten media dan lingkungan sosisl agar tidak merusak moral anak.
Sehingga tantangan mendidik generasi Alpha bukanlah tentang melawan teknologi, melainkan tentang mengelolanya dengan bijak. Anak-anak tetap membutuhkan pelukan, nasihat, dan kehadiran nyata dari orang-orang terdekatnya. Dengan keseimbangan antara kemajuan digital dan sentuhan manusia, kita dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga kuat secara moral dan emosional.[]


